
Setelah makan siang itu selesai, mereka pun berpisah dan kembali ke perusahaan masing-masing. Di jam tiga sore, Ken menghubungi salah satu asistennya untuk mengantarkan gaun malam kepada Dian, lengkap asesorisnya, mulai dari tas, sepatu sampai perhiasan yang akan melekat pada tubuh istrinya.
Semua itu, Ken sendiri yang memilihkannya untuk Dian dan dia yakin pilihannya itu akan membuat istrinya terlihat semakin anggun dan mempesona nanti.
Tidak hanya sampai disitu, ken bahkan menyewa jasa MUA membantu Dian dengan datang ke rumah keluarga Xavier.
Sementara itu, Di rumah Dian begitu terkejut dengan kehadiran asisten ken, yang membawa beberapa paper bag di tangannya serta dua orang wanita yang berdiri di belakangnya. " Egi ada apa ini?" tanya Dian kepada lelaki yang di panggil Egi itu. semenjak menikah, Egi lah yang bertugas mengantarkan apa saja yang kepada Dian sesuai permintaan Ken, sehingga baik Egi maupun Dian, keduanya sudah saling mengenal.
" Maaf nyonya, tuan Ken meminta saya mengantarkan gaun malam ini untuk nyonya pakai nanti malam dan kedua wanita ini yang akan membantu ada bersiap-siap." Jelas Egi dengan sopan sambil sedikit menunduk kepalanya di hadapan Dian. " Astaga Egi, bos kamu terlalu berlebihan, aku bisa berdandan sendiri tanpa bantu mereka, sebaiknya kamu minta mereka pulang. lagian kita berdua hanya menghadiri pesta pernikahan anak dari klien nya." Ujar Dian, berharap Egi mendengarkan kata-katanya.
" Maaf nyonya, saya hanya menjelankan tugas yang di minta tuan, kalau nyonya keberatan dengan hal ini, nyonya bisa menghubungi tuan Ken dan mengatakannya kepada beliau." Sesuai dugaan, Egi tidak menuruti kata-katanya. membuat Dian mendesah frustasi. " Kalau begitu saya pamit dulu nyonya, saya dan tuan akan menjemput nyonya tepat jam enam nanti." Setelah mendapatkan anggukkan kepala dari Dian, lelaki itu pun pergi.
" Kalian masuk lah." Dian mempersilahkan kedua wanita itu untuk masuk setelah itu memanggil Art-nya untuk mengantarkan mereka ke kamar yang biasa ia dan Melly gunakan untuk bersiap-siap jika ada pesta. di dalam kamar itu terdapat dua walk in closed satu untuk Dian dan satu lagi untuk Melly. Walk in closed di kamar itu untuk menyimpan semua gaun-gaun mereka. " Bi, tolong sekalian." Dian menyerahkan paper bag yang di berikan Egi kepada Art-nya kemudian melangkah kembali ke kamarnya untuk melakukan ritual bersih-bersih sebelum mempersiapkan dirinya.
Saat berada di dalam kamar, Dian mengambil ponselnya untuk menghubungi Ken." Ini semua terlalu berlebihan Ken." Ujarnya begitu panggilan itu di jawab oleh Ken.
" Apa nya yang berlebihan sayang! itu tidak seberapa untukku. Kamu dan Gio sangat berharga buat aku, kalian pantas mendapatkan keistimewaan itu dariku. Sayang, aku sudah menyiapkan kemeja dan jas yang cocok dengan Gio."
" Tunggu dulu, apa kamu ingin kita mengajak Gio juga?" Tanya Dian. wanita itu sedang mengisi air di dalam bathtub.
" Tentu saja! aku sudah membicarakan ini dengan mama dan papa, mereka pun setuju! lagian Gio akan berumur satu tahun beberapa Minggu lagi, sudah saatnya kita menunjukkan dia kepada dia kepada Dunia agar mereka tahu setampan apa putraku." Ucap Ken penuh semangat, sementara Dian tidak tahu harus berkata apa lagi. " Sayang, aku harus kembali berkerja. Aku akan menjemput kalian berdua jam enam nanti." Tanpa menunggu jawaban Dari Dian, Ken langsung mengakhiri panggilan itu.
