Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
Epilog


__ADS_3

Setelah pesta hari itu, Ken terus mengajak Dian, saat ia menghadiri acara apapun yang membutuhkan seorang pendamping. seperti, pernikahan, makan malam, pameran termasuk semua acara yang berhubungan dengan kalangan atas lainnya.


Bagi Ken Dian adalah istrinya dan sudah sepatutnya semua dunia mengetahui hal itu, ia ingin menunjukkan kepada dunia, besarnya cinta yang dia punya kepada Dian.


Bukan hanya Dian, Gio pun mendapatkan sosok ayah yang tulus mencintainya. Cinta Ken tidak berubah setelah Dian di beri kesempatan hamil lagi, begitu mereka pulang berlibur.


Ken sempat merasa khawatir dan sangat takut ketika mendengar istrinya itu hamil lagi! bagaimana tidak takut Dian lahirannya operasi. Beda cerita dengan Melly yang normal tapi sang adik ipar dan nyonya Sanjaya berhasil meyakinkan Dian kalau semuanya akan baik-baik saja.


" Bang Ken, dengar ya! memang bagusnya Dian hamil lagi saat usia Gio tiga tahun keatas atau lima tahun, tapi untuk kasus kali ini nggak papa, bahkan aku pernah ketemu ibu hamil yang anaknya baru empat bulan sudah hamil lagi, padahal anak sebelumnya lahir dia operasi." Ucap Melly, ketika mereka kembali berkumpul untuk merayakan ulang tahun Gio dan Aiden, yang sengaja di lakukan pada hari yang sama. walaupun usia Gio dua hari lebih tua dari Aiden.


" Benar kalian kaum lelaki terlalu berlebihan? dan kenapa kalian nggak pakai alat kontrasepsi aja." Luna pun turut membenarkan kata-kata Melly, sekaligus bertanya.


" Aku juga berpikir seperti itu! tapi Mbak kalian ini nggak! alasannya, ya karena dia susah hamil dan nggak mungkin juga akan hamil dalam waktu dekat." Jawab Ken Secara blak-blakan. Obrolan seperti ini sudah biasa untuk mereka, lagian mereka juga tau batasan untuk bercerita.


" Memangnya kalian tuhan." Sahut Reval dengan nada bercanda. Sementara yang lainnya hanya menggeleng kepalanya.


" Kakak hanya menduga saja! lagian kalian juga tahu sendiri seperti apa kondisi kakak." Ujar Dian, mencoba membela dirinya dan Ken di depan adik-adiknya yang selalu bercanda saat ada kesempatan dan bahan bercandaan seperti sekarang ini.


Mendengar kata-kata kakaknya, Dion Mendengus seraya berkata. " Aku tahu, tapi hidup terus berjalan! berhentilah melihat kebelakang karena, esok atau lusa kita tidak tahu akan seperti apa."


" Kamu terlalu serius Ion, sepertinya liburan kita kemarin itu terlalu singkat! bagaimana kalau kita liburan lagi, ya hitung-hitung untuk merayakan kehamilan mbak Dian." Sahut Jayden.


" Tidak." Kata itu kompak di ucapkan oleh, Dion, Reval, Putra dan Ken.


" Kenapa tidak! apa kalian keberatan untuk menyewa pesawat pesawat pulang pergi lagi, kalau iya! kita bisa bertukar! kali ini aku dan bang Ken yang akan membayar sewa pesawatnya. Dan kamu sama Reval bisa menanggung biaya makan kita." Jayden masih bersikeras dengan ide liburannya.


" Kalau kamu ingin liburan, silahkan ajak anak dan istri kamu untuk liburan sendiri. Aku tidak bisa, karena usia kandungan istriku sudah masuk tujuh bulan dan keselamatan istri dan anakku lebih penting dari pada kesenangan sesaat." Sahut Dion


" Abang pun tidak bisa, karena ini bukan tentang uang, kamu lihat sendiri mbak mu sedang hamil muda dan nggak boleh terlalu lelah."


