Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
Undangan ulang tahun


__ADS_3

Setelah melewati serangkaian kesibukan sana sini, Akhirnya garden party itu sembilan puluh persen siap tepat dua hari sebelum pernikahan dan pihak keluarga menyerahkan semuanya untuk wedding organizer menyelesaikan sisanya dan mereka di sibukkan dengan hal lain termasuk membagi undangan dan mengurus gaun pengantin dadakan itu.


Walaupun persiapan mereka serba mendadak! Tetapi hasilnya tidak kalah dari pesta yang Di siapkan berbulan-bulan.


Meraka sengaja memilih konsep garden party agar Dian Tidak curiga, karena konsep garden party sendiri terlihat lebih simpel dan cocok untuk acara apapun, mengikat pesta itu sendiri digelar bersamaan dengan ulang tahun Hani. Selain karena ulang tahun Hani, tema garden party sendiri di pilin karena gadis kecil itu begitu menyukai warna hijau dan putih.


Jika anak-anak perempuan pada umumnya lebih menyukai warna merah muda, maka gadis kecil nih berbeda. Kedua matanya akan selalu berbinar ketika bertemu benda apapun yang berwarna hijau maupun putih, bahkan dia akan langsung merengek kepada Dion dan Melly maupun Dian untuk membelikan benda itu walaupun Hani sendiri tidak tahu kegunaannya untuk apa, tapi seiring berjalannya waktu Hani mulai terbiasa memilih sesuatu yang benar-benar dia dibutuhkan saja, tidak asal merengek lagi.


" Bunda bunda, bunda dimana sih." Teriak Hani sambil mencari keberadaan Dian. Di tangan kanan gadis kecil itu terdapat sebuah undangan berwarna hijau mint.


" Sayang bunda di sini." Sahut Dian dari arah ruang kerja Dion. Gadis kecil itu pun berlari menghampiri Dian.


Begitu sampai di hadapan Bundanya, Hani langsung memberikan undangan yang dia pegang kepada Dian dan berkata. " Teman-teman aku sudah mendapatkan undangan mereka, tapi Alesya dan Eliana dari rumah bunda yang lama belum, bunda! boleh kah Hani ke sana untuk mengantarkannya sendiri?" Hani menatap wajah Dian sembari memohon. " Boleh ya bunda, Eliana baik kok bunda, dia sering meminta Hani untuk mengajarkan dia pelajaran yang dia tidak mengerti, Soalnya Alesya tidak mau, jadinya dia minta tolong ke Hani. boleh ya Bunda! Hani mohon, besok akhir pekan jadi Hani tidak bisa bertemu dengannya untuk menyerahkan undangan ini." Ucap Hani lagi sembari menjelaskan alasan kedekatannya dengan kedua anak mantan suaminya itu.


" Sayang.." Dian ingin menolak dan menyarankan orang lain untuk mengantar undangan itu, tetapi suara intrupsi sang adik di belakang sana membuat Dian mau tak mau menatap kepadanya sembari bertanya. " Apa kata mu?"


" Aku bilang kakak yang akan mengantar Hani, ke rumah Eliana." Jawab Dion, lelaki itu tengah berdiri sambil bersandar pada kusen pintu dan melipat kedua tangannya di dada.


" Apa kamu salah makan?" Tanya Dian, mengingat adiknya itu begitu melarang keras dirinya untuk bertemu dengan Andara maupun keluarga mantan suaminya. Tetapi lihatlah, dia sendiri yang mendorong Dian pergi ke sana. " Katakan apa rencana kamu sebenarnya." Seketika itu tawa Dion langsung pecah.


Membuat Hani menatap takut kepada Daddy nya itu. " Daddy." Panggil Hani. Dion pung menghampiri Hani dan mengangkat tubuhnya sebelum mendarat sebuah ciuman di pipi putrinya.


" Daddy baik-baik saja jika itu yang kamu takut kan." Ujarnya kepada sang anak sementara Dian masih menunggu jawaban darinya. " Bunda Akan mengantar kamu ke tempat Eliana, sekarang kamu siap-siap ya. nanti Bunda akan menyusul." Lanjutnya.


Gadis kecil itu memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Dian seraya bertanya. " Benaran kah bunda?" Dian melirik Dion, sesaat kemudian Dian mengangguk-anggukkan kepalanya begitu mendapatkan isyarat dari adiknya itu. " Yeeeh Asyik bunda yang terbaik. Terima kasih bunda." Gadis kecil langsung di turunkan oleh Dion kemudian menghampiri Dian meminta wanita itu berjongkok sebelum dia mengecup pipi Dian dan meninggalkan Bunda serta Daddy-nya untuk bersiap-siap.

