
Dian mulai menggeliat dalam tidurnya, saat merasakan usapan lembut di pipi dan seseorang memanggil-manggil namanya. " Di, sayang bangun dulu." Ajakan itu terus terdengar, Hingga Dian membuka kedua matanya dan melihat Ken sedang tersenyum kepadanya.
" Astaga bang kenapa nggak bangunin aku." Ujar Dian, wanita itu langsung bergegas bangun dan rasa kantuknya seketika menghilang saat melihat sang suami telah rapih dengan setelan kerjanya sementara dia masih tidur.
" Nggak papa sayang! aku tahu kamu pasti capek, maaf ya udah buat kamu jadi kelelahan gini." Sahut Ken sambil mengusap kepala Dian. " Aku bangunin kamu, untuk temani aku sarapan tapi kalau kamu masih ngantuk, tidur aja lagi, aku akan sarapan bersama yang lainnya." Lanjutnya kemudian mencium kening Dian.
Ken pun beranjak dari sisi Dian, saat hendak meraih handle pintu suara Dian menghentikannya." Aku akan segera turun." Hanya kalimat sederhana, tapi mampu membuat bibir Ken melengkung sempurna. lelaki itu pun meneruskan langkahnya setelah membuka pintu kamar mereka dan Di belakang sana, Dian beranjak turun dari ranjang mengulang rambutnya ke atas sebelum masuk ke kamar mandi.
Tak sampai lima menit Dia sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar, ia menghampiri ranjang putranya.
Di sana Gio tengah tertidur lelap, bajunya sudah di ganti dan masih ada sisa bedak di wajah serta aroma minyak telon tercium sangat jelas dan Dian yakin kalau Gio sudah mandi ' Apa Ken minta tolong bi Asi untuk mandiin Gio ya' Pikir Dian, kemudian teringat Ken yang tengah menunggunya untuk sarapan. Dian menunduk untuk mengecup kening Gio sebelum turun untuk sarapan.
Dian melangkahkan kakinya menuruni anak tay menuju ruang makan. Di ruang makan itu terlihat kedua orangtuanya, Dion, Melly, Hani, Lisa dan Ken tengah duduk mengelilingi meja makan itu dan saat mereka menyadari kedatangannya, semua orang yang ada di ruangan itu menatap kearah Dian begitu juga dengan Ken. Hanya saja lelaki itu segera berdiri menghampiri Dian dan melepas ikatan rambutnya, membuat rambut Dian terurai dengan bebas.
Awalnya Dian ingin protes tapi kata-kata yang keluar dari bibir Ken membuat ia bungkam seketika. " Apa kamu ingin mengatakan kepada keluargamu, betapa jahatnya aku semalam?" Tanya Ken sembari mengusap bekas Ciumannya semalam. membuat Dian tersadar dari keteledorannya, ia lupa menutup tanda-tanda itu, tadi setelah membasuh muka dan sikat gigi Dian langsung menghampiri Gio sebelum turun untuk sarapan bersama mereka, ia bahkan tidak sempat memperbaiki penampilannya karena takut Ken terlalu lama menunggunya. " Sudah ayo kita sarapan." Ucap Ken lagi, setelah menata rambut Dian sehingga bekas Ciumannya tidak terlihat.
" Iy-iya." Jawab Dian di ikuti anggukan kepalanya. Terlihat jelas wanita itu tengah menyembunyikan rasa malu serta gugupnya.
Setelah itu Dian bergabung bersama keluarganya untuk sarapan. Begitu selesai sarapan Dian mengantar Ken depan saat Ken akan berangkat kerja.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=...
Di tempat lain, tepatnya di rumah Dian, seorang wanita paruh baya tengah mengeluarkan semua pakaian wanita yang tengah duduk di kursi roda dan melempar pakaian-pakaian itu kepadanya. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Wartika dan menantu tercinta. " Keluar kamu dari ini, dasar wanita murahan, sudah di kasih hati Mala bertingkah." Ucap wanita paruh baya itu. " Sekarang kamu sudah tidak di butuhkan lagi di rumah ini, ambil semua pakaian kamu dan keluar dari rumah ini sekarang juga. wanita tidak berguna." Lanjutnya lagi. Ia terus mengeluarkan semua barang-barang wanita itu dari walk in closed dan melemparkan kepada Elana.
" Eh wanita tua, apa-apain kamu tidak berhak mengusirku dari rumah ini, karena kamu tidak berhak disini, akulah tuan rumah ini dan aku yang pantas mengusir mu, dasar wanita tua menyebalkan." Sahut Elana, kondisinya membuat orang kasihan tapi sifatnya tidak menunjukkan keadaannya saat ini. Karena wanita itu begitu aku dan tidak memiliki sopan santun.
" Tuan rumah ini?" Tanya Nyonya Wartika di ikuti tawa mengejeknya. " Apa putra ku tidak pernah mengatakan kepadamu, kalau rumah ini adalah rumah mantan istrinya." Elana langsung membeo seketika. Ucapan mertuanya bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.
Selama ini Elana tidak mengetahui rumah yang ia tempati mereka adalah rumah Dian. Ia bahkan sempat berpikir untuk meminta rumah itu jika Andara menceraikannya, mengingat kedua orang tuanya mulai menjauh darinya semenjak ia mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan kakinya.
" Kenapa diam? terkejut, tak percaya atau bodoh. Saya pikir kamu sudah menguasai hatinya sampai begitu membela kamu, ternyata posisi kamu masih sama! mesin pencetak anak." Ujar wanita paruh baya itu lagi dan tersenyum puas melihat wajah pucat El. " Cepat kumpul semua pakaiannya dan keluarkan dia dari sini." Titah sang nyonya kepada beberapa pelayan yang masih berkerja di rumah itu.
Titah berbeda dari kedua majikan itu membuat para pelayan yang berada di rumah itu bingung harus mendengarkan perkataan siapa.
" Terserah kalian, jika kalian masih menginginkan digaji dan pekerjaan, seret dia keluar sekarang juga, jika kalian sudah bosan berkerja maka dengarkan dia." Ujar wanita paruh baya itu kemudian berlalu meninggalkan Elana yang mengangguk dan mencaci makinya.
" Wanita tua sialan, mati saja kamu! setelah aku menjadi seperti ini kamu membuang aku begitu saja, dasar iblis tak berhati." Di saat Elana tengah sibuk mencaci maki mertuanya, parah pelayan dengan sigap mengumpulkan semua barang-barang Elana setelah itu mereka mendorongnya berserta barang-barang nya keluar dari rumah itu.
Sementara sang nyonya mengajak kedua cucunya untuk tinggal di rumahnya dan rumah itu di biarkan kosong.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=...
Siang Harinya, setelah pekerjaannya selesai Ken masuk kedalam ruangan kerjanya untuk beristirahat sejenak, Karena sejak pagi ia di sibukkan dengan meeting dan beberapa berkas yang harus ia periksa, membuat wajah lelaki itu terlihat bagitu lelah, sehingga waktu istirahat makan siang ia gunakan untuk tidur.
Baru satu jam ia tertidur, tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan pribadinya yang berada di dalam ruangan kerjanya itu.
Terlihat seorang wanita masuk kedalam, ia menghampiri ranjang dan perlahan naik keatas ranjang dengan begitu hati-hati, agar lelaki yang tengah tertidur pulas itu tidak terusik dengan kehadirannya.
Dengan berani wanita itu mengusap wajahnya tanpa membuang pandangannya dari Ken. " Andai saja__" Wanita itu tersenyum dan tidak meneruskan kata-katanya. Ia memilih berbaring di samping pria itu, tak lama berselang ia pun ikut tertidur saking nyamannya berada di samping Ken.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading..💔💔...