Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
Karena aku cinta


__ADS_3

Di saat Dian tengah pusing menghadapi ulah Ken yang terus mendekatinya. Di tempat yang berbeda Andara justru di buat pusing dengan istri dan mamanya. Kedua wanita yang dulunya begitu akur dan kompak untuk menjatuhkan Dian , kini bagaikan musuh yang baru di pertemukan lagi.


Perdebatan dan pertengkaran di dalam rumah itu sudah menjadi hal biasa bagi Andara dan penghuni rumah lainnya selama hampir satu Minggu ini. Bahkan tidak terhitung berapa jumlah perabot yang pecah karena ulah kedua wanita itu. Keadaan Elana yang berada di kursi roda tak menyurutkan tekadnya untuk menjadi menantu durhaka dengan membantah dan membalas setiap ucapan kasar yang keluar dari mulut mertuanya.


Wanita itu seakan tidak ada takut-takut nya. Dan semua itu bisa terjadi karena Andara yang terlalu membelah Elana di karena kan rasa bersalah nya kepada wanita itu, Sehingga Elana bisa bertingkah seperti ini.


" Kalian bisa tidak akur sehari saja? Aku tuh lelah pulang kerja ingin istirahat tapi selalu mendapatkan kalian seperti sekarang ini." Tegur Andara, ia menatap bergantian istri dan mamanya. " Ma, bukannya dulu mama dan El begitu kompak! terus kenapa jadi seperti sekarang ini?" Tanya Andara sembari memijat pangkal hidungnya.


" Kamu masih bisa bertanya seperti itu, sudah jelas dia itu membuat malu keluarga kita!" Ujar sang nyonya sambil menunjuk wajah angkuh menantunya.


" Oh jadi menurut anda aku harus dibuang, sama seperti Mbak Dian! ketika Mbak Dian nggak bisa punya anak, Anda langsung membuangnya dan datang ke rumah saya memohon supaya saya mau menikah dengan anak anda ini dan memberikan anda cucu. Setelah semuanya, telah anda dapatkan dan keadaan saya sudah seperti ini anda ingin melempar saya keluar juga dari rumah ini. Oh tidak bisa Nyonya Wartika Bagaskara yang terhormat." Ucap Elana dengan Angkuhnya sembari menunjuk berganti wajah suami dan mertuanya. " Harusnya Ada ingat saya itu masih istri sah putra anda dan saya lebih berhak di rumah ini ketimbang anda jadi kalau ada yang harus di usir keluar dari rumah ini, itu adalah anda bukan saya." Lanjutnya penuh penekanan.


" ELANA." Teriak Andara lelaki itu mengangkat tangannya untuk menampar wajah Elana karena sudah kurang ajar kepada ibunya, tetapi Elana justru menantangnya membuat lelaki itu mengurungkan niatnya.


" Apa! kamu ingin menampar aku sama seperti kamu menampar mbak Dian, tampar aku mas, ayo tampar." Tantang Elana dengan memberikan pipi sebelah kanannya untuk Andara. " Harusnya kamu sadar, kalau kita tidak mungkin seperti ini jika ibu kamu ini tidak memulai lebih dulu. Semua kalau di injak bisa menggigit loh, apalagi aku."


" Arrrgghh." Geram Andara kemudian meninggalkan kedua wanita itu.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Kekesalannya terhadap sang istri dan mamanya membawa dia sampai di depan Butiknya Dian. Andara berharap dengan melihat wajah Dian perasaannya menjadi sedikit lebih baik, namun apa daya sepertinya Tuhan tidak berpihak kepadanya hari ini.


Bagaimana tidak! Andara yang baru saja tiba di depan Butiknya Dian harus menyaksikan Ken yang tengah berusaha meluluhkan hati Dian, bahkan lelaki itu bisa menggendong Gio, sementara dirinya tidak di perbolehkan.


Andara yang mulai panas melihat hal itu, menghampiri Dian dan Ken. Tanpa basa-basi Andara langsung menarik pundak Ken dan mendaratkan satu bogem mentah pada wajah Ken.

__ADS_1


Sementara Ken yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari Andara tidak dapat mencegah pukulan itu, bersyukurnya ia memeluk tubuh baby Gio dengan Erat sehingga balita itu tidak sampai terjatuh saat tubuh Ken terhuyung kebelakang.


