
Ketidak hadiran Andara dalam acara tujuh bulanan Dian, serta pertanyaan dan omongan mereka yang datang di acara itu, ternyata menjadi efek jangka panjang untuk Dian dan kehamilannya, wanita itu menjadi semakin pendiam dan terus mengurung diri di kamarnya.
Baik Dion mau pun kedua orang tuanya sudah memberikan perhatian, kasih sayang serta dukungan kepada Dian, se mampu yang mereka bisa, tetapi Dian tetap hanya Diam dan mengatakan dia baik-baik saja.
Ketika wanita itu ingin sendiri mereka tetap membiarkan Dian melakukan apa yang ingin dia lakukan. Mereka juga tidak bertanya tentang Andara. Bukan karena tidak peka atau tidak peduli, tetapi mereka tidak ingin Dian semakin tersakiti dengan pertanyaan mereka dan sikap mereka nanti! Apalagi Mengingat wanita itu tengah hamil saat ini.
Efek dari hari itu, membuat Dian sering merasakan kontraksi dan terus berbaring di tempat tidur, bahkan sudah sering dokter mengatakan dia untuk tidak stres agar tidak terjadi hal buruk dengan kandungannya, tetapi Dian hanya mengiyakan saja.
Dan fatalnya, Dian merasakan kontraksi di ikuti dengan darah segar yang keluar dari jalan lahirnya. Padahal perkirakan lahir masih dua puluh hari lagi. Dan mau tak mau Dian harus di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan medis.
" Mel, mana ponsel kakak?" Tanya Dian kepada Melly, yang kebetulan ikut bersama mertuanya, mengantar Dian ke rumah sakit.
" Buat apa kakak! Fokus dulu untuk anak kakak." Sahut Melly. Tetapi Dian menggeleng kepalanya dan tetap menandakan tangan, untuk di beri ponselnya." Kak_"
" Sekali aja Mel, ini yang terakhir! Kakak janji ini yang terakhir." Ucap Dian sembari menahan rasa sakitnya.
Melly tidak tahu sebesar apa cinta yang Dian punya untuk Andara, sehingga di saat seperti ini, kakak iparnya itu masih sempat memikirkan lelaki itu. Dan benar saja begitu Melly memberikan ponsel yang Dian minta. Wanita itu langsung membuka halaman pesan dan nama Andara tertera di sana. Ingin marah tapi Melly sadar akan batasannya. Di biarkan justru akan semakin menyakitkan untuk kakak iparnya itu.
Tapi pada akhirnya dia hanya bisa melihat sambil mengusap punggung Dian begitu juga dengan mama mertuanya.
Sementara Dian sendiri di tengah-tengah rasa sakitnya, Dian masih sempat meminta Andara untuk menemaninya.
...Mas Andara....
Mas aku di rumah sakit nih?
^^^Ngapain di rumah sakit sayang?^^^
Temani Melly yang mau lahiran!
Kamu bisa kesini nggak buat temani aku?
^^^Maaf ya sayang! Aku nggak bisa!^^^
^^^Sebentar lagi aku ada meeting sama klien! Nanti kalau meeting nya selesai aku telpon kamu lagi.^^^
__ADS_1
OH,, gitu ya!
Ya udah nggak papa.
^^^Terima kasih ya sayang!^^^
^^^Kamu nggak marah kan?^^^
Nggak kok!
Lagian buat apa aku marah!
Kamu kan lagi kerja.
^^^Kamu emang istri aku yang^^^
^^^paling pengertian.^^^
^^^Ya udah aku meeting dulu ya^^^
^^^Nanti habis meeting aku hubungi kamu^^^
Iya.
Setelah mengirim pesan untuk Andara yang berakhir dengan kekecewaan, dia menyerahkan ponselnya kembali kepada Melly dan meminta Melly untuk menonaktifkan ponselnya.
Dan seketika itu, rasa sakit yang tadi dapat ia tahan kini menjadi berkali-kali lipat." Ma." Jerit Dian kalah rasa sakit itu tidak dapat dia tahan lagi. Wanita itu kini tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Sembari merentangkan kedua tangannya untuk menggenggam tangan Melly dan mamanya.
Melly mendekati Dian sambil mengusap punggung kakak iparnya itu, walaupun dia sendiri tengah mempersiapkan dirinya untuk menyambut Kelahiran anak ke duanya, Melly masih sempat memberi kekuatan kepada Dian.
" Kakak yang kuat ya! Kakak sudah lama kan menanti hal ini, ini saatnya kakak harus berjuang, dia juga sedang berjuang untuk bertemu kakak, aku yakin kakak bisa." Ucap Melly sembari memindahkan tangannya untuk mengusap perut Dian. " Sayang kamu harus semangati bunda ya." Lanjutnya dengan tangan tetap mengusap perut buncit Dian. Dengan harapan malaikat kecil di dalam perut ibunya itu dapat menguatkan ibunya.
Sementara Dion sang Adik tengah mengurus segala keperluan kakaknya untuk melakukan operasi, mengingat umur dan kandungan Dian yang lemah serta terjadi pendarahan membuat Dian tidak dapat melahirkan normal.
" Aku nggak kuat lagi mel, ini sakit banget." Rintihan nya terdengar begitu menyayat sembari menahan rasa sakit di hatinya, yang ia tanggung selain rasa kontraksi itu.
__ADS_1
" Aku tahu, ini emang sakit kak, tapi hanya sebentar, semua itu akan terobati saat kakak Melihat wajahnya dan mendengar tangisannya." Melly mengusap puncak kepala Dian. sementara mama mertuanya terus melafalkan doa untuk cucu dan putrinya.
Seandainya rasa sakit Dian bisa di pindahkan mungkin wanita paruh baya itu akan memindahkan rasa sakit Dian pada dirinya.
Di saat mereka tengah fokus dengan Dian. Lisa dan Hani mereka titipkan, Lisa di titipkan kepada Luna sedangkan Hani pada Maminya Melly. Gadis kecil itu menolak untuk di titipkan di rumah Luna. Mau tak mau Dion harus mengantarnya ke rumah mertuanya. Walaupun banyak pelayanan yang siapa menjaga mereka, tetapi Melly lebih tenang jika mereka bersama orang orang terdekatnya.
" Maafkan kakak ya! Kalau kakak punya salah sama kamu." Ucap Dian.
" Kakak ngomong apa sih? Kakak itu kuat! Kakak nanti akan menjadi ibu yang tangguh untuk anak kakak. Tahan ya kak." Ucap Melly lagi. Melly sampai ingin menangis, melihat penderitaan kakak iparnya itu.
" Ma_"
" Jangan ngomong seperti itu. Mama nggak suka Di." Tegur mamanya.
" Tapi Dian nggak bohong Ma! Ini sakit banget, Dian nggak kuat." Mendengar keluhan putrinya. Mamanya Dian membantu Dian untuk berbaring miring ke kiri sembari mengusap punggung Dian.
" Sabar ya sayang, semua ibu melewati proses ini, kamu nikmati saja! Begitu dia keluar rasa sakit ini akan terobati, Kakak Harus percaya sama mama, semua akan baik baik saja, ada mama disini yang menemani kakak! Apa kata Hani kalau lihat bundanya lemah seperti ini. Anak perempuan mama itu wanita hebat." Dian mengangguk sembari mengusap cairan bening yang terus mengalir melalui sudut matanya.
Ada perasaan lega saat mendengar kata kata penyemangat dari sang mama, ia seakan mendapatkan kekuatan baru untuk menahan rasa itu.
Tidak lama setelah itu empat orang perawat menghampiri Dian. " Ibu dan Dokter Melly, sebaiknya tunggu di luar, Dokter harus segera melakukan tindakan untuk pasien." Melly yang mengerti betul situasi saat ini hanya mengangguk, sembari menarik tangan Ibu mertuanya untuk keluar. Tak lama setelah Melly dan mama mertuanya keluar, Dian langsung Di dorong menuju Ruang operasi.
Proses operasi itu berjalan lancar dan tidak ada kendala apapun. Bayi yang Dilahirkan Dian berjenis kelamin laki-laki, sehat dengan berat 3,2 kg dan panjang 53,1cm. Bayi laki-laki itu di beri Nama Ahyan Giovanni Bagaskara. Yang memiliki arti Anugerah dari tuhan.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. ❤️❤️...
__ADS_1