" Dan aku memiliki dua perusahaan yang haru aku tangani dengan masing-masing anak cabang ada lebih dari sepuluh di berbagai kota dan luar negeri. Sementara putra kamu tahu sendirilah dia adalah tangan kanan aku, sekaligus orang yang aku percaya untuk mengelola perusahaan Sanjaya." Tegas Reval begitu Ken menyelesaikan kata-katanya.


Sementara Jayden, tidak dapat berkata-kata selain menatap mereka secara bergantian dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Begitulah mereka, di sela-sela rutinitas mereka yang padat, mereka selalu membagi waktu untuk keluarga dan jika ada kesempatan mereka akan memanfaatkannya untuk berkumpul walaupun hanya sejam atau pun semenit, karena waktu mereka sangat berharga sama seperti persahabatan mereka. Ken tentu saja merasa menjadi orang paling beruntung karena bisa bertemu dan bersahabat dengan Adik ipar dan sahabat-sahabatnya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


...POV Dian....


Hidup terus berjalan dan berputar seperti roda, apa yang akan terjadi kedepannya, kita tidak tahu akan seperti apa! Begitu pun dengan diriku.


Dulu aku selalu melakukan segala sesuatu sendiri, mengambil keputusan sendiri, terlalu percaya pada diri sendiri dan pada akhirnya aku merasa hidup sendiri. Padahal jelas aku punya keluarga, punya mama, punya papa dan sepasang adik laki-laki dan perempuan, lebih tepat adik dan adik ipar aku.


Bahkan aku tidak pernah bermimpi bisa berada di posisi ini, dimana aku di kelilingi orang-orang yang tulus mencintai aku dan bisa merasakan menjadi wanita seutuhnya.


Setelah menikah dengan Ken, hidupku yang awalnya terpuruk dan penuh air mata berubah sempurna dan penuh cinta, dalam sehari lebih dari sepuluh kali, Ken selalu mengucapkan kata-kata cinta untukku, tidak peduli aku membalas kata-kata itu atau tidak.


Dan kini aku kembali di beri kepercayaan untuk hamil lagi, Ken awalnya cemas tapi setelah di yakinkan oleh Melly dan Luna ia menjadi sedikit lebih santai tapi tetap siaga dengan keadaan aku dan selalu mengkhawatirkan aku, bahkan makan yang aku makan, dia sendiri yang memilih bahan-bahan. Dan satu yang membuat aku bisa luluh dan jatuh cinta kepadanya. Gio, sikapnya kepada Gio benar-benar tulus apalagi semenjak ia mengetahui aku hamil, ia lebih mencurahkan waktunya kepada Gio. Alasannya agar Gio tidak cemburu dengan adiknya.


Rumah keluarga Xavier yang dulunya sunyi senyap kini semakin ramai dengan di tambah hadirnya seorang anggota keluarga baru, Hanaya Dealin Xavier putri ke-tiga dari Dion dan Melly. Hadirnya Hana membuat putriku yang cantik itu sedikit cemburu dan selalu merajuk. Dan alasan itu juga membuat aku sedikit bersyukur saat dokter mengatakan janin dalam kandunganku berjenis kelamin laki-laki. Entah akan seperti apa Haaniya ku jika aku melahirkan adik perempuan nanti. Aku terlalu sayang kepada gadis kecil itu sampai takut untuk membuatnya kecewa.


Ken yang mengetahui hal itu, telah memutuskan untuk kita hanya memiliki tiga, anak saja, Haaniya, Gio dan Adiknya.


Setelah itu aku kembali berbaring di meja operasi. Dokter memberikan aba-aba dengan memintaku untuk mengangkat kakiku. percobaan pertama masih bisa, percobaan kedua semuanya terasa berat. Dan dokter pun kembali memberikan aba-aba untuk mulai. " Sayang ingat aku mencintaimu." Oh tuhan kenapa lelaki ini begitu berlebihan.


Untuk menenangkannya aku mengedipkan kedua mataku sebelum berangkat. " Aku juga mencintaimu." Ucapku begitu pelan tapi masih bisa dia dengar. Seketika itu merasa dahi ku di kecup berulang. Apa aku termasuk wanita beruntung karena memiliki dia? Entahlah aku sendiri tak tahu.


