Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Merawat anak mantan madu


__ADS_3

Nanda menghentikan mobilnya disebuah jalanan yang sepi. Dia tidak bisa berpikir, pikirannya kacau. Sementara Bagus masih saja menangis membuatnya tambah pusing.


Nanda teringat orangtuanya. Nanda berpikir, lebih baik Bagus tinggal dengan orangtuanya yang juga adalah kakek dan neneknya Bagus. Nanda mulai tersenyum lega karena sudah menemukan solusinya.


Sampai dirumah orangtuanya, Nanda membujuk Bagus agar tidak menangis lagi dan bersedia turun dari mobil. Namun Bagus tak berhenti menangis juga tidak bersedia turun dari mobil. Nanda akhirnya membiarkan Bagus tetap didalam mobil.


Nanda memohon kepada kedua orangtuanya untuk bersedia merawat Bagus. Tapi mereka menolak karena mereka sudah tua. Ayahnya juga sering sakit-sakitan dan ibunya harus merawat ayahnya. Jadi tidak mungkin bisa merawat Bagus, takutnya Bagus akan terlantar dan tak terurus.


Nanda jadi pusing lagi. Pilihan terakhirnya adalah Mira. Bagaimanapun caranya dia harus bisa membuat Mira bersedia merawat Bagus. Karena tidak ada tempat lain yang bisa menampung Bagus.


Hari sudah mulai malam ketika Nanda sampai di rumah Mira. Kasih dan Awan sudah tertidur karena lelah bermain. Mira terkejut melihat kondisi suaminya terlihat berantakan.


" Pa, ada apa, kenapa keadaanmu seperti ini? Papa mandilah dulu supaya segar kembali."


" Tidak perlu, papa kesini ingin meminta bantuan mama."


" Bantuan apa pa? Kelihatannya penting."


" Bantulah papa untuk merawat Bagus."


" Merawat Bagus? Siapa dia?" Tanya Mira penasaran.


" Anak papa dengan Desy."


" Apa? Papa ingin mama merawat anak Desy? Mama tidak mau."


Mira kaget mendengar pengakuan Nanda. Teganya dia menyuruh Mira merawat anak dari mantan madunya.


Nanda menjelaskan dari awal hingga akhirnya dia membawa Bagus pergi. Mira termenung mendengarkan cerita Nanda.


" Lalu dimana anak itu?" Tanya Mira.


" Masih di dalam mobil. Dia sama sekali tidak mau keluar. Bahkan dia menolak untuk makan." Nanda menghela nafas, kasihan pada anaknya Bagus.


" Itu adalah bentuk protes darinya karena papa menjauhkan dia dari ibunya." Kata Mira pelan tapi Nanda cukup jelas mendengarnya.


" Sebaiknya papa mandilah dulu. Biar mama yang akan bicara dengannya."

__ADS_1


" Baiklah. Kalau bisa suruhlah dia makan."


Nanda beranjak pergi untuk mandi. Sedangkan Mira menata hati dan menyiapkan diri agar tidak emosi menghadapi anak dari mantan madunya.


Mira membuka pintu mobil suaminya. Disana, dilihatnya seorang anak kecil dengan badan kurus sedang terisak-isak menahan tangis. Hati Mira tersentuh melihatnya. Mira rasanya ingin ikut menangis melihat anak sekecil itu harus dipisahkan dari ibunya.


" Bagus, mari turun. Sudah sangat malam."


" Nggak mau."


" Kalau gitu, makan makananmu."


" Nggak mau...nggak mau."


Bagus marah. Dia memukuli Mira dengan kedua tangannya yang kecil. Nanda melihat kejadian itu dan menyuruh Mira untuk pergi.


" Mama, pergilah. Tinggalkan Bagus dan papa. Papa akan menemaninya tidur di sini."


" Tidur di dalam mobil?"


" Iya, mau bagaimana lagi."


Mira bergegas mengambil selimut dan diberikan pada mereka berdua. Mira hampir tak bisa tidur memikirkan Nanda dan Bagus.


Esoknya, Mira bangun pagi-pagi sekali dan membangunkan Nanda. Nanda merasa seluruh tubuhnya kaku akibat tidur di dalam mobil yang sempit. Pagi ini Nanda ada rapat penting, karena itu dia meninggalkan Bagus yang masih tidur di mobilnya. Sedangkan Nanda pergi dengan menggunakan mobilnya yang lain tanpa berganti baju dahulu.


