
" Honey tenanglah! Aku yakin sebentar lagi dia akan pulang." Ucap Dion, mencoba untuk menenangkan sang istri yang sudah seperti setrikaan rusak. Kesana-kemari di hadapan mereka tanpa tahu ingin melakukan apa.
" Aku mana bisa tenang By! Apa kamu tidak lihat ini udah jam berapa dan anakku belum pulang." Teriak Melly, karena ini pertama kalinya putrinya itu belum pulang di jam seperti ini. Biasanya ia akan pulang jam enam paling terlambat jam tujuh. Tapi lihatlah jarum jam telah menunjukkan angka sembilan lewat lima belas menit, namun gadis itu belum juga terlihat batang hidungnya.
" Ya aku tahu Honey! dia juga anakku dan aku sama khawatirnya seperti kamu."
" Iya Mel, kamu jangan berlebihan seperti ini! Aku yakin Hani akan baik-baik saja! Lagian ada Dino-kan yang menjaganya." Ucap Dian yang juga ikut menunggu Hani pulang.
" Berlebihan kata mbak! Mbak, Hani itu anak perempuan, jika sejak kecil dia sudah di bebaskan seperti ini, lama-lama dia akan melunjak atau paling buruknya salah pergaulan dan aku tidak ingin hal itu sampai terjadi kepada putriku! lagian siapa yang bisa menjamin jika Dino dapat melarangnya."
" Putrimu yang mana? Hani, Hana." Tanya Dian karena kesal dengan sikap Melly. "Jika mereka berdua yang kamu khawatirkan! sesungguhnya kekhawatiran kamu itu tidak beralasan! Apa kamu lupa, jika Hani dan Hana itu pintar, mereka juga mendapatkan kasih sayang yang berlimpah. Kita selalu mendidik mereka, mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang mereka boleh lakukan dan mana yang tidak boleh. Fasilitas yang mereka mendapatkan itu lebih dari kata cukup sampai mereka bosan untuk menggunakannya, kenyamanan juga. Kenapa kamu harus takut untuk sesuatu yang belum tentu mereka lakukan. Jika ada yang harus kamu khawatirkan, khawatirkan saja putrimu yang lain tapi jangan pernah mengkhawatirkan Hani dan Hana, sebab aku sangat yakin, Selama apa yang mereka butuhkan terpenuhi putri-putriku tidak akan salah jalan. Kecuali mereka di takdir untuk menanggung dosa-dosa kalian di masa lalu. " Sahut Dian.
Wanita itu jelas sangat tidak menyukai Lisa, sebab gadis belia itu tumbuh menjadi wanita pengaduh. Setiap kali ia pulang sekolah, ia akan selalu mengadukan apa yang di lakukan Hani di sekolah kepada Melly dan sering kali membuat Hani di marahi dan dihukum. Itulah sebabnya Dian meminta agar sekolah keduanya di pisahkan demi kenyamanan keponakannya.
" Mbak kenapa sih! Kita lagi bicara soal Hani, kenapa mbak jadi bawa-bawa Lisa dalam hal ini sih mbak! Mbak nggak sadar ya, mbak itu terlalu membela Hani." Protes Melly tanpa di sadari keduanya. Perdebatan mereka di dengar oleh Lisa, yang sedang menguping pembicaraan mereka.
" Pembelaan aku jelas. Mau salah atau benar aku akan tetap membela anak-anak ku." sahut Dian tak mau kalah, membuat Melly geleng-geleng kepala.
" Sudah cukup, sebaiknya kalian istirahat! Biar Aku dan Dion yang mencari keberadaan Hani." Putus Ken. Untuk menghentikan perdebatan istri dan adik iparnya itu, kemudian beranjak untuk pergi.
__ADS_1
" Aku ikut dengan kalian." Ucap Dian. membuat langkah Ken terhenti dan berbalik menatap ke-dua wanita itu.
" Ayolah kak! Sebaiknya kalian di rumah aja! Biar aku sama bang Ken yang mencari Hani."
" Mom, Bunda." Panggil Hani, yang baru saja pulang membuat keempat orang itu kompak menengok kearahnya.
" Sayang kamu dari mana? Kenapa kamu baru pulang jam segini?" Dian lebih dulu menghampiri Hani dan memeluk keponakannya yang sudah ia anggap putri sendiri itu.
" Maaf Bunda! Tadi Hani ke rumah teman, kebetulan hari ini dia pindahan! Hani tawarin aja buat pakai mobil Hani biar dia bisa hemat makanya Hani pulangnya telat." Jawab gadis itu, sedikit guguk! Karena membohongi bunda dan mommy-nya, walaupun jawabnya tidak sepenuhnya bohong.
" Terus kenapa Hani tidak menjawab panggilan dari mommy! Hani tau nggak mommy, bunda dan yang lainnya itu khawatir sama Hani." Sahut Melly." Hani itu di kasih kebebasan! Bukan berarti Hani bisa sesukanya." Lanjutnya. Wanita itu terlihat begitu marah.
" Diam! Hani bisa seperti ini karena kalian terlalu memanjakannya."
" Ya wajar dia putriku." Sahut Dian dan Dion secara bersamaan.
" Mom, Hani minta maaf! Hani janji nggak akan ulangi lagi, nggak akan pulang terlambat lagi, mommy jangan marah lagi ya."
" Oke kali ini mommy maafkan Hani ! Tapi Hani tetap harus di hukum." Karena tidak ingin membuat mommy-nya marah lagi, Hani terpaksa harus mengangguk. " Hukuman buat, selama seminggu! Kamu harus cuci baju dan piring bekas makanan kamu sendiri, setrika juga dan bersihkan tempat tidur kamu sendiri. Tidak boleh minta bantuan bibi ataupun bunda, jika ada yang berani membantu Hani, hukuman Hani bakalan bunda tambah." Lanjutnya.
__ADS_1
" Nggak aku nggak setuju." Protes Dian.
" Iya! Itu terlalu berlebihan Mel!" Ken pun sama seperti sang istri.
" Honey ini keterlaluan. Hani itu putri kita."
" Justru karena dia putri kita! Dia harus belajar mandiri sejak Dini." Balas Melly. " Apa kamu keberatan dengan hukuman dari mommy. " Tanya Melly Kepada putrinya itu, yang sejak tadi hanya diam karena perasaan bersalah kepada orang tuanya .
" Nggak kok mommy! Karena Hani memang salah." Jawab Hani membuat Dian hanya bisa mengeleng-geleng kepalanya tidak percaya, karena putrinya sebaik dan senurut itu harus di hukum seperti pelayanan, walaupun dia melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri.
" Bagus, sekarang Hani masuk kamar terus istirahat." Pinta Melly lagi. Tanpa membantah Hani langsung berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Begitu punggung gadis belia itu menghilang dari pandangan mereka, Dian langsung menghampiri Melly. " Kamu terlalu keras kepadanya, kamu lupa jika dia adalah ratu sesungguhnya di rumah ini. Sementara kamu menjadikan cucu pembantu itu layaknya ratu, hanya karena dia terlihat baik dan tidak pernah terlihat membuat kesalahan. Ingat Mel, jangan sampai dia terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri dan lupa caranya meminta bantuan orang lain termasuk kamu ibunya! Dan semoga emas yang kamu rawat itu benar-benar emas bukan imitasi yang terlihat bagus sesaat. Karena aku yakin berlianku walaupun ia berada dalam lumpur ia akan tetap menjadi berlian." Ucap wanita itu sebelum meninggalkan adik iparnya di susul Ken sang suami.
" Apa kamu juga ingin marah kepada By." Tanya Melly Kepada Dion.
Pria itu langsung menghampiri istrinya, kemudian memeluknya." Tidak Honey, karena aku tahu kamu sudah memikirkannya." Jawab Dion seraya mengecup kening Melly.
Walaupun dalam hatinya dia ingin protes tapi dia tidak bisa melakukannya saat melihat wajah sendu wanitanya, ya secinta itu dia sama Melly, bahkan untuk membelah Putrinya saja dia tidak berani.
__ADS_1