Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
Penolakan bersyarat.


__ADS_3

" Semangat ya bang." Bisik Dion sembari menepuk bahu Ken sebelum menyusul papanya.


Bukan tanpa sebab Dion berkata seperti itu kepada Ken, karena Dion sendiri tahu seperti apa perasaan dan perjuangan seorang Ken untuk saudara perempuannya itu. Sayangnya sang kakak lebih dulu di buta kan oleh cintanya untuk Andara.


Bukan hanya Dion yang dapat melihat hal itu, orang yang mengenal mereka pun dapat melihat banyak cinta di mata Ken untuk Dian.


" Di apa kabar?" Ken mulai memecah kesunyian di antara mereka berdua, setelah ditinggal oleh Dion dan papanya Dian.


" Kabar aku baik, seperti yang kamu lihat kak." Jawab Dian. " Kamu sendiri gimana kabarnya, kok nggak pernah kelihatan lagi sibuk ya?" Tanya Dian lagi.


" Yah seperti yang kamu tahu, aku sudah tidak bekerja dengan mantan suami kamu lagi, semenjak anak keduanya lahir! Untuk itu papi memintaku mengelola salah satu anak cabang perusahaannya di luar kota. Jika aku berhasil aku bisa kembali lagi ke Jakarta mengelola perusahaan yang ada di sini kalau tidak ya aku harus menerima perjodohan yang ditawarkan oleh istri kedua papi aku." Dian mengangguk dengan apa yang di katakan oleh Ken.


" Kenapa kakak tidak menerima perjodohan itu, setidaknya kak Ken tidak perlu berusaha lebih keras." Ucap Dian entah sengaja atau tidak dia selalu mendorong Ken untuk menjauh darinya.


Mendengar hal itu Ken pun tertawa kecil seraya berkata. " Bagaimana aku bisa menerima wanita lain, sementara di hati aku masih ada nama wanita lain di sana." Ken menatap wajah Dian, wanita itu tidak tersipu sedikitpun dengan apa yang dikatakan lelaki yang ada di hadapannya." Dan kamu tahu siapa wanita." lanjutnya.


" Kenapa kamu harus menyiksa dirimu seperti ini sih kak? apa kamu tidak lelah, terus dan terus mendapat penolakan dari aku. Tolong berhentilah mengejar aku dan cobalah untuk mencintai wanita lain! aku yakin kakak pasti bisa dan akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada aku." Tegas Dian untuk kesekian kalinya.


Dian sendiri pun lelah, harus berpura-pura tidak tahu dengan perasaan Ken, agar mereka selalu nyaman saat bertemu seperti ini.


" Di ini bukan persoalan bisa atau tidak bisanya aku, tapi ini soal hati. Kamu tidak tahu kan, kalau selama ini aku sudah berusaha untuk bersama wanita lain bahkan saat aku jauh dari kamu aku mencoba menjalin hubungan dengan beberapa wanita tapi aku nggak nyaman, aku nggak perasaan apapun sama mereka, semakin aku berusaha justru hal itu semakin menyakiti diri aku sendiri juga mereka yang aku ajak untuk berkomitmen." Dian bersandar pada sandaran sofa dan menarik nafasnya dalam-dalam sembari memejamkan matanya. " Di tolong jangan mendorong aku lagi, untuk menjauh dari kamu Di, tolong kasih aku kesempatan, aku mohon Di." Mohon Ken.


" Maaf kak, aku nggak bisa." Sahut Dian.

__ADS_1


" Tapi kenapa Di, alasannya apa sampai kamu tidak bisa menerima aku." Tanya Ken, lelaki itu tidak mundur walaupun selalu ditolak Dian." Apa karena kamu tidak bisa melupakan Andara?" Tanya Ken lagi. Dian menggeleng kepalanya.


" Bukan seperti itu Kak tapi..." Dian menjeda ucapannya Seraya menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. " Aku tuh nggak percaya dengan cinta karena biasa Kak, dan sebelum aku menjalin hubungan dengan seseorang aku harus klik dulu di awal. Kakak juga tahu aku seperti apa kan! kalau aku sudah cinta, sudah nyaman, aku akan se cinta dan senyuman itu nggak peduli apapun yang diucapkan orang yang penting aku nyaman dengan perasaan aku. Apa kakak mau kita menjalin hubungan tapi aku sendiri tidak nyaman dengan hubungan kita?"


Mendengar pertanyaan dan penjelasan Dian, Ken hanya bisa Diam sembari berpikir langkah apa yang harus ia ambil, mundur tentu saja itu tidak akan pernah Ken lakukan.


" Kasih aku waktu untuk berpikir Di." Ucap Ken, setelah cukup lama terdiam.


" Terserah kak Ken, jika itu yang kamu mau! maaf Kak tapi aku harus istirahat, aku capek banget, baru sampai rumah langsung diajak konferensi." Usir Dian secara halus.


" Ya udah kebetulan aku juga harus ke kantor, karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dan besok aku akan kesini lagi." Sahut Ken, lelaki itu berdiri dari duduknya sambil merapikan jas nya.


" Terserah tapi maaf aku nggak bisa antar kakak ke depan, silahkan." Ucap Dian dengan sengaja agar Ken semakin tidak nyaman dan menjauhinya.


" Aku akan membuat kamu nyaman dengan kehadiran aku Di, tidak peduli sekeras dan sesering apa kamu mengenal aku." Ucap Ken di dalam hatinya sembari tersenyum simpul Kepada Dian.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Sementara itu di tempat lain dengan waktu yang sama, Andara meninju dinding rumah sakit yang ada di hadapannya, lelaki itu begitu kesal saat melihat berita di mana Dian umumkan perceraian mereka.


" Setelah menghilang bersama anakku, kini kamu datang dan mengatakan kepada semua orang tentang perceraian kita, kamu benar-benar keterlaluan Di." Teriak Andara sembari terus memukul dinding yang ada dihadapannya berulang-ulang, sehingga punggung tangannya berdarah.


" An, apa yang kamu lakukan! hentikan semua itu An." Teriak nyonya Wartika, saat melihat putranya seperti itu.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu baru saja datang, ia hendak mengunjungi Elana sekaligus mengecek kondisi menantunya itu.


" Hidup aku benar-benar hancur sekarang ma, Dian telah mengumumkan perceraian kita, Elana lumpuh dan aku tidak bisa bertemu dengan putra ku! Apa mama puas, ini semua karena mama yang terus menghina dan mengatai Dian." Andara melampiaskan kekesalannya kepada sang mama. Ia bahkan tidak peduli dengan setiap mata yang melihat kepada mereka.


" Apa Nak! Elana lumpuh?"


" Iya, menantu kesayangan mama itu telah lumpuh, apa mama sudah puas." Ejek Andara. " Dan sekarang aku harus mengurus wanita lumpuh itu, hidup memang tidak adil."


" Tidak mama tidak mau punya menantu cacat, apa kata teman-teman mama nanti." Ego wanita paruh bayah itu kembali muncul saat mendengar kondisi Elana. " Tidak, kamu harus menceraikan dia sebelum kita di hina karena dia." Lanjutnya lagi.


" Tidak, papa tidak setuju dengan apa yang dikatakan mama kamu! mau seperti apa dia kamu tidak boleh menceraikannya. Bukankah dia yang terbaik sehingga mama kamu menunjuknya untuk mengantikan posisi wanita sebaik Dian." Ucap tuan Bagaskara lelaki paruh baya itu juga baru sempat datang untuk menjenguk Elana.


" Tapi pa_"


" Tidak ada tapi-tapi An, ini untuk kebaikan ketiga putri kamu, mau seperti apapun kondisi mama mereka, mereka masih membutuhkan nya ." Putus tuan Bagaskara. Baik Andara maupun mamanya tidak dapat melakukan apa-apa mereka hanya bisa Diam menuruti apa yang di ucapkan tuan Bagaskara.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung....


...Happy reading..💔💔...


__ADS_2