
Setelah meninggalkan rumahnya! Dian dan Hani itu mampir di sebuah kedai Es krim yang mereka lewati saat keponakannya itu merengek untuk mampir, karena Dian tidak bisa menolak permintaan Hani mereka akhirnya mampir di kedai Es krim itu.
" Hani mau rasa vanilla dan coklat bunda." Ujar nya, dan Dian pun mengangkat kemudian memesan dua porsi Es krim untuk dirinya dan Hani. Setelah itu ia memilih meja paling pojok yang berhadapan langsung dengan jalan dan mengajak Hani untuk duduk di sana.
Tak lama setelah mereka berdua duduk, pelayan pun mengantarkan pesanan mereka. Begitu pelayan itu pergi setelah di berikan tips oleh Dian, Hani langsung menyantap Es krimnya sementara Dian sendiri masih asyik dengan ponsel di tangannya. Entah kenapa benda pipi itu, menjadi paling berarti beberapa hari belakangan ini, padahal tidak ada pesan atau panggilan yang masuk, tetapi wanita itu sudah terus mengecek ponselnya, seakan tengah menunggu pesan atau telpon dari seseorang. Dian kembali mendesah kecewa kerena apa yang di tunggu tak kunjung datang.
" Bunda, Es krim nya." Ucap Hani sambil menunjuk ke arah Es krim Dian yang telah mencair karena terlalu lama di abaikan.
" Astaga, bunda sampai lupa." Akunya, sambil mengambil tissue yang di sediakan tidak jauh dari tempatnya, kemudian membersihkan lelehan es krim itu, setelah tersadar dari lamunannya.
" Bunda kenapa?" Tanya Gadis kecil itu. begitu dia selesai dengan Es krim nya.
"Bunda baik-baik saja sayang." Jawab Dian seakan mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Hani. " Hani sudah selesai? kita pulang sekarang ya." Gadis kecil itu mengangguk dan keduanya pun meninggalkan kedai Es krim itu.
Saat berada dan perjalanan menuju kediaman Xavier, ponsel Dian berdering membuat ia harus menepi kan mobilnya di pinggir jalan kemudian bergegas menjawab panggilan telepon itu walaupun dengan raut kecewa begitu melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
" Iya Lun, ada apa?" Tanya Dian begitu menggeser icon berwarna hijau kemudian, menempelkan benda pipi itu ke telinganya.
"........" Tidak tahu apa yang di ucapkan Luna dari seberang sana, tetapi hal itu membuat kening Dian berkeriput, seakan ia tengah memikirkan sesuatu.
" Mbak rasa nggak perlu deh, lagian ini hanya acara perjodohan biasa, jadi kalian nggak perlu sampai harus serepot ini." Ujar Dian. Tetapi wanita di seberang sana jauh lebih keras kepala dari Dian, membuat Dian mau tak mau harus menuruti perintahnya. " Baiklah mbak kesitu sekarang." Ucapnya sebelum mengakhiri panggilan itu.
" Sayang kamu mau temani bunda beli baju atau bunda antara pulang." Tanya Dian kepada keponakannya.
" Hani temani bunda aja ya." Jawabannya meminta persetujuan Dian.
" Iya sayang." kemudian ia pun melanjutkan perjalanannya menuju butik dimana Luna tengah menunggunya bersama Melly dan Dina.
__ADS_1
Berhubung butik yang di kasih tahu Luna tidak jauh dari lokasi mereka, Dian pun tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.
" Sayang ayo." Wanita itu melepaskan sabuk pengaman Hani dan miliknya setelah memarkirkan mobilnya, kemudian keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam butik itu.
" Syukurlah mbak sudah datang, sekarang mbak coba kebaya ini." Pinta Luna sambil mendorong tubuh Dian menuju ruang ganti pakaian. Tanpa memberikan kesempatan untuk wanita itu duduk maupun protes kepada mereka.
Begitu tirai ruang ganti itu terbuka. Bibir ketiga wanita itu tak tahan untuk memuji penampilan Dian yang mengunakan kebaya itu.
" Astaga Mbak cantik banget." Ujar Luna dengan tulus.
" Benar sangat cantik Mala, tinggal di poles sedikit mbak sudah bisa menjadi ratu sehari." Sahut Dina, wanita itu turun membenarkan ucapan Luna.
" Bunda is so beautiful." Gadis kecil itu turun menyuarakan pendapatnya.
" Benar sekali, kakak aku ini sangat cantik." Melly berjalan menghampiri Dian dan merangkulnya dari belakang.
" Untuk mbak Dian! kita sengaja siapin ini untuk mbak Dian, anggap aja ini hadiah dari kita untuk mbak Dian, karena di pernikahan sebelumnya kita belum kenal. jadi pernik_" Dina menyiku lengan Luna dan memohon ucapan sahabatnya.
" Maksudnya perjodohan mbak kita ingin memberikan yang terbaik. Iya kan?" Luna dan Melly kompak mengangguk.
Hampir saja Luna keceplosan dan merusak semua. " Kalian yakin? tidak ada yang di sembunyikan dari mbak." Tanya Dian lagi. wanita itu masih menatap mereka. Karena sesungguhnya dia mulai curiga dengan semuanya tetap mereka begitu hati-hati bahkan Art di rumah mereka seakan kompak untuk menyembunyikan hal sebesar ini.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tidak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat hari yang di tentukan kini tinggal menghitung jam, segala persiapan pernikahan telah siap.
Pernikahan Dian dan Ken sengaja di lakukan dua jam sebelum acara ulang tahun Hani, bahkan semua tamu yang di undang pun telah berdatangan dan duduk di kursi yang telah di sediakan.
__ADS_1
Dian sendiri pun telah Selesai di make up oleh MUA terbaik pilihan nyonya muda Sanjaya dan Xavier tentunya. kedua wanita itu begitu antusias menyiapkan semuanya untuk Dian. Bahkan kehamilan Melly pun tidak menghambat pergerakannya untuk memberikan yang terbaik kepada sang kakak. walaupun di tengah kesibukannya menyiapkan itu semua dia masih sempat-sempatnya mengalami morning sickness.
" Di." Tuan Xavier masuk kedalam kamar putrinya, begitu MUA yang bertugas menyelesaikan pekerjaannya. Dan duduk berhadapan langsung dengan Dian, lelaki paruh baya itu tentunya tidak ingin putrinya itu pinsang karena terkejut dengan ini semua jadi dia memutuskan untuk memberi tahu semuanya.
" Ada apa Pa?" Tanya Dian sembari menggenggam tangan papanya.
" Maafkan papanya nak! papa telah menyiapkan semua ini tanpa persetujuan kamu." Ujar lelaki paruh bayah itu sambil menatap sendu wajah putrinya.
" Kenapa papa harus minta maaf dan ngomong seperti itu. lagian dari awal kan Dian udah setuju dengan perjodohan ini." Sahut Dian, membuat tuan Xavier semakin merasa bersalah kepada Dian.
"Tapi Nak_"
" Sudahlah pa, Dian nggak papa kok! kalau pun Dian belum siap kan masih ada beberapa bulan lagi untuk Dian siapa menempuh hidup baru dengan pasangan Dian kelak." Dian langsung memotong ucapan sang papa, sebelum lelaki paruh baya itu menyelesaikan ucapannya. " Papa nggak perlu khawatir Dian baik-baik saja." Lanjutnya lagi. untuk menyakinkan papanya.
" Tapi nak! ini bukan acara perjodohan seperti yang kamu pikirkan, tetapi ini adalah acara pernikahan kamu. Tolong maafkan papa mu ini, karena telah berlaku egois kepadamu." Seketika itu tubuh Dian langsung membeku. Dunianya seolah berhenti saat itu juga.
" Per-ni-kah-an pa." Ucap Dian terbata-bata. seakan dua kata itu bagaikan narasi panjang yang harus dia ucapkan dalam satu tarikan nafas.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading..💔💔...