
" Di, Apa kamu tahu? kalau An di penjara!" Ujar Ken. lelaki itu setengah duduk dan bersandar pada kepala ranjang, sementara Dian tengah berbaring menyamping dengan menjadikan dada bidang Ken sebagai bantal dan tubuhnya sebagai guling.
Keduanya baru saja selesai dengan permainan panas mereka." Tidak! Kenapa? apa kamu ingin aku menjenguknya." Jawab Dian sembari bertanya. Wanita itu terlihat menikmati usapan lembut Ken pada surai hitamnya.
" Kalau kamu menginginkan itu aku tentu saja akan mengizinkanmu dan menemani kamu nanti." Jawab Ken.
" Apa kamu tidak cemburu, jika aku bertemu dengannya." Tanya Dian lagi.
Ken tertawa kecil, kemudian menarik dagu Dian, sehingga ia dapat menatap wajah istrinya itu, di ikuti sebuah ciuman singkat seraya berkata. " Bukan hanya An, siapapun lelaki itu aku akan tetap cemburu. Tapi aku lebih mengutamakan kepercayaan dan kenyamanan dalam hubungan kita, bagi aku perasaan kamu lebih penting ketimbang perasaan aku sendiri. Dan sejauh aku mengenalmu, aku tahu kalau istriku ini adalah orang yang setia." Ken mengeratkan pelukannya kepada Dian. " Jadi bagaimana? apa kamu ingin menjenguknya atau tidak?" lanjut Ken lagi, masih dengan pertanyaan yang sama.
Dian langsung menjawab dengan gelengan kepala seraya berkata. " Tidak."
" Kamu yakin?"
" Ya, dia hanya bagian dari masa lalu aku. Jika aku tetap bersikap baik dan menghargai dia! semua itu, murni karena didikan orang tuaku dan contoh untuk putraku kelak. Aku tidak berkewajiban untuk mengunjunginya dan kalau dia ingin bertemu dengan Gio, ada kamu yang akan menjadi jembatan untuk mempertemukan dia dan Gio." Ken mengerutkan keningnya, lelaki itu berpikir apakah sebenci itu Dian kepada An. Dan belum sempat dia membuka mulutnya untuk menanyakan hal itu, kata-kata Dian berikutnya membuat dia takjub. " Jangan salah menilai ku, aku tidak membencinya ataupun mencintai lagi. Apa yang aku lakukan saat ini adalah caraku menjaga hubunganku dengan mu. Karena aku tahu betul, mencegah itu lebih mudah dari pada memperbaiki, sekali pun dapat di perbaiki, semuanya itu tidak akan bisa kembali seutuhnya seperti semula ada bekas yang tidak terlihat tapi dapat menjadi alasan sebuah pertengkaran dan prinsip ku ini sudah aku terapkan saat bersama dia. Kamu tahu itu."
Ken mengangguk, pikirannya pun berkelana pada beberapa tahun yang telah berlaku, dimana begitu sulit untuk mendekati Dian dulu.
" Aku sangat mencintaimu, maaf kalau aku kembali mengungkit tentang dia." Dia menggeleng kepalanya dan semakin merapat wajahnya pada dada bidang Ken.
" Aku tahu itu dan aku tidak akan marah untuk hal seperti ini. Sekarang kita lupakan tentang dia, dan sebaiknya kita tidur karena besok kamu harus bertemu dengan Adik ipar kamu dan teman-temannya." Ujar Dian mengalihkan pembicaraan mereka tentang Andara.
" Ada apa?" Tanya Ken.
__ADS_1
" Tidak perlu khawatir, ini bukan sebuah masalah."
" Baiklah, besok pagi aku akan langsung menemui nya?" putus Ken.
" Oke, selamat malam." Dian mencium singkat bibir Ken, sebelum berbalik untuk memunggungi Ken dan memejamkan matanya.
Belum sampai lima Detik kelopak mata Dian tertutup, bisikan lembut serta hembusan nafas pada kulit punggung dan bawah telinga Dian membuat kedua mata wanita itu kembali terbuka. " Maaf sayang seperti kita harus begadang lagi." Tanpa menunggu penolakan dari sang istri, Ken sudah menyerang Dian dengan menyentuh titik-titik sensitifnya membuat Dian tidak dapat menolak, di tambah kondisi Keduanya yang masih dalam keadaan tak mengunakan sehelai benang pun, membuat segala sesuatu begitu menguntungkan untuk Ken. Dan Keduanya pun terbuai dalam gelombang ken*kmatan.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi harinya, semua keluar Xavier berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama, pemandangan seperti ini sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi mereka. " Kata ka Dian, ada yang ingin kamu omongin sama abang! mau ngomong apa Ion." Tanya Ken, memulai obrolan di sela-sela sarapan mereka.
" Iya, tapi nanti siang! Itu kalau bang Ken nggak sibuk." Sahut Dion.
" Kebetulan hari ini aku nggak begitu sibuk." Akunya.
Setelah Dion pergi, Ken pun pamit kepada istri dan mertuanya, tak lupa ia juga kembali mengingatkan Dian untuk menemaninya menghadiri pesta pernikahan anak kliennya.
Hari itu terasa begitu sibuk, bukan hanya untuk Dion, Ken pun tak kalah sibuknya! keberhasilan perusahaan yang mereka tangani membuat mereka memiliki lebih banyak pekerjaan di kantor walaupun mereka sudah memiliki karyawan yang kompeten di bidang masing-masing, tetap saja sebagai pemimpin mereka tetap mendapatkan jatah pekerjaan yang lebih banyak dan lebih menguras otak untuk bersantai di dunia bisnis yang begitu kejam, karena sedikit saja mereka lengah akan ada pebisnis lain yang akan meruntuhkan kejayaan mereka dengan mudah. Sebab mempertahankan posisi itu lebih sulit dari pada saat kita meraihnya. Wajar jika pebisnis muda sekelas Reval, Dion, Jayden dan Ken bisa bertahan karena usaha dan kerja keras mereka.
Tepat jam makan siang, Ken tiba di salah satu restoran yang di sebut Dion dalam pesan singkatnya. " Bapak sudah di tunggu, mari saya antar." Ucap seorang pelayan ketika Ken mengatakan Tujuannya.
Tanpa banyak bertanya, Ken mengikuti langkah pelayan itu, hingga keduanya sampai di sebuah ruang VIP. " Silahkan pak." Ucap pelayan itu setelah membuka pintu untuk Ken.
__ADS_1
" Terima kasih." Ujar Ken, kemudian melangkah masuk meninggalkan wanita itu. Di dalam ruang VIP itu, sudah ada Reval, Dion, Jayden dan Putra. Keempat orang itu tengah duduk mengitari meja yang di penuhi hidangan mewah dan pasti nya mahal. " Maaf aku terlambat, tadi jalanan sedikit macet " Ucap Ken lagi, kepada Adik ipar dan sahabat-sahabatnya itu.
" Nggak masalah bang, kita juga belum lama." Sahut Jayden. Di angguki Reval dan yang lainnya.
" Tapi ngomong-ngomong ada apa nih! kayanya serius banget sampai kita harus membuat janji dan bertemu disini." Ucap Ken to the point. sambil menatap secara bergantian, keempat pria itu.
" Astaga bang, nggak usah tegang gitu, tujuan kita manggil Abang kesini, cuma untuk menyampaikan rencana liburan kita." Sahut Jayden lagi.
" Hanya itu?" tanya Ken lagi, ia tak habis pikir dengan mereka berempat! hanya untuk sebuah liburan mereka harus berkumpul dan menegosiasikan hal ini, seakan ini adalah sebuah tender yang membutuhkan banyak pemikiran dan pendapat untuk mendapatkan tender itu.
" Jangan salah paham bang! kita ini sudah terbiasa seperti ini, hal sekecil apapun kita akan merundingkan bersama-sama, karena saat seperti inilah momen kebersamaan kita. " Jelas Reval. " Dan kenapa kita memberi tahu bang Ken jauh-jauh hari, agar bang Ken bisa siap-siap untuk pergi bersama kita, tidak mungkinkan kita kasih kejutan kalau kita akan pergi terus bang Ken, main pergi aja tanpa menyelesaikan pekerjaan yang harus bang Ken tinggal, belum lagi bang Ken harus mendelegasikan perusahaan Abang kepada orang yang Abang percaya dalam mengurus perusahaan Abang selama Abang tinggal pergi. " Lanjut Reval lagi.
" Kita walaupun terlihat Santai tapi tetep mempunyai banyak pertimbangan." Ken kembali di buat takjub dengan persahabatan mereka, hal sekecil ini tapi begitu berarti dalam hubungan persahabatan mereka. " Selain berlibur, alasan sebenarnya adalah kita ingin merayakan bergabungnya bang Ken dalam persahabatan kita." Ajakan itu tentunya sebuah kehormatan untuk Ken.
" Aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari kalian." Ken mengangkat gelas anggur yang ada di hadapannya, kemudian mengajak mereka bersulang.
Setelah itu mereka pun membahas rencana liburan mereka yang akan di adakan satu Minggu lagi.
.......
.......
.......
__ADS_1
.......
...Happy reading..♥️♥️...