
Disisi lain, Andara yang pulang dalam keadaan kacau sehabis baku hantam dengan Ken. Harus kembali menyaksikan pertengkaran mama dan istrinya, sungguh pemandangan yang merusak moodnya.
" Apa kalian ingin terus seperti ini?" Tanya Andara dengan nada tinggi, membuat kedua wanita itu langsung Diam dan menatap kepadanya.
" Astaga Nak wajah kamu kenapa begini? siapa yang melakukan semua ini sama kamu." Sang nyonya langsung menghampiri Andara dan meneliti wajah putranya itu. Saking khawatirnya ia sampai lupa akan pertengkarannya dengan Elana, sang menantu Shole aah.
" Aku baik-baik saja ma_" Ujar Andara sambil memindahkan tangan mamanya, karena wanita paruh baya itu tidak sengaja menyentuh luka memar di sudut bibirnya.
" Tidak apa-apa bagaimana!? muka kamu sampai seperti ini, masih bisa kamu bilang tidak apa-apa!" Disaat wanita paruh bayah itu sedang merasa khawatir dengan keadaan anaknya, Elana sang menantu justru menekan tombol pada kursi rodanya, meninggalkan ibu dan anak itu tanpa rasa empati sedikit.
Sementara Andara hanya bisa mendesah, lelah dengan tingkah istrinya. Semakin hari, semakin menjadi. Andai Andara tidak merasa bersalah sekaligus iba kepada wanita itu, mungkin Andara sudah membuangnya. Bukan karena dia tidak mencintai Elana, hanya saja sikap Elana sudah begitu melewati batas.
" Ma, ada baiknya mama pulang dulu rumah mama." Ucap Andara membuat tangan wanita paruh baya yang tengah mengompres wajah Andara berhenti. " Aku tidak bermaksud untuk mengusir mama, aku justru senang mama ada disini. Dan aku meminta semua untuk kebaikan mama dan cucu-cucu mama." Lanjutnya lagi sambil menggenggam tangan wanita paruh baya itu.
" Kamu tega, mengusir mama hanya untuk kenyamanan wanita tak berguna itu. Lagian yang harus pergi itu Dia bukan mama An tapi dia, dia itu hanya beban yang akan mempermalukan keluarga kita, Sadar kamu An, kalau dalam kondisi seperti ini saja dia tidak peduli dan semua anak kamu mama yang mengurus mereka dan kamu tiba-tiba ingin mengusir mama." Ucap nyonya Wartika penuh cibiran untuk menantunya itu.
" Tolong mengerti situasi aku. Mama bersikap seperti ini hanya akan memperburuk keadaan! kalau mama masih tidak mau, biar aku dan anak-anak yang pindah." Sahut Andara dan langsung mendapatkan protes dari sang mama.
Tetapi kali ini, Andara tetap pada keputusannya, mau sekeras apapun seorang nyonya Wartika menolak permintaan sang anak, pada akhirnya ia yang meninggalkan rumah itu di antara oleh Andara, setelah wanita paruh baya itu meminta Andara untuk memilih di antara dirinya dan Elana.
" Semoga pilihanmu yang terbaik An, jika tidak mama sendiri yang akan melemparnya ke jalanan." Ancam sang nyonya Wartika. wanita paruh bayah itu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, buktinya saja dia bisa mengusir Dian, sang pemilik rumah ketika dia sudah bertekad." Jika mama bisa bawa dia masuk di antara kalian, mama juga bisa melakukan hal yang sama untuk mengeluarkan dia! tapi kamu tidak perlu khawatir, kali ini mama tidak akan menginjakkan kaki di rumah kamu lagi, jika wanita itu masih ada di sana." Lanjutnya, sebelum dia keluar dari mobil Andara. Sementara Andara sang anak hanya diam mendengar apa yang di ucapkan mamanya, bukan karena dia menyetujui ucapan mamanya, tetapi Andara tidak ingin mamanya semakin marah jika dia menyahutinya.
Setelah sang mama selesai berbicara dan masuk ke dalam rumahnya, Andara pun meninggalkan kediaman orang tuanya. Suasana hatinya yang buruk membuat dia tidak dapat berlama-lama di sana.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan harinya di Kediaman Xavier, terlihat semua anggota keluarga tengah duduk menikmati sarapan pagi mereka. Aiden dan Gio pun ikut kumpul bersama mereka walaupun kedua balita itu di letakkan di dalam stroller mereka masing-masing.
" Di. " Panggil sang papa, di sela-sela sarapannya, membuat semua orang yang tengah menikmati hidangan di depan mereka, menatap bersamaan kepada lelaki paruh baya itu. Terkecuali Dion yang sudah apa yang akan di bicarakan papanya, dan kedua baby boy tentunya! sementara Lisa dan Hani ikut menunggu apa yang akan di ucapkan kakek mereka. " Jika papa meminta sesuatu kepada kamu apa kamu akan menolaknya." Tanya tuan Xavier setelah selesai meneguk air putih dalam gelasnya hingga setengah.