__ADS_1


" Katakan apa rencana kamu?" Dian kembali mengulang pertanyaannya.


" Kalau aku tidak salah ingat, rumah yang di tempati Mantan suami kakak dan istrinya yang sekarang adalah hadiah untuk kakak, yang berarti rumah itu milik kakak, benarkan?" Ucap Dion dengan santainya sembari berjalan memutari tubuh sang kakak.


" Ya itu benar! Dan bisakah kamu langsung ke intinya saja." Jawab Dian, wanita itu mulai tidak sabaran dengan tingkah Dion yang membuat dia merinding sekaligus cemas.


" Kenapa kakak tidak mengambil apa yang menjadi milik kakak." Tanya Dion.


" Karena kakak tidak membutuhkannya."


" Kalau begitu, kakak bisa menyerahkan kepada Hani sebagai hadiah." Dian langsung memutar kedua matanya.


" Dik, kakak masih mampu membeli rumah lebih bagus dari rumah itu untuk Hani. lagian kakak juga sudah menyiapkan Hadiah untuk Hani."


" Tapi rumah itu milik kakak."


" Terima kasih kak! karena sekecil apapun aset yang kita punya kita harus menjaganya, jika ingin menyumbangkan. Kita harus menyumbang kepada orang yang benar-benar membutuhkan." Ujarnya.


" Jadi menurut kamu, Hani adalah orang yang membutuhkan rumah itu." Dion menggeleng kepalanya.


" Hani hanya alasan untuk mengambil apa yang menjadi milik Gio." Jawab Dion di dalam hatinya. " Sebaiknya kakak segera turun karena dia sedang menunggu kakak di bawah." Dion mengalihkan pembicaraan dan melirik Hani yang tengah duduk menunggu Dian, Dian pun mengikuti arah pandangan Adiknya.


Dan dia pun bergegas menuruni anak tangga untuk menemui keponakannya karena dia tahu gadis kecilnya itu sedikit tidak sabaran kalau di buat menunggu.


Setelah itu keduanya langsung pergi ke rumah Dian yang saat ih ditempati oleh Andara dan keluarga kecilnya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untuk keduanya sampai di rumah Dian. Setibanya di sana langsung memencet bel rumah itu, tak lama setelahnya pintu rumah itu terbuka. Baik Dian maupun Andara keduanya sama-sama terkejut.


" Maaf mas aku menganggu waktunya. Hani akan berulang tahun jadi di ingin mengundang Eliana dan Alesya! Apa mereka ada?" Tanya Dian, setelah mengontrol dirinya.


" Masuk lah. Mereka kebetulan sedang Les, mungkin setengah jam lagi baru pulang apa kalian ingin menunggu di dalam?" Tanya Andara.


" Sayang." Panggil Dian kepada Hani, membuat Andara salah tingkah tetapi Dian tidak punya waktu untuk melihat tingkah pria itu, bahkan dia tidak berminat sama sekali untuk masuk kedalam rumahnya sendiri.


" Nggak perlu Bunda kita titipkan saja." Gadis kecil itu menggeleng kepalanya kemudian menyerahkan undangan ulang tahun itu kepada Andara. " Uncle tolong ya, Aku harap Eliana dan Alesya bisa datang nanti."


Andara berjongkok dan menyesuaikan tingginya dengan Hani, Kemudian berkata." Mereka akan datang, karena uncle sendiri yang akan mengantar mereka."


" Terima kasih uncle. Bunda ayo kita pulang." Setelah mengucapkan terima kasih Hani langsung berbalik menarik pergelangan tangan Dian untuk pergi.


" Sebentar sayang." Dian menahan Hani, kemudian menatap kepada Andara. " Aku harap mas segera mengosongkan rumah ini, karena rumah ini akan aku berikan kepada Hani sebagai hadiah ulang tahunnya." Ucap Dian dengan tegas. Tanpa menunggu jawaban dari Andara Dian langsung berbalik dan pergi dari sana.


" Sebegitu bencinya kamu sama aku Di, sampai Hadiah pemberian aku, kamu berikan kepada keponakan kamu, sementara ada anak kita yang lebih berhak." Gumam Andara sembari menahan nyeri di dadanya.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung....


...Happy reading..💔💔...


__ADS_2