
Setelah hari itu, Ken benar- benar menepati janjinya dengan datang ke rumah Dian keesokkan harinya dan begitu seterusnya selama seminggu ini. Lelaki itu pun telah mengetahui keberadaan Baby Gio dan tidak sulit untuk seorang Ken untuk dekat dengan baby Gio.
Mungkin karena Bayi yang baru genap delapan bulan itu, bisa merasakan ketulusan Ken kepada dia dan bundanya, sehingga baby Gio menjadi dekat dengannya Ken.
Semua itu terbukti dari baby Gio yang tidak pernah rewel saat berada dalam gendongan Ken dan sulit untuk di ambil lagi dari Ken, kecuali Dian yang memintanya.
" Kamu nggak ada kerjaan Ken?" Tanya Dian tanpa embel-embel kakak seperti biasanya, karena wanita itu mulai jengah dengan kehadiran Ken di rumahnya.
" Ada!" Jawab Ken langsung tanpa di tanya dua kali. lelaki itu begitu bahagia saat Dian hanya memanggil namanya saja.
" Terus ngapain disini? bukannya kerja." Tanya Dian lagi dengan nada ketusnya.
Ken tersenyum mendengar ucapan Dian, lelaki itu sepertinya mulai terbiasa dengan Sagala sikap dan ucapan pedas yang keluar dari bibir Dian untuknya.
" Pekerjaan aku lagi banyak banget Di, apalagi aku punya satu projek yang begitu penting dan kalau berhasil itu sangat menguntungkan untuk masa depan aku." Akunya kepada Dian.
" Kalau sudah tahu itu penting kenapa masih ada di sini." Saking kesalnya dengan Ken Dian sampai tidak sadar meninggikan suaranya.
Mendengar hal itu Ken tidak marah ia justru mendekati Dian hingga jarak keduanya begitu dekat " Projek yang aku maksud adalah mendapatkan hati kamu." Bisik Ken tepat Di telinga Dian.
Deg!
Jantung Dian langsung berdetak saat Dian merasakan hembusan nafas Ken di kulitnya. " Apaan sih kamu." Protes Dian sembari mendorong dada Ken.
Selama ini jantung Dian tidak pernah berdebar untuk Ken lagi. Bahkan sudah lama dia tidak merasakan debaran itu untuk Andara , semenjak mantan suaminya itu mengatainya murahan.
" Kenapa dorong aku! takut jatuh cinta lagi?" Ucap Ken penuh percaya diri.
__ADS_1
" Diih, siapa juga yang pernah jatuh cinta sama kamu, baik dulu mau pun sekarang aku nggak pernah ya cinta sama kamu! kamu nya aja yang terlalu percaya diri dan terbawa perasaan." Cibir Dian. Entah kenapa dengan Ken Dian selalu saja ingin menyakiti terus dan terus.
" Namanya juga udah cinta mau di Katai seperti apapun ya tetap aja aku cinta." Sahut Ken.
" Ken pulang sekarang atau aku panggil Security buat ngusir kamu." Usir Dian.
" Di, jangan gitu! Ken itu tamu. masa tamu di perlakukan seperti itu, mama nggak pernah ngajarin kamu kaya gitu loh." Tegur mamanya. wanita paruh baya itu berjalan ke arah Dian dan Ken dengan baby Gio berada dalam Gendongannya. " Nak Ken, kamu belum mau pulang kan?" Ken langsung menggeleng kepalanya dengan cepat.
" Belum Tante." Jawabannya.
" Nggak kok mah! ini Ken udah mau pulang." Sahut Dian, wanita itu bahkan menarik tangan Ken untuk keluar.
" Tumben kamu nggak manggil Ken dengan embel-embel kakak lagi, di depan. " Ucap sang mama ketika menyadari putrinya hanya memanggil Ken dengan nama saja. " Tapi bagus begitu Di! karena seingat mama, kamu tidak punya kakak deh." Lanjutnya membuat Dian langsung menghempaskan tangan Ken dengan kasar.
" Mama apa-apa sih, ngomong kaya gitu." Protes Dian tetapi di abaikan wanita paruh bayah itu.
" Ken, Tante titip Gio sebentar ya! soalnya Tante mau ngurusin Aiden dulu, tau sendiri mamanya lagi hamil muda." Ucap wanita paruh baya itu sembari menyerahkan Gio kepada Ken.
" Di kamu nggak boleh gitu. Mama nggak suka ya." Tegur sang mama. Sementara Dian hanya Diam. " Ken Tante tinggal dulu ya."
" Iya Tante." Wanita paruh baya itu pun meninggalkan Ken, Gio dan Dian.
" Sini balikin anak Aku." Ucap Dian begitu mamanya pergi. Tetapi Ken tidak merespon ucap Dian ia sibuk membuat baby Gio tertawa, dengan mengangkat baby Gio tinggi kemudian menurunkan baby Gio dan mendusel-dusel wajahnya perut baby Gio.
Ken bahkan berjalan menjauh saat Dian menghampiri mereka, ia membawa baby Gio ke taman yang ada di rumah Dian, kemudian mengajak baby Gio bercerita seakan keduanya dapat mengerti ucapan satu sama lain.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Disisi lain setelah melewati masa kritisnya, akhirnya El sadar dan satu hal yang di lakukan wanita itu saat mengetahui kondisinya, adalah menjerit dengan begitu histeris. Tentu saja dia tidak terima dengan kondisi nya saat ini, sehingga dokter harus memberikannya obat penenang.
" Kenapa semua jadi seperti ini." Ucap Andara sembari mengusap wajahnya. lelaki itu kini duduk di temani Kevin. " Aku kehilangan Dian, nggak bisa ketemu sama putra ku dan sekarang Elana jadi seperti ini." Keluhnya kepada sahabat sekaligus sepupunya itu.
" Sabar An, ini semua ujian buat kamu! dan aku yakin kamu bisa melewati semua ini, sekarang yang harus kamu lakukan itu, meyakinkan Elana agar dia mau menerima kondisinya saat ini. ingat anak-anak membutuhkan kalian berdua." Ucap Kevin dengan bijaknya.
" Aku nggak tahu Vin, apa aku bisa melewati semua ini."
" Aku yakin kamu bisa An, mungkin sekarang berat tapi perlahan semuanya akan terbiasa dan kembali membaik." Kevin terus menyemangati Andara. walaupun ia sendiri belum tentu bisa, jika berada di posisi Andara. sebab bicara itu gampang yang sulit itu saat kita menjalani semuanya.
" Tapi bagaimana cara aku meyakinkan mama, kamu tahu sendiri kan, mama ingin aku menceraikan El."
" An, kamu harus belajar dari kesalahan dan jangan mengulang kesalahan yang sama, ingat dulu kamu menikahinya karena Dian tidak dapat memberikan kamu anak dan semua itu atas permintaan Tante. sekarang kamu tidak bisa membuangnya hanya karena Dian lumpuh. Kamu kepala rumah tangga, semua kamu yang menentukan dan tidak semua ucapan Tante harus kamu turutin." Sahut Kevin panjang kali lebar membuat Andara terdiam dan menimbang-nimbang apa yang di Kevin barusa.
Andara beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju ruang rawat Elana dan melihat kondisi istri nya itu.
" Apa yang di ucapkan Kevin memang benar, sudah saatnya aku memperbaiki semuanya." Ucap Andara di dalam hatinya.
Lelaki itu menghampiri ranjang Elana dan duduk di sana, kemudian tangan kanannya menggenggam erat tangan Elana sementara tangan kiri mengusap kepala wanita itu. " Kamu yang kuat ya El! kita akan mulai semuanya dari awal demi anak-anak kita." Ucapnya setelah itu mengecup kening Elana. rasa bersalah kepada wanita itu membuat Andara menentukan sikap untuk hubungan mereka walaupun Ia tidak sepenuhnya lupa dengan Dian.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung....
...Happy reading..💔💔...