" Brengsek kamu Ken! Sahabat macam apa yang menikam sahabatnya sendiri." Ucap Andara di balas tawa menyebalkan dari seorang Ken.


Lelaki itu memberikan Gio kepada Dian dan meminta wanita itu untuk menenangkan baby Gio yang menangis karena terkejut dengan ulah papanya.


" Kenapa harus Dian, kenapa Hmm? apa kamu tidak bisa mencari wanita lain?" Tanya Andara lagi, seraya menarik kerak baju pria itu.


" Karena aku cinta sama Dian, kamu tidak melupakan hal itu kan? atau kamu lupa kalau Dian bukan istri kamu lagi dan aku merasa tidak mengkhianati siapa pun disini termasuk kamu." Jawab Ken sambil menghempaskan cengkraman tangan Andara dari Kerak baju.


Sementara Dian langsung bergegas masuk ke dalam mobil Ken tanpa ingin meluruskan apapun yang tidak perlu di luruskan toh Ken saja sudah cukup untuk menghadapi mantan suaminya itu.


" Sebaiknya kamu urus istri dan Anak-anak kalian! Untuk Dian dan Gio biar menjadi urusan aku." Ucap Ken lagi.


Dan hal itu sukses membuat Andara semakin tersulut emosinya, sehingga pertengkaran keduanya tidak dapat di hindari.


Sementara Ken masuk kedalam mobilnya. Di dalam mobil Gio masih menangis tidak seperti biasanya balita itu menangis selama ini. " Sini biar aku yang nenangin dia." Tanpa Di minta dua kali Dian langsung menyerahkan Gio kepada Ken.


Gio yang berada dalam pelukan Ken, perlahan-lahan mulai Diam dan tidak lama setelahnya balita itu pun tertidur, mungkin dia lelah karena terlalu lama menangis atau bisa jadi karena usapan tangan Ken yang terlalu nyaman pada punggung Gio. " Sebaiknya kita ke rumah sakit." Saran Dian.


" Untuk apa?" Tanya Ken.


" Untuk obati wajah kamulah apa lagi." Ken tersenyum sambil menggeleng kepalanya.


" Ada baiknya kita langsung pulang aja Di, Luka sekecil ini aku, masih bisa mengobatinya sendiri." Ujar Ken, seraya memberikan Gio Dian lagi.

__ADS_1


Ken pun mengantar Dian dan Gio pulang. Selama perjalanan pulang Keduanya sama-sama terdiam, karena Dian yang larut dalam pikirannya sementara Ken yang fokus menyetir.


Setibanya di Kediaman Xavier. Ken langsung pamit untuk pulang tetapi di tahan oleh Dian. " Masuk dulu, aku obati luka kamu." Mau tak mau Ken pun ikut masuk.


Mamanya Dian sempai histeris saat melihat wajah Ken. " Nak siapa yang melakukan ini sama kamu. ya Tuhan Di cepat obat wajahnya, Gio biar mama yang bawa ke kamarnya." Titah mamanya sembari mengatakan sang cucu dari gendongan Dian. " Nak Ken , Tante tinggal sebentar ya." Ken mengangguk.


Begitu wanita paruh baya itu pergi, Dian langsung mencari kotak obat dan alat kompres. Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan Dian kembali dan duduk di samping Ken.


" Kenapa kamu terus menyakiti diri kamu sendiri untuk aku? harus kamu mencari wanita lain agar tidak terkana masalah seperti ini? " Untuk kesekian kalinya Dian mendorong pergi. " Kenapa Ken?" Tanya Dian lagi. Wanita itu terlihat begitu hati-hati saat mengobati wajah Ken, ia pun sesekali meniup kulit wajah Ken saat lelaki itu meringis.


" Karena aku cinta Di, sama kamu! sekeras apapun kamu mendorong aku, kalau nama kamu masih disini ya percuma." Jawab Ken sambil menunjuk letak jantungnya.


" Tapi kamu akan semakin terluka nanti."


" Kalau kamu tidak mau aku terluka, terimalah aku. Di kita Nikah Yuk." Ajak nya. " Auuhhh." Tanpa perasaan Dian menekan luka lebam di wajah Ken membuat pria itu menjerit.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....

__ADS_1


...Happy reading..💔💔...


__ADS_2