
Setelah acara ulang tahun itu selesai Dian menghampiri Ken untuk mengambil baby Gio yang telah tertidur dalam dekapannya.
" Kak habis itu gabung ya sama kita." Pinta Dion. Tidak langsung di iyakan Dian.
" Mau ngapain?" Tanya Dian.
" Ngobrol aja, mumpung Luna sama yang lain disini, kapan lagi kita bisa kumpul kaya gini." Bujuk Dion.
" Oke." Dian pun berbalik meninggalkan mereka dan sempat melirik sekilas pada Ken.
Wanita itu melangkahkan kakinya meninggalkan mereka yang hanya menatap ibah punggung Dian. " Kurang nya kakak aku itu dimana ya. Soal penampilan tidak perlu di ragukan, wajah apa lagi! haruskah aku mengatakan dia bodoh karena terlalu baik." Ujar Jayden.
" Yang bodoh bukan Dian tapi kamu." Sahut mamanya Dian. Entah muncul dari mana wanita paruh bayah itu sudah berada di antara mereka.
" Koh, aku sih Tante! Emangnya aku kenapa, sampai di bilang bodoh sama Tante aku yang cantik ini." Jayden menghampiri mamanya Dion, memeluk pinggang wanita paruh baya itu dari belakang dan mendaratkan satu ciuman di pipi kanan wanita paruh bayah itu.
" Lepas Jay!" Wanita paruh itu memukul pelan Tangan Jayden yang melingkar di pinggangnya, sementara Dion hanya geleng-geleng kepala melihat ulah sepupunya itu." Tanya saja sama diri kamu sendiri. Kamu itu sebelas dua belas dengan Andara." Lanjutnya.
" Benar Ma." Sahut Dion, langsung di iyakan yang lainnya dan tentu saja jayden akan menyangkalnya, membuat ruangan itu menjadi riuh dengan perdebatan mereka.
Disisi lain, Dian yang baru tiba di kamarnya, langsung membaringkan tubuh mungil baby Gio di Ranjang Queen size miliknya. Dian pun ikut berbaring di samping baby Gio dengan menopang dagunya, sehingga ia bisa dengan puas memandang wajah putranya itu.
" Kamu terlihat nyaman sekali dengan om Ken, sayang! Tapi Bunda kamu ini terlalu takut untuk memulai hubungan baru. Nggak papa kan sayang, kalau cuma kamu sama bunda aja." Dian menggenggam tangan mungil baby Gio, sesekali ia mengecup punggung tangan putranya itu. " Maafkan bunda karena belum bisa memberikan keluarga seutuhnya untuk kamu, Bunda harap ketika kamu besar nanti, kamu bisa mengerti." Ucap Dian lagi seolah baby Gio dapat mendengar dan memahami apa yang mengganjal di hatinya saat ini. Dian mengecup Kening Gio dan ikut memejamkan matanya di samping baby Gio, entah Dian lupa atau sengaja dengan mereka yang tengah menunggunya di bawah.
Sementara itu, mereka yang tengah menunggu Dian, mulai bertanya-tanya kenapa Dian belum turun padahal dia hanya menidurkan baby Gio.
" Mungkin Gio nya kebangun, makanya Dian lama." Sahut Ken, lelaki itu hanya berpikir positif aja.
" Biar aku lihat." Dion langsung berdiri dari duduknya tanpa menunggu, balasan dari teman-temannya, sementara sang mama sudah meninggalkan mereka sejak tadi.
Begitu langkah kaki Dion sampai di anak tangga terakhir ia berpapasan dengan papanya. " Kamu mau kemana?" Tanya papanya.
" Mau panggil kak Dian pa! anak-anak sedang menunggunya dia di bawah."Jawab Dion.
__ADS_1
" Dian sedang tidur, kamu ikut papa sebentar ada yang harus kita bicarakan."
" Tapi bagaimana dengan mereka." Tanya Dion.
" Hanya sebentar, papa yakin mereka bisa menunggu, lagian di sana sudah ada Melly kan?" Dion mengangguk. keduanya pun berjalan menuju ruang kerja papanya.
Dion dan papanya duduk saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas dan lelaki paruh baya itu pun mulai menceritakan apa yang dia dengar.
Awalnya lelaki paruh itu pergi ke kamar Dian untuk memberikan map yang di titipkan salah satu karyawan butik Dian kepada putrinya itu, tetapi secara tidak sengaja lelaki paruh baya itu malah mendengar apa yang di katakan Dian kepada Gio dan beliau pun menceritakan itu kepada Dion.
" Papa tidak mungkin membiarkan Dian membesarkan Gio seorang diri, biar bagaimanapun Gio dan kakak kamu membutuhkan sosok yang bisa melindungi mereka, sekali pun ada kamu dan papa." Ucapnya.
" Aku juga nggak akan membiarkan hal itu terjadi, aku ingin kakak bahagia Pa ."
" Papa tahu, papa juga menginginkan hal itu. Tapi kamu tahu sendiri kan, kita tidak bisa maksa kakak kamu dan sebenarnya papa juga takut kalau suatu saat kakak kamu akan kembali pada Andara mengingat ada Gio yang mengikat mereka." Dion terdiam.
" Biar aku bahas masalah ini sama anak-anak mumpung mereka ada disini, kebetulan Bang Ken juga belum pulang." Ujarnya setelah cukup lama terdiam dan berpikir.
" Lama banget Ion." Ucap Putra saat Dion kembali duduk di tempatnya.
" Tau nih, nggak menghargai tamu banget." Sahut Jayden.
" Kalian dari dulu selalu gini ya, nggak pernah berubah, padahal udah bapak-bapak." Sahut Ken.
" Umur boleh tua bang, tapi jiwa muda harus tetap ada dong." Sahut Reval di setujui Ken, putra dan Jayden sementara Dion hanya Diam memikirkan kakaknya.
" Honey, gabung sini, ada yang mau aku bicarakan, yang lain juga boleh." Panggil Dion kepada Melly yang tengah berkumpul bersama Nurul dan Luna tak jauh dari mereka. Tatapan begitu serius, karena apa yang akan dia bicarakan itu sangatlah penting.
Melly dan yang lain pun ikut bergabung bersama Dion dan teman-temannya tanpa banyak bertanya. Sebab tatapan Dion terlalu menunjukkan keseriusan.
Begitu semua orang telah duduk di tempat masing-masing, Dion pun mulai berbicara dan begitu dia selesai semua pandangan mereka berpindah kepada Ken.
" Aku serius dengan Dian, disini aku tidak menjanjikan apa-apa! tapi akan aku usahakan semampu yang aku bisa agar dia tetap tersenyum begitu pun dengan Gio. aku mencintai Dian melebihi diri aku sendiri dan jika kalian ingin meminta aku membandingkan Dian dan mamiku. aku lebih mencintai Dian Maaf bukan apa-apa karena mami aku juga mengharapkan seperti itu." Jelas Ken.
__ADS_1
" Terus bagaimana cara menyatukan mereka kalau mbak Dian saja jelas-jelas menolak bang Ken?" Sahut Luna.
" Kita tidak mungkin memaksa kak Dian By." Melly pun turut buka suara. " Kalian tahu, posisi Dian selama ini begitu sulit, banyak trauma dari luka masa lalu dalam dirinya yang harus ia sembuhkan dulu, baru mungkin dia akan percaya diri lagi untuk berkomitmen." Lanjut Melly.
" Tapi aku percaya kalian bertiga bisa membuat kak Dian mau berkomitmen, Masa nyonya Sanjaya dan Xavier bisa menyingkirkan duri penghalang tapi tak bisa menyuburkan tanaman yang layu." Sindir Jayden. entah kapan lelaki itu akan serius dalam berbicara, walaupun kata-katanya cukup memotivasi Luna dan Melly.
" Kamu nantagin aku." Tanya Luna.
sementara Jayden hanya menaikkan kedua bahunya.
" Bagaimana jika kamu ngomong sama om Xavier untuk menjodohkan Kak Dian dengan bang Ken, seperti perjodohan dua keluarga. dan bag Ken juga bicara sama orang tua bang Ken. urusan meyakinkan Kak Dian biar menjadi tanggung kita semua, bagaimana?" Tanya Reval, sebelum istrinya itu mencekik sahabat nya.
" Oke, nanti Aku coba bicara sama papa." Sahut Dion.
" Keluarga ku pasti akan setuju terlebih mami aku." Sambung Ken.
" Bang semua yang kita lakukan nanti adalah bentuk dukungan kita untuk kalian berdua, untuk itu kami berharap bang Ken dapat menepati janji bang Ken." Lelaki itu mengangguk kepada Melly.
" Ingat ya bang kita bisa memberi dukungan untuk kalian dan kita juga bisa menghancurkan hubungan kalian kalau sampai bang Ken membuat satu tetes saja air mata mbak Dian jatuh." Ancam Luna.
" Pantas istri aku kalah, lawannya mode begini." Suasana yang tegang itu langsung berubah menjadi tawa karena Jayden yang menatap takut pada Luna.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💔💔...
__ADS_1