
Ucapan tuan Bagaskara di taman waktu itu, membuat Andara seakan menemukan alasan untuk kembali menata hidupnya, jika beberapa bulan belakangan ini dia tidak memiliki alasan dan semangat untuk berkerja. Maka saat ini untuk Gio, Andara akan kembali menjalani hari-harinya seperti biasa.
" Aku tidak akan pernah melupakanmu Di dan maaf bukan aku berhenti mencari kamu! tetapi hanya harus mempersiapkan masa depan anak kita. Dimana pun berdua berada semoga kalian selalu sehat dan selalu mendapatkan kebahagiaan. Aku titip putra kita sayang." Ucap Andara sembari menatap foto Dian di kamar mereka. Lelaki itu pun kini sudah rapi dengan setelah kerjanya. " Aku pergi dulu, doakan aku agar semua bisa aku kembalikan seperti dulu." Lanjutnya sebelum mengambil tas kerjanya dan berbalik meninggalkan kamar yang penuh dengan kesenangannya bersama Dian.
" Mas, tunggu." Panggil Elana saat melihat Andara keluar dari kamarnya. " Mas, mas tunggu dulu, aku mau ngomong bentar." Panggil Elana lagi, saat Andara tidak menghiraukannya dan memilih terus melangkah menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk sarapan.
" Mas, kamu tidak bisa mengabaikan aku dan anak-anak kamu terus seperti ini, mau bagaimana pun aku masih istri kamu dan mereka juga anak-anak kamu. Kita juga butuh perhatian dan kasih sayang dari kamu." Ucap Elana lagi. Wanita itu menarik kursi di sebelah Andara dan duduk di sana. Ia bahkan tak menghiraukan tatapan kedua putrinya yang telah lebih dulu berada di sana.
" Selesaikan sarapan kalian nanti papa yang akan mengantarkan kalian ke sekolah." Ucap Andara kepada kedua putrinya itu, tanpa menjawab omelan Elana.
Hal itu tentu saja membuat Elana semakin kesal dengan suaminya itu. Saking kesalnya ia sampai sering mengabaikan ke tiga putri mereka. bersyukurnya ada pengasuh dan mama Andara yang sering datang mengurus cucu-cucunya, sementara El sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya di luar bersama teman-temannya, Mungkin itu cara El, mencari kebahagiaannya. setelah di abaikan Andara beberapa bulan ini.
" Mas aku ini bukan patung! sampai kapan kamu harus mengabaikan aku terus seperti ini." Ucap Elana lagi, tetapi Andara tetap tidak menanggapi wanita itu, sekeras apapun ia berteriak dan meraung di depan Andara. Seolah Elana mahluk kasat mata yang tidak dapat di lihat dan di dengar.
" Sudah selesai! Kita berangkat sekarang." Tanya Andara. kepada Alesya dan Eliana.
" Iya pa." Jawab kedua gadis kecil itu dengan kompak sembari mengangguk-anggukkan kepala mereka.
" Ayo, Ambil tas masing-masing." Pinta Andara, kemudian pergi meninggalkan Elana tanpa pamit begitu kedua anaknya dan jangan ditanya seperti apa wajah Elana saat ini.
" Sialan kamu mas! Anak-anak juga sama saja." Teriak Elana sembari menghempaskan sarapan yang masih tersisa di atas meja makan sehingga semuanya berserakan di lantai.
Membuat beberapa pelayan dan nyonya Wartika yang sedang berada dalam kamar cucunya, terkejut dengan suara pecahan gelas dan piring yang di sebabkan oleh menantu pilihannya itu.
" El, ada apa ini? kenapa kamu melakukan semua ini." Tanya wanita paruh baya itu ketika menghampiri menantunya.
" Mama masih bisa bertanya seperti itu, apa mama buta dan nggak bisa melihat sikap anak mama sama aku!" Teriak wanita itu, bahkan ia tidak peduli kepada siapa dia berbicara." Harusnya mama ngomong sama anak mama kalau aku ini bukan pajangan di rumah ini. aku juga sudah berusaha yang terbaik agar Mas Andara mau melihat aku. Mama juga bilang kan begitu mereka bercerai, hanya ada aku di hati mas Andara, tapi buktinya mana! mas Andara justru semakin jauh dan tak menganggap aku ada ma." Sahut nya dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
" Terus kamu pikir dengan kamu bertindak seperti ini akan meluluhkan hati Andara." Tanya wanita paruh bayah itu.
" Alaaah percuma, aku udah nggak peduli." sahut nya sembari membanting gelas di depan mertuanya itu dan berlalu meninggalkan nyonya Wartika dengan raut bingung.
Wanita paruh itu tidak menyangka akan di perlakukan seperti ini oleh Elana. " Nyonya! nyonya tidak apa-apa kan." Tanya pelayan yang menghampirinya sambil melihat kaki ibu dari majikannya itu.
" Iya, saya tidak apa-apa! Terima kasih ya bi, saya kembali ke kamar dulu. Kasihan Andrea sendiri." Nyonya Wartika pun berbalik tanpa menunggu jawaban dari pelayan setianya Dian.
" Pa! Papa disini?" Tanya Nyonya Wartika kepada suaminya. Lelaki paruh bayah itu sudah berdiri sejak lama di sana dan hanya Diam melihat perlakuan Elana kepada istrinya." PA, El_"
" Andara dimana." Tanya lelaki paruh bayah itu kepada pelayan yang tengah membersihkan pecahan piring dan gelas yang di sebabkan oleh Elana. Tanpa memberikan kesempatan untuk istrinya mengadukan perbuatan Elana.
" Sudah berangkat kerja tuan." Jawab mereka sembari menunduk.
" Terima kasih, lanjutkan pekerjaan kalian." Lelaki itu berbalik hendak meninggalkan rumah menantunya tetapi panggil Nyonya Wartika membuat langkahnya terhenti. " Jangan mengeluh ma, bukankah dia menantu pilihanmu, nikmati saja masalah yang kamu ciptakan." Ucap lelaki paruh bayah itu tanpa membalikkan badannya dan setelah mengatakan hal itu, Tuan Bagaskara pun benar-benar meninggalkan rumah itu.
Disisi lain Andara baru saja tiba, di sekolah anak-anaknya, bertepatan dengan! Bertepatan dengan Melly yang baru selesai mengantar Hani.
" Mel apa kabar? Hani udah masuk?" Tanya Andara.
" Ya, baru saja! Kok tumben hari ini kamu yang antar biasanya, mereka di antar supir!" Tanya Melly.
" Iya, kebetulan aku punya waktu." Jawab Andara dengan sedikit gugup. " Sayang, kalian masuk kelas ya! Belajar yang rajin nanti pulang nya papa jemput lagi." Lelaki itu berjongkok sembari mengusap kepala kedua putrinya.
" Yeehh Asyik. " Teriak keduanya saking bahagianya akan di jemput Dion.
" Masuk gih"
__ADS_1
" Iya PA! Dada papa." Ucap keduanya setelah mencium pipi Andara bergantian, sesekali mereka beberapa sambil berdada-dada kepada Andara.
" Kamu terlihat seperti seorang ayah yang begitu menyayangi putrinya tapi sayang tidak tahu menjaga perasaan wