Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
Hari persidangan


__ADS_3

Drrrtttt drrrtttt...


Getaran dari ponsel Dian, yang berada di atas meja rias mengusik perhatian wanita itu dari tablet yang ada dalam genggaman tangannya.


Dian yang sedang melihat pemasukan serta pengeluaran di butik. terpaksa menyudahi pekerjaannya sejenak dengan meletakkan tabletnya di atas meja. Dian pun berdiri dari duduknya dan melangkah kearah meja rias kemudian meraih benda pipi itu.


Dian menggeser icon berwarna hijau setelah membaca nama yang tertera pada layar ponselnya. " Halo Lun, ada apa tumben telepon?" Ya, sih penelpon itu adalah Luna.


" Maaf ya Mbak kalau aku ganggu! aku cuman pengen tanya. Mbak kenapa nggak ngomong sama kita, kalau mbak itu ada masalah sama suami Mbak! setidaknya kan kita bisa bantu Mbak." Ucap Luna tanpa basa-basi. " Aku itu udah anggap Mbak dan Melly seperti kakak aku sendiri. Jadi ke depannya kalau kalau Mbak ada masalah, Mbak harus cerita sama kita dan nggak boleh tanggung semuanya sendirian lagi." Sambungnya membuat kedua sudut bibir Dian tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.


" Maaf ya Lun! Bukan maksud Mbak enggak mau cerita sama kalian, tapi Mbak takut merepotkan kalian." Jelas Dian kepada Luna yang berada di seberang sana.


" Ya enggaklah Mbak, sebab dalam hubungan persahabatan dan persaudaraan tidak ada kata merepotkan. Mbak harus ingat itu! masalah Mbak masalah kita juga." Sahut Luna.


" Iya Luna, maaf ya kalau selama ini Mbak gak cerita sama kalian." Ujar Dian di Angguki oleh Luna, walaupun anggukan kepalanya tidak dapat di lihat oleh Dian.


" Oh iya Mbak! satu lagi yang mau aku kasih tau sama mbak, nanti aku sama Nurul akan menemani Mbak dan Gio di pengadilan." Ucap Luna penuh semangat.


Dion dan Luna berbicara di telepon cukup lama dan banyak hal yang keduanya bicarakan kan mulai dari sidang perceraian, tumbuh kembang anak Dian dan Melly, yayasan yang mereka kelola bersama sampai trend fashion terbaru di kalangan sosialita. Dan panggilan itu baru terakhir, saat suara Narendra terdengar memanggil-manggil Ibunya.


Setelah selesai menelepon dengan Luna, Dian menghampiri ranjang anaknya di lihatnya wajah damai sang anak yang masih terlelap dalam tidurnya.


" Sayang Nggak papa kan, kalau nanti Gio cuma sama Bunda, Bunda janji akan memberikan yang terbaik untuk Gio." Ucap Dian sembari mengusap kepala Gio dengan begitu hati-hati. Dadanya begitu sakit ketika memikirkan Gio yang harus tumbuh tampa sosok seorang ayah yang akan menemani tumbuh kembangnya serta sosok yang akan mengajarinya banyak Hal. " Jangan Lemah Di, ini adalah pilihan yang terbaik untuk kalian berdua? Gio itu laki-laki, dia akan lebih kuat dari kamu dan yakinlah dia akan mengerti keadaan kamu saat di besar nanti, atau kamu sanggup menjelaskan saat dia bertanya kenapa dia punya dua ibu, Kenapa ayah bisa mencintai dan memiliki anak dari wanita lain di saat ibunya masih ada? lalu bagaimana jika kamu mengatakan jika kamu istri pertama tapi dia memiliki dua kakak yang lebih tua darinya, apa Gio sanggup menerima kenyataan jika demi dirinya ibunya rela di sakiti selama bertahun-tahun, jangan lemah di apa yang kamu lakukan ini sudah benar." Dian kembali berdebat dengan dirinya sendiri untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Andai waktu dapat dia putar kembali Dian tidak akan pernah mau berada di posisi ini. Entah dengan tidak mengizinkan Andara menikah lagi atau tidak pernah menerima Andara dan mengubur perasaannya dalam-dalam.


Tapi satu yang pasti Dian tidak pernah menyesal menikah dengan Andara. walaupun banyak air mata dan rasa sakit yang dia terima dari pernikahannya itu. Sebab tanpa Andara Gio tidak mungkin ada saat ini.


Setelah puas memandang wajah Gio, Dian kembali ke tempat duduknya dan meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Tiga hari berlalu dengan begitu cepatnya dan dalam tiga hari itu banyak hal yang dilakukan oleh Dion untuk persiapan sidang nanti. Dan kini mereka tengah bersiap untuk menuju pengadilan.


" Bagaimana hasil tes DNA nya?" Tanya Dion kepada Asistenya.


" Hasilnya sesuai dengan harapan kita Pak." Jawab sang asisten.


" Lalu bagaimana dengan orang tua antara mereka juga hadir kan?" Tanya Dion lagi.


" Bagus pastikan semuanya berjalan sesuai rencana kita! dan jangan kasih celah untuk mereka membela diri." Tegas Dion, di iyakan sang asistenya. " Kak Sudah siap? kita berangkat sekarang?" Tanya Dion kepada kakaknya yang baru saja datang bersama Melly sambil menggendong Gio.


" Iya." Jawab Dian begitu singkat.


" Honey, kamu nggak ingin berubah pikiran! kasihan Aiden kalau di tinggal sendiri." Tanya Dion kepada Istri tercinta.


" Benar Mel, kamu di rumah aja! kan udah ada Luna yang temani kakak." Dian turut menimpali ucapan kakaknya.

__ADS_1


" Kak, aku akan temani kakak! Soal Aiden, nanti mama sama Bi Asih yang jagain! Aku juga udah stok ASI nya. Dan untuk Hani dan Lisa, kedua putriku setuju di jemput supir asal mommy menjaga Bunda dan Baby Gio, katanya." Jelas Melly kepada suami dan kakak iparnya, membuat Dian tidak bisa menolak lagi.


" Tapi Honey_ "


" Kalau kamu masih ingin melarang aku By, Baiklah sebagai istri yang baik, aku akan mengikuti mau kamu! tapi ingat, hari ini tepat dua bulan, sepertinya aku harus menutupnya sampai dua bulan lagi dan aku akan membawa Hani dan Aiden menginap di rumah mami selama Dua bulan." Seketika itu wajah Dion langsung pias, Ia kehilangan kata-katanya untuk melawan Melly.


" Baiklah Honey, kamu boleh ikut, kalau menurut kamu Aiden akan baik-baik saja bersama mama." Putus Dion.


" Gitu dong, dari tadi ke ngomong nya! Yuk kak kita berangkat sekarang." Ucap Melly sembari mengambil Gio dari Gendongan Dian dan melangkah lebih dulu menuju mobil yang telah di siapkan. Sementara Dian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Adik iparnya dalam menaklukkan Dion adiknya.


" Cih sebegitu takutnya kamu di tinggal, kan cuma dua bulan." Ejek Dian.


" Jangankan Dua bulan kak, sehari saja aku tidak melihat mereka bertiga, rasanya ada yang kosong di Sini." Ucap Dion sembari menunjuk dadanya sendiri. " Mereka sangat berarti buat aku, sama seperti kakak, mama dan papa." Dian mengangguk kemudian melangkah beriringan bersama Dion menuju mobil mengikuti Melly yang telah lebih dulu berada di dalam mobil.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di pengadilan bersama dengan Andara. bahkan mobil mereka di parkiran bersebelahan dengan mobil Andara. dari dalam mobil Dian bisa melihat dengan jelas, pengacara, Andara , Mama dan papa mertuanya satu persatu keluar dari mobil itu.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung....


...Happy reading..💔💔...


__ADS_2