
Semenjak Andara menentukan sikap untuk hubungannya dengan Elana, ia terus menemani wanita itu di rumah sakit setelah selesai berkerja dan pulang ke rumah untuk berganti pakaian serta menengok anak-anaknya.
Dan jangan di tanya seperti apa ocehan serta hasutan dari sang nyonya Wartika jika Andara mengatakan akan pergi ke rumah sakit untuk menemani Elana seperti saat ini.
" Kenapa kamu masih mempertahankan wanita seperti itu An, Dia itu hanya akan mempermalukan keluarga kita." Dan masih banyak hasutan lainnya seakan tak ada bosannya untuk nyonya Wartika mengucapkan kata-kata yang sama setiap harinya.
Tapi kali ini Andara tidak lagi terpengaruh dengan ucapan mamanya, Ia hanya berlalu kesana-kemari melakukan apa yang ingin ia lakukan di rumah itu sebelum kembali menemani Elana di rumah sakit.
" An, mama lagi ngomong sama kamu, kamu dengar nggak sih." Tanya sang mama lagi, tepi tetap di abaikan oleh Andara, seolah ucapan mamanya itu hanya angin lalu.
" Sayang kalian hati-hati ya di rumah, ingat jangan nyusahin Oma, oke." Pesan Andara kepada Alesya dan Eliana.
" Iya papa." Jawab Alesya. Gadis kecil itu mengerti betul keadaan ibunya, sebab orang tua teman-temannya sering menceritakan kondisi Elana di sekolah, banyak dari mereka juga mengatai dan melarang anak-anak mereka bergaul dengan Alesya. Mereka bahkan tak peduli jika ucapan mereka sampai di dengar oleh Alesya dan Adiknya.
" Pa, kapan mama pulang pa?" Tanya Eliana.
" Berdoa saja ya sayang, semoga mama cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi bersama kita." Ucap Andara sembari merapikan helai rambut Eliana dan menyematkan helaian rambut itu di belakang telinga putrinya itu.
" Pa, kata Oma! mama nggak bisa jalan lagi. Apa itu benar." Andara menatap kepada mamanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Emang benar kan El udah nggak bisa jalan! mau di tutupin sampai kapan, masih mending mereka tidak tahu kebusukan istri kamu yang suka minum-minum nggak jelas." Sahut wanita paruh baya itu penuh cibiran.
" Ma..." Wanita paruh baya itu memalingkan wajahnya sebelum meninggalkan Andara serta Anak-anaknya.
" Sayang, doakan saja mama kalian! walaupun mama nggak bisa jalan lagi dia tetap mama kalian." Andara mencoba memberikan pengertian kepada kedua putrinya.
" Tapi pa! kata Oma mama nanti cuma ngerepotin kita aja nanti. Dulu juga mama sering ngomong ke Ade dan kak Alesya kalau kita hanya buat repot mama aja." Aduhnya lagi.
" Sayang apapun yang di lakukan mama, jangan di simpan ya! lupain aja. anggap aja mama sedang becanda. Dan apa yang di katakan Oma itu nggak benar, mama nggak mungkin ngerepotin kita." Andara tetap dengan mode bijak nya walaupun kepalanya sudah hampir pecahan memikirkan ulang mamanya serta keadaan di rumah ini kedepannya akan seperti apa.
__ADS_1
Bisa saja dia memulangkan mamanya untuk kenyamanan rumah ini, tapi mengingat putri ketiganya yang masih membutuhkan bantuan sang mama. Andara hanya bisa pasrah. Bukan karena tidak sanggup membayar perawat hanya saja, Andara akan lebih tenang jika ada El atau mama nya yang memantau mereka.
" Ya sudah sekarang kalian masuk ke dalam jangan lupa belajar ya. Papa sudah harus ke rumah sakit " Ucap Andara ketika mengingat Elana yang berada di rumah sakit sendiri.
" Iya pa." Keduanya mengangguk sebelum berlari ke kamar mereka meninggalkan Andara yang masih berjongkok di tempatnya. Terlihat jelas di wajahnya, kalau ia begitu lelah dan frustasi dengan keadaannya saat ini.