__ADS_1
" Papa ingin meminta apa? katakan saja jika Di sanggup, Di akan mengabulkan permintaan papa. " Ucap Dian penuh keyakinan.
" Papa harap kamu mau mengabulkan permintaan papa ini." ujar lelaki paruh bayah itu lagi.
" Kakek, kalau Bunda nggak bisa, biar Hani aja yang kek." Sahut Hani.
" Sayang." Panggil Melly sambil menggeleng kepalanya, memberikan kode kepada Hani supaya Diam. Sementara Dion hanya tersenyum mendengar ucapan putrinya.
" Iya mommy." Mereka pun Diam, Agar tuan Xavier meneruskan ucapannya.
" Papa ingin apa dari Dian?" Dian bertanya untuk meneruskan pembicaraan.
" Papa, ingin menjodohkan kamu dengan anak teman pa_"
" Pa, Dian baru aja cerai, apa kata orang jika Dian, tiba-tiba menikah lagi, lagian Dian juga nggak kenal siapa dia, seperti apa sifat dan sikapnya. Pa, bukannya Dian tidak mau tapi Dian takut untuk gagal lagi. Andara yang Di kenal cukup baik aja pada akhirnya apa! kita pisahkan, apalagi sekarang Dian punya Gio." Tolak Dian dengan halus.
" Papa tahu, jawab kamu pasti akan seperti ini. Tapi papa yakin kali ini kamu tidak akan gagal lagi, sebab dia yang papa adalah Dia yang terbaik. Soal ucapan orang lain, biarkan mereka berbicara toh, yang menjalani kan. Kalau kamu masih ragu anggap saja, ini permintaan pertama dan terakhir papa."
" Kebahagiaan papa itu, saat melihat kamu menikah dan hidup bahagia dengan laki-laki yang tulus mencintai kamu dan Gio. Kalau papa mau, mama ingin lebih lama bersama kamu, bahkan papa ingin mencarikan jodoh yang terbaik untuk Hani. tapi namanya Ajal kita nggak ada yang tahu nak."
" Papa, Jangan ngomong gitu." Sahut Dian, tanpa melepaskan pelukannya.
" Di_"
" Iya Di, mau terima perjodohan itu! tapi papa janji jangan ngomong gitu lagi ya."
" Benar! kamu mau?" Dian mengangguk kepalanya sembari berkata iya. " Apa kamu tidak ingin melihat calon suami kamu dulu sebelum memutuskan jawaban mu."
Dian menggeleng kepalanya. " Untuk apa? Dulu waktu Dian bawah mas Andara meminta restu papa, papa langsung menerimanya karena percaya dengan pilihan Dian, terus kenapa Dian harus menilai pilihan papa, Dian yakin semua orang tua pasti ingin terbaik untuk putra-putri mereka termasuk Di."
__ADS_1
" Terima kasih Nak! ternyata putri papa sudah benar-benar dewasa dalam menyikapi segala hal." Lelaki paruh baya itu pun membalas pelukan putrinya walaupun hanya tangan Dian yang di peluk.
" Kakek, kalau bunda masih bandel nggak mau dengar omongan kakek, biar Hani aja yang di jodohkan! Hani juga sayang sama kakek."
" Emangnya kamu tahu apa itu dijodohkan." Tanya Dion, di jawab gelengan kepala dari putrinya itu. " Terus kamu kenapa ngomong gitu." Tanya Dion lagi.
" Tadikan kakek yang bilang kalau mau buat kakek bahagia, Bunda harus mau di jodohkan. Hani kan juga mau buat kakek bahagia Daddy." Ucapnya sambil melipat kedua tangannya di dada dan memasang wajah cemberut.
" Jangan cemberut gitu dong, nanti kakek juga akan menjodohkan kamu." Sahut Tuan Xavier.
" Yeh asyik. Hani juga bisa buat kakek bahagia." Gadis kecil itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian menghampiri tuan Xavier dan duduk di atas pangkuan lelaki paruh baya itu serta mencium pipinya.
Dulu tuan maupun nyonya Xavier tidak pernah bermimpi bisa memiliki cucu sebanyak ini. Tapi segala sesuatunya perlahan berubah semenjak kehadiran Hani, hidup Dion yang berantakan perlahan membaik dan kehidupan Dian yang di penuhi air mata perlahan berganti senyum dan bisa bernafas se lega sekarang. Dan semua itu karena Haaniya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💔💔...
...Happy new year All....
...Semoga di tahun 2022....
__ADS_1
...kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan segala urusan dan impian kita semua di mudahkan.🤲🤲🤲...