
Dian yang tengah terlelap, harus merelakan tidurnya terusik karena suara tangisan baby Gio. Dian perlahan membuka kedua matanya dan melihat ke arah Baby Gio. Balita mungil itu, sedang tengkurap sambil berusaha memasukkan rambut Dian yang berada dalam genggaman tangannya ke dalam mulut. Begitu dia merasa tidak ada yang masuk ke dalam mulutnya, maka baby Gio akan berteriak, mengomel tak jelas dan berakhir dengan menangis seperti sekarang ini.
" Sayang jangan di makan! " Tegur Dian Sambil mengangkat tubuh baby Gio dan melepaskan rambutnya dari genggaman tangan baby Gio dengan begitu hati-hati. " Kamu udah haus ya! kasih anak bunda." Wanita itu mencium pipi baby Gio sembari bergerak dengan perlahan turun dari tempat ternyaman nya, berpindah pada sofa single yang sengaja di siapkan agar Dian nyaman saat duduk menyusui baby Gio.
Cukup lama Dian mengusap punggung Baby Gio yang tengah menyusu padanya, setelah yakin baby Gio sudah tidak haus lagi, Dian memberikan putranya itu main yang bisa di gigit agar baby Gio tidak rewel saat Dian mengantikan pakaian, mengingat tadi Dian tidak sempat mengantikan pakaian baby Gio karena balita itu telah tertidur.
" Kok baru jam delapan! apa mereka udah pulang ya." Dian berbicara pada dirinya sendiri saat melihat ke arah jam dinding kamarnya. Ia segera menggendong baby Gio dan bergegas menuju ruang keluarga dimana Dian pamit meninggalkan Adik serta teman-temannya untuk menidurkan baby Gio, Mala dia ikut tertidur. " Kenapa aku bisa lupa sih." Dian ngedumel sambil menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa-gesa.
" Di hati-hati, kalian bisa jatuh nanti." Tegut sang mama, membuat Dian berhenti.
" Maaf ma." Dian menyengir tanpa dosa
" Mau kemana? sampai buru-buru gitu."Tanya mamanya.
" Luna dan yang lainnya udah pulang ma?" Bukannya menjawab Dian Mala balik bertanya.
" Mereka masih ada tuh, Ada di gazebo belakang, Anak-anak mereka aja yang pulang, tadi di jemput sama Tante Vio. kalau kamu mau ikut gabung sama mereka biar Gio sama mama aja, udara malam nggak bagus buat Dia." Ucap sang mama panjang kali lebar sembari mengulurkan tangannya meminta Baby Gio.
" Ken juga." Tang Dian lagi sambil menyerahkan baby Gio. Sementara mamanya hanya menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Di titip Gio ya ma, Di mau menemui mereka dulu." Wanita paruh baya itu kembali menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Dian pun menghampiri mereka yang berada di gazebo belakang, tempat yang di beritahu mamanya.
" Kalian masih disini? maaf ya tadi aku ketiduran." Ucap Dian sedikit tak Enak hati dengan Luna dan Nurul yang masih berada di sana, tentu saja dengan di temani suami mereka.
" Nggak papa kok, santai aja! lagian besok kan weekend, anak-anak juga udah di jemput bunda! jadinya kita aman, kalau mau nginap. Iya nggak?" sahut Luna, meminta persetujuan yang lainnya.
__ADS_1
Disaat semua orang tengah berlomba menyahuti Luna, Ken hanya terdiam menatap wajah Dian. Sesekali dia tersenyum sendiri layaknya orang yang telah kehilangan kewarasannya.
Bagi Ken bisa berada di antara Dian dan keluarganya itu tidak pernah terlintas di benaknya sedikit pun, untuk bermimpi saja Ken tidak berani, walaupun dulu dia sempat mendekati Dion dan kawan-kawan agar bisa dekat dengan Dian. Namun semua itu tidak bertahan lama, sebab tatapan mata wanita yang tengah berada di hadapannya saat ini tidak pernah tertuju kepadanya, sekali pun Ken sempat mengutarakan isi hatinya dan berujung penolakan Dian. " Aku nggak cinta sama kakak! tolong lupakan perasaan kakak kepada ku! Dan anggaplah aku tidak tahu perasaan kakak dan kakak tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku jika kakak masih mau dekat seperti biasanya dengan aku." Ken tetap dengan besar hati menerima dan mengikuti apa yang di inginkan wanita itu, Jika hal itu dapat membuat Dian bahagia! Kerena bagi seorang Ken! senyum di bibir Dian sudah lebih dari cukup untuk membuat dia menjalani hari-harinya walaupun terkadang Ken harus berdebat hebat dengan dirinya sendiri saat perasaan cemburu menguasai hatinya dan sejauh ini Ken bisa melewati itu semua.
Dalam hati Kecilnya Ken berjanji, ia tidak akan menyia-nyiakan apa yang nantinya dia dapat dan dia akan membuktikan kepada Andara bahwa lelaki itu telah menyia-nyiakan orang yang salah.
" Ekhmmm." Reval pura-pura batuk membuat Ken sadar dari lamunannya serta tatapan yang masih tertuju kepada Dian. " Masih Sehat kan bang?" Tanya Reval mengundang tawa yang lain.
" Mbak, Jangan kelamaan di gantung dong kasihan jadi senyam-senyum sendiri tuh." Sahut Luna. Baik Ken maupun Dian dua-duanya saling membuang Padang kesabaran arah untuk menghindari tatapan satu sama lain.
" Ehh, kalian masih lama atau udah mau balik?" Tanya Dian mengalihkan pembicaraan mereka tentang dirinya maupun Ken.
" Masih lama kok! Ada apa emangnya kak?" Sahut Jayden sembari balik bertanya.
" Kita ke rumah sakit yuk, jenguk Elana." Mendengar saran Dian, semuanya langsung saling menatap satu sama lain.
" Kakak bersumpah, kakak sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi buat mas Andara! Demi tuhan kakak hanya menjenguk Elana, untuk itu kakak mengajak kalian." Ucap Dian menyatukan kedua tangan di depan dadanya, memohon agar mereka percaya dengan apa yang dia katakan.
" Aku akan menemani kamu! jika papa kamu dan Dion menyetujui hal itu." Sahut Ken.
" Aku juga akan menemani kakak." Melly pun turut mendukung Dian.
" Kita berdua juga." Timpal Luna sambil menunjuk dirinya dan Nurul, sehingga Reval dan putra pun mau tidak mau harus ikut.
" Maaf kak! sepertinya aku tidak bisa menemani kakak dan harus pulang sekarang, karena aku yakin mereka saja sudah lebih dari cukup." Dian mengangguk kepada Jayden.
" Dek." Panggil Dian.
__ADS_1
" Iya." Mau tak mau Dion harus mengiyakan kakaknya Melly saja sudah berada di kubu kakaknya itu. " Tapi kamu tinggal di mobil nggak boleh ikut masuk, ingat kamu lagi hamil sekarang." Ucap Dion kepada Melly.
...\=\=\=\=\=\=...
Tepat Jam sembilan lewat dua puluh lima menit Dian, Ken, Dion dan Reval tiba di depan ruang rawat Elana. Sementara yang lain menemani Melly di mobil. Sebenarnya kedatangan mereka sudah lewat jam besuk tapi entah bagaimana caranya mereka langsung di izinkan masuk setelah Dion dan Ken berbicara dengan penjaga yang tengah piket.
Dian mengetuk pintu yang ada di hadapannya, tak lama setelah itu terdengar suara instruksi dari dalam yang meminta mereka untuk masuk.
Begitu pintu di buka dan Dian melangkah kedalam, Andara begitu terkejut ia sampai lupa akan status mereka dan ingin memeluk Dian tapi Ken lebih cepat memasang badan dan menarik Dian ke belakangnya. " Dian bukan istri kamu lagi, tolong jaga sikap, kedatangan Kami untuk menjenguk Elana bukan untuk menemui kamu." Ucap Ken seraya menepuk pundak Andara dan tersenyum mengejek kepada mantan sahabatnya itu.
" Aku tidak butuh di jenguk oleh kalian, pergi kalian, aku tahu kalian pasti ingin menertawakan keadaan aku sekarang." Teriak Elana sambil mengusir.
Dian ingin menghampiri wanita itu dan menenangkannya tetapi teriak Elana semakin menjadi membuat mereka mau tak mau harus keluar.
Mereka memutuskan untuk pulang, toh kedatangan mereka juga tidak di butuhkan, belum lagi Reval dan Dion harus menahan Andara yang ingin mengejar Dian.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💔💔...
__ADS_1