
Hari pembukaan butik telah tiba. Walaupun sangat sederhana dan tidak sesuai rencana, Mira sudah cukup bahagia.
Beberapa orang yang tidak disangka akan datang, mereka datang termasuk mantan suaminya, Nanda. Fara berusaha menjauhkan Mira dari Nanda, namun tetap saja selalu mencari kesempatan mendekati Mira.
" Mira, selamat atas pembukaan butik baru kamu. Seharusnya kamu kasih tahu aku agar aku bisa ikut bantu-bantu dan mungkin bisa investasi juga," kata Nanda ramah.
" Terimakasih atas tawarannya, tapi maaf tidak diperlukan," jawab Mira.
" Mira..."
Seseorang memanggil namanya dengan lembut. Jelas, itu suara ...pak dokter. Mira segera menoleh mencari arah sumber suara. Mira tersenyum bahagia melihat lelaki yang dicintainya hadir dihadapannya.
Mira mendekati Raka yang tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya seolah menggoda Mira.
" Katanya kemaren tidak bisa datang...?" tanya Mira manja.
" Aku mau kasih kejutan untuk calon istriku tercinta," jawab Raka.
Raka membuka kedua tangannya memberi isyarat.
" Aku sangat merindukanmu..." kata Raka.
Mira tersenyum dan datang kedalam pelukan dokter Raka. Mereka berpelukan melepas rindu.
" Aku juga...," balas Mira.
Nanda sejak tadi memperhatikan mantan istrinya yang sedang berpelukan dengan dokter Raka. Nanda tampak marah dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
"Jika tidak ada Raka, pasti Mira sudah kembali kepadanya." Pikiran itu kini ada dikepalanya.
Nanda beranjak pergi dengan hati kesal. Fara hanya tersenyum melihat Nanda pergi dengan kesal.
Usai acara, Raka mengajak Mira duduk di ruang kerja Mira yang baru. Ruangannya cukup besar, lebih besar dari ruang kerjanya dikampung dulu.
" Cantik..." kata Raka.
Raka menatap wanita didepannya yang tampak anggun dengan balutan gaun berwarna biru. Wajahnya terlihat cantik dengan hanya riasan tipis saja.
" Jangan umbar rayuan disini, tidak akan mempan," kata Mira sambil tersenyum malu.
" Benarkah...?"
Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Mira yang mulai memerah. Sangat dekat hingga hampir menyentuh wajah Mira. Mira memejamkan matanya karena mengira Raka akan menciumnya, tapi ternyata Raka hanya menggodanya saja. Mira menjadi malu.
" Dari dekat lebih cantik," bisik Raka tepat di telinga Mira.
__ADS_1
Mira lalu menatap Raka yang kemudian terlihat serius duduk didepannya.
" Ada apa? Apakah ada yang salah?" tanya Mira
" Tidak ada. Oh... ya, aku datang bersama bibi Mei. Tapi dia minta langsung turun dirumah saja," kata Raka. " Aku yang memintanya untuk membantumu mengasuh anak-anak. Dengan kesibukanmu mengurus butik ini kamu pasti sangat kerepotan."
" Terimakasih atas perhatianmu. Aku juga ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," kata Mira.
" Apa itu?"
" Apa yang aku bicarakan dengan ayahmu dulu saat kamu mengajakku kerumahmu. Ayahmu memintaku untuk membujukmu berhenti bekerja sebagai dokter dan membujukmu agar mau meneruskan usaha ayahmu," kata Mira agak ragu.
" Aku sudah tahu. Ayah sudah memberitahuku dan aku sudah memberinya jawaban atas keinginannya itu," jawab Rak.
" Benarkah, lalu apa jawabanmu?" tanya Mira penasaran.
" Sederhana saja. Aku berjanji akan memberikannya sang pewaris untuk mengelola perusahaannya kelak," jawab Raka sambil tersenyum.
Mira sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Raka.
" Sang pewaris...Maksudmu ...?"
" Iya...Sang pewaris yang akan kamu lahirkan nanti," kata Raka tersenyum.
" Anak... secepat itu...?"
" Terserah kamu sajalah maunya apa. Aku juga tak ingin ... menolak." balas Mira.
Raka tersenyum.
" Aku juga sudah mengurus pindah kerja. Setelah menikah aku tak ingin jauh darimu. Dan akhir pekan nanti kita temui orangtuaku lagi, kali ini kamu bawa anak-anak sekalian."
" Ternyata semua sudah kamu rencanakan. Aku bisa apa lagi selain mengikuti rencanamu."