__ADS_1
Setelah panggil itu berakhir Dian mulai melepaskan pakaiannya dan berendam di dalam bathtub. Satu jam berlalu ia keluar dari kamarnya menuju ruang ganti.
Di saat Dian tengah bersiap, Melly memandikan baby Gio dan memakaikan balita itu, pakaian yang di kirim Ken.
Sesuai Janji Ken, tepat jam enam sore, mobilnya sudah terparkir di halaman rumah mertuanya. ia melangkah masuk kedalam rumah dan menghampiri baby Gio yang berada dalam pangkuan mertuanya.
" Ma, apa kita berdua sudah terlihat seperti ayah dan anak." Tanya Ken. Jas yang ia gunakan, sama warna dan bentuk dengan yang di gunakan Gio. katakan kalau yang di gunakan Gio itu versi balita dan yang di gunakan Ken adalah versi orang dewasa.
" Ya, orang yang tidak mengenali kalian, akan berpikir kalau kalian berdua adalah ayah dan anak, hanya dengan sekali melihat saja." Puji sang mertua membuat sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
" Aku sudah siap." Ucap Dian. membuat Ken berbalik dan menatap takjub atas penampilan istrinya malam ini. " Ayo kita pergi." Ken pun tersadar dan menganggukkan kepalanya.
" Berhenti menggodaku, atau aku akan tetap tinggal." Balas Dian sambil menyiku pelan lengan Ken.
Sementara Ken hanya tertawa kecil dan berkata. " Apa istriku akan setega itu kepadaku?"
Dian memutar kedua bola matanya, mendengar kata-kata Ken." Sudah-sudah, kalian akan terlambat nanti." Tegur mamanya Dian, membuat keduanya saling menatap dan mengangguk sesaat, kemudian melangkah keluar rumah menuju mobil Ken yang telah terparkir di sana.
Setelah memastikan istri dan anaknya telah duduk dengan nyaman dan mengunakan sabuk pengaman. Ken pun melajukan mobilnya tempat pesta.
Di sebuah hotel bintang lima tempat di gelarnya pesta itu, semua mata langsung tertuju kepada Ken dan Dian. Dimana lelaki itu berjalan sambil menggendong baby Gio dan mengandeng tangan Dian. Kehadiran keduanya yang sedikit terlambat membuat mereka menjadi pusat perhatian, belum lagi kursi yang di sediakan untuk Ken dan Dian berada paling depan sebagai tamu kehormatan.
__ADS_1
" Terima kasih tuan Louis, Sudah mau meluangkan waktunya untuk menghadiri pesta pernikahan anak kami." Ucap sang punya acara ketika menghampiri Ken dan Dian. " Tuan Louis perkenalkan ini istri saya. " Lanjutnya sambil memperkenalkan wanita yang berdiri di sampingnya.
Ken dan Dian berjabat tangan dengan wanita itu sembari Ken memperkenalkan Dian kepada sang punya acara. Bukan hanya sang punya acara, Ken bahkan memperkenalkan Dian dan Gio kepada beberapa kenalannya yang hadir di acara itu serta beberapa orang yang penasaran dengan identitas Dian.
" Apa kamu sengaja." Tanya Dian ketika keduanya berada di dalam mobil, saat perjalanan pulang ke rumah.
Ken melirik Dian, istrinya itu tengah mengusap punggung Baby Gio yang tengah terlelap dalam pangkuannya. Mengerti apa yang di tanyakan Ken pun menganggukkan kepalanya kemudian berkata. " Aku ingin dunia mengetahui siapa istri ku."
" Apa kamu tidak malu menikahi seorang janda?" Tanya Dian mengingat sikap Ken yang begitu manis dan bangga saat memperkenalkan dia dan Gio, bahkan di pesta itu ada beberapa teman mereka yang mengetahui hubungan Dian dan Andara dulu. Dan Aneh hal itu tidak berpengaruh apa-apa untuk Ken, ia bersikap seolah hal itu tidak pernah terjadi.
" Kenapa aku harus malu? aku menikahi wanita yang aku cintai dan aku beruntung mendapatkan kamu sebagai istriku." Jawab Ken selalu berhasil membuat Dian bungkam. Karena merasa begitu di cintai dengan begitu besarnya.
.......
.......
.......
.......
...Happy reading..💔💔...
__ADS_1