Mira tertegun melihat Bagus. Mira tidak tahu bagaimana caranya agar bisa membujuknya agar mau keluar dari mobil. Mira menutup pintu mobil dengan pelan, agar Bagus tidak terbangun. Mira berjalan untuk masuk kembali kedalam rumah.


Kedua anak Mira, Kasih dan Awan ikut terbangun dan berdiri didepan pintu kamar Mira. Mira tersenyum melihat kedua buah hatinya.


" Bunda, bunda dali mana?" Tanya Awan hampir menangis.


" Tadi Awan hampir menangis karena tidak menemukan mama di kamar." Kata Kasih.


" Bunda tadi mengantar papa pergi." Jawab Mira.


" Papa semalam pulang, kenapa mama tidak memberitahu Kasih dan Awan." Kasih agak kecewa.

__ADS_1


" Kalian sudah tidur, lagi pula papa banyak urusan tidak bisa menemani kalian main. Awan, di dalam mobilnya papa ada seorang anak kecil. Bagaimana kalau ajak dia bermain. Tapi dia agak pemarah, jadi Awan hati-hati ya. Kasih boleh temani Awan." Mira menjelaskan pada Awan.


" Baik ma." Jawab Kasih.


" Benalkah bunda? Awan senang ada teman belmain. Ayo kakak kita cepat kemobilnya papa." Awan terlihat senang dan segera mengajak Kasih keluar.


Mira menghela nafas, melihat Awan sangat senang mendapatkan teman bermain. Perasaannya campur aduk antara sedih, kecewa dan rasa kasihan.


Awan membuka pintu mobil dengan antusias sekali. Tapi dia kaget melihat seorang anak kecil sedang menangis sambil memegang lututnya seolah sedang ketakutan. Awan dan Kasih saling berpandangan. Merek agak ketakutan juga melihat Bagus.


Mira mendekati Awan dan Kasih yang masih ragu untuk mengajak Bagus bicara.


"Awan, coba ajak dia bicara. Jangan takut, bunda ada disini." Mira memberi semangat Awan. Mira jongkok agar tidak terlihat oleh Bagus.


" Hei, nama kamu siapa? Aku Awan."


Bagus menatap Awan seolah tak ingin Awan mendekatinya.


" Aku punya banyak mainan yang bagus-bagus. Sebentar aku ambil dulu."


Awan berlari kedalam rumah dan mengambil banyak mainan. Mira membiarkan saja semua yang Awan lakukan. Mungkin ini sudah takdir, dia harus merawat Bagus.


" Aku masuk ya." Kata Awan.


Awan langsung masuk kedalam mobil tanpa menunggu jawaban dari Bagus. Dia langsung menunjukkan semua mainannya pada Bagus.


" Ini ada lobot, ada mobil, ada tluk dan ada boneka juga. Kamu mau yang mana? Atau kamu mau semuanya?"


Bagus tidak berkata apapun. Tapi dengan cepat dia langsung merebut boneka dari tangan Awan. Sesaat Awan kaget, tapi dia langsung tersenyum melihat Bagus menyukai salah satu mainannya.


Mira meminta bibi Mei membawakan Awan dan Bagus makanan ringan dan susu. Tapi Mira ingin Kasih yang memberikan makanan ringan dan susu kepada mereka. Sesama anak-anak mungkin bisa membuat Bagus merasa nyaman.


Cara Mira mendekati Bagus lewat anak-anaknya bisa dibilang berhasil. Walaupun Bagus masih tidak mau masuk kedalam rumahnya, dan tidur didalam mobil. Bagus sudah mau makan dan minum.


Dari kemarin Bagus pasti sudah menahan buang air kecil sehingga Mira meminta Awan mengajaknya ke kamar mandi. Bagus bersedia tapi setelahnya Bagus kembali masuk mobil.


Beberapa malam, Awan menemani Bagus tidur di dalam mobil. Mira sangat khawatir akan kesehatan Awan. Tapi Awan bersikeras untuk menemani Bagus. Mira mengawasi mereka karena dia tidak bisa tidur dengan tenang sementara anaknya kedinginan didalam mobil. Akhirnya Mira ikut tidur di dalam mobil.

__ADS_1


Pengorbanan Mira kali ini, apakah bisa membuat Bagus menerima Mira sebagai bundanya? Rasanya tidak semudah itu.


__ADS_2