" Kalau begitu sudah deal ya..."
Mira dan Raka tertawa bahagia. Akhirnya Mira bisa bernafas lega.
***
Akhir pekan Mira dan anak-anak pergi menemui orangtua Raka. Mira memberanikan diri memperkenalkan ketiga anaknya pada orangtua Raka.
" Jadi ini ketiga anakmu?" tanya ibunya Raka.
" Benar bu, ini Kasih, Bagus dan yang bungsu bernama Awan," jawab Mira.
__ADS_1
" Nenek...Apa mau Kasih pijit. Kasih pandai lho dalam memijit," tanya Kasih sambil berdiri dibelakang ibunya Raka siap memijit.
" Aku juga bisa memijit kaki nenek," sahut Bagus sambil berdiri.
" Aku juga bisa memijit tangan nenek," sambung Awan.
Mereka bertiga beraksi memijit kepala, tangan dan kaki ibunya Raka yang sudah mereka panggil nenek. Padahal Mira tidak pernah mengajari mereka bersikap begitu.
Raka tersenyum senang melihat kelakuan ketiga anak itu. Rupanya Raka yang sudah mengajari mereka untuk membuat ibunya senang. Dan kelihatannya itu cukup berhasil membuat ibunya Raka terkesan dan menyukai mereka bertiga.
Tanggal pernikahan Raka dan Mira akhirnya ditentukan. Satu bulan setelah hari ini. Waktu yang cukup mendesak bagi mereka untuk segera membuat rencana persiapan. Membuat surat undangan, rias pengantin dan lain-lainnya. Mira sebenarnya tidak ingin pesta yang meriah, cukup acara akad nikah saja sudah cukup. Namun Raka ingin membuat Mira menjadi pengantin yang paling bahagia dan paling cantik.
Undangan pernikahan telah disebar, termasuk juga undangan untuk sang mantan, Nanda. Nanda sangat marah lalu merobek-robek surat undangan itu ketika dia membuka surat undangan yang ternyata adalah undangan pernikahan dari mantan istrinya, Mira dengan sang dokter.
Malamnya Nanda mabuk berat dan datang ke rumah Mira sambil berteriak-teriak membuat Mira dan anak-anaknya ketakutan.
" Mira...keluarlah. Katakan padaku bahwa undangan itu tidak benar. Kamu tidak akan menikahi dokter itu kan..." teriak Nanda.
" Bibi Mei, bagaimana ini bi. Saya tidak berani keluar," kata Mira.
" Apakah kita harus menelepon pak dokter bu Mira?" tanya bibi Mei.
" Entahlah, apa perlu merepotkan pak dokter," jawab Mira bingung.
" Bunda, Awan takut..." kata Awan sambil memeluk bundanya.
" Bagus juga takut bunda, kenapa papa seperti itu..." kata Bagus juga ikut memeluk bunda.
" Kasih juga takut bunda, bunda jangan keluar.Jangan buka pintu..." kata Kasih pada bundanya.
" Kalian tenang saja. Sekarang kalian masuk kekamar kalian masing-masing. Bunda akan mencari pertolongan," kata Mira pada ketiga anaknya.
Bibi Mei membawa ketiga anak Mira masuk kedalam kamar masing-masing. Sementara Mira berpikir keras bagaimana cara membuat Nanda pergi.
Sebelum selesai berpikir tiba-tiba suara Nanda sudah tidak terdengar lagi. Mira penasaran apakah Nanda sudah pergi atau dia malah pingsan didepan rumahnya.
Pelan-pelan dia mengintip keluar, memang Nanda sudah tidak terlihat lagi. Mira semakin penasaran dengan keberadaan Nanda. Mira berniat keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi bibi Mei mengejutkannya.
" Bu Mira, ibu jangan keluar. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada bu Mira. Apa yang akan bibi katakan pada pak dokter?" kata bibi Mei membuat Mira berhenti melangkah.
" Bibi, aku hanya penasaran kenapa tiba-tiba suara mas Nanda tiba-tiba hilang. Bibi temani aku keluar ya...?" pinta Mira.
" Baiklah bu Mira, tapi kita harus hati-hati," jawab bibi Mei.
Mereka perlahan membuka pintu dan mengintip keluar. Sepi tak ada suara. Lalu mereka melangkah keluar. Mereka mencari keberadaan Nanda namun mereka tidak menemukannya. Nanda hilang tanpa jejak.
__ADS_1
Mira dan bibi Mei menarik nafas lega. Meski dibenak Mira bertanya-tanya siapa yang membawa Nanda pergi.