Setelah kepergian kedua putrinya Andara memutuskan untuk segera ke rumah sakit menemui Elana.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sore itu kebetulan di keluarga Xavier tengah merayakan ulangtahun Lisa dan Ken pun ada di sana. Jika Andara sedang sibuk untuk bolak-balik rumah sakit untuk menjaga Elana Di rumah sakit maka di tempat yang berbeda Ken pun melakukan hal yang sama ia juga bolak-balik kediaman Xavier, tentu saja dengan tujuan yang berbeda tentunya.
Di sana Andara sibuk menjaga serta merawat Elana, dan disini Ken sedang berusaha merebut hati dan meyakinkan Dian agar mau menerimanya.
Dan segala sesuatu yang awalnya sulit kini menjadi lebih mudah karena dukungan keluarganya serta keluarga Dian yang mengharapkan mereka untuk bersatu.
" Ion gue kok lama-lama kasihan sama bang Ken." Ucap Jayden. keempat orang itu seperti biasa duduk bersama sembari menatap tamu undangan yang tidak lain adalah anak-anak yang di temani orang tua mereka.
" Namanya juga cinta! mau dulu atau sekarang, aku lihat tatapan Bang Ken tetap sama pada ka Dian." Seru Reval, tatapan mereka kini berpindah pada Ken yang tengah menggendong baby Gio. Jika orang yang tidak mengenali mereka yang melihat itu pasti berpikir kalau Gio dan Ken itu ayah dan anak. Cara Ken menatap serta menjaga Gio itu begitu tulus, lelaki itu bahkan tidak tanggung-tanggung menunjukkan kasih sayangnya kepada Gio.
" Seandainya Ken itu aku, aku pasti menyerah." Sahut Jayden dan langsung mendapat lempar sendok dari Reval.
" Jangan so bijak dan merasa bisa deh, Kita berempat masih ingat bagaimana kondisi terakhir Dina sebelum kamu memutuskan untuk beneran mundur ya." Sindir Reval. Suami dari Luna Anastasia itu, ingat betul bagaimana panik dan takutnya saat istri kalah itu. " Kalau nggak mikir kamu itu sahabat aku, udah aku matiin kamu saat itu juga." Lanjutnya. Tawa Dion dan putra pun pecah seketika. pembahasan tentang Ken pun melebar ke Jayden.
" Tapi jujur ya, sampai saat ini aku masih_"
Plak!
Reval langsung mengeplak kepala Jayden. Sehingga lelaki itu tidak meneruskan ucapannya. " Jangan macam-macam ya." Ancamnya.
__ADS_1
" Iya-iya cuma satu macam deh." Sahut Jayden.
" Hai,, aku boleh gabung nggak nih?" tanya Ken lelaki itu menghampiri mereka sambil menggendong baby Gio.
" Boleh dong bang." Sahut mereka secara serempak.
Begitu Ken duduk bersama mereka, mereka pun melupakan pembahasan tentang Jayden dan membicarakan tentang cinta mereka untuk wanita mereka hingga merebat pada bisnis masing-masing.
Sementara itu di tempat yang sama para wanita tengah memeriahkan ulang tahun Lisa. Melly b begitu Antusias, ia tidak pernah membedakan Antara Lisa dan Hani walaupun secara naluriah dia masih tetap berat ke Hani begitu juga dengan Dian.
Setelah acara ulang tahun itu selesai Dian menghampiri Ken untuk mengambil baby Gio yang telah tertidur dalam dekapannya.
" Kak habis itu gabung ya sama kita." Pinta Dion. Tidak langsung di iyakan Dian.
" Mau ngapain?" Tanya Dian.
" Ngobrol aja, mumpung Luna sama yang lain disini, kapan lagi kita bisa kumpul kaya gini." Bujuk Dion.
" Oke." Dian pun berbalik meninggalkan mereka dan sempat melirik pada Ken.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading..💔💔...