Dua jam kemudian aku dan bayi ku keluar dari ruang operasi dan di pindahkan keruang perawatan dengan satu dokter dan dua perawat yang di bayar Ken untuk merawat kami.


Saat hendak menutup mata untuk beristirahat, tiba-tiba pintu ruang rawat ku terbuka, Gadis kecil itu yang lebih dulu masuk di ikuti oleh orang dewasa lainnya. kali ini mereka semua kembali berkumpul di ruangan ku. Untung saja dua itu begitu luas jadi tidak masalah untuk aku dan bayiku.


" Bunda siapa namanya?" Tanya Hani, Iya terlihat begitu menyukai putraku yang baru berusia dua jam itu, tapi kenapa dia begitu cemburu kepada adiknya. Aku berharap semoga ia bisa menghilangkan perasaan cemburunya itu saat bertambah besar nanti. Gadis kecil itu telah duduk di kelas empat sekolah dasar dan akan naik ke kelas lima tapi usianya baru genap sembilan tahun, jadi wajar jika di mesin bersikap seperti itu. Tapi satu yang tidak di ketahui Dion dan Melly, bawah putriku yang terlihat manja di depan mereka sebenarnya gadis kecil pemberani dan penyuka tantangan. mereka juga tidak tahu kalau aku telah. Iya telah berlatih taekwondo semala dua tahun dan telah mendapatkan sabuk hijau tingkat dua. untuk anak-anak seusianya.


" Kamu ingin memberi nama dia siapa?" Aku bertanya kepada Ken.


" Abian Kaidar Louis." Jawab Ken.

__ADS_1


" Panggilannya Bian ya ayah?" Tanya Haaniya. Dan langsung mendapat anggukan dari Ken.


" Ada apa sayang?" Ken bertanya saat melihat raut kebingungan Hani.


" Bunda, apa menurut Bunda kita tetap saudara?" Dian tahu, yang di maksud kita itu, Haniya dan Abian.


" Tentu saja."


" Tapi Bunda, kenapa nama kita berbeda! Aku Haaniya Dianly Xavier, Ade Gio, Ahyan Giovanni Bagaskara dan Abian Kaidar Louis. Apa tidak Aneh bunda. sementara nama belakang aku, Ade Aiden dan Hana sama." Pertanyaan yang nantinya akan Di tanyakan Gio dan Bian saat besar nanti, sudah di tanyakan Hani terlebih dulu. Hal itu membuat aku maupun Ken tersenyum. setidaknya kami sudah memiliki waktu untuk memikirkan jawaban untuk mereka nanti tapi untuk saat ini.


Ken hanya bisa menjawab. " Kalian tetap saudara, soal nama itu bukan suatu masalah." Gadis kecil ku itu terlihat tidak puas tapi tetap Mengangguk kepalanya.


Aku berharap kehidupanku akan terus seperti ini. Dan anak-anakku bisa saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Untuk saat ini aku tidak membutuhkan apa-apa lagi, karena aku sudah memiliki segalanya. Ken, Hani, Gio dan Bian adalah hartaku yang paling berharga. terima tuhan sudah menghadirkan mereka dalam hidupku. Aku percaya akan adanya pelangi setelah hujan.


.......


.......


.......


.......


...****End****....


...Happy reading..πŸ’”πŸ’”...


...***Terima kasih untuk segala bentuk dukungan kalian tanpa itu semua! ceritaku ini bukan apa-apa....


...Maaf jika selama menulis cerita ini dan membalas komentar kalian ada kata-kata yang tidak sengaja menyinggung perasaan kalian. Aku mohon maaf, karena aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah dosa.πŸ™πŸ™...


...Sekali lagi terima kasih, semoga tuhan membalas kebaikan kalian dengan rejeki yang berlimpah dan kesehatan 🀲🀲Aamiin***....


Jangan lupa baca Novel selanjutnya. Tentang Dina.

__ADS_1



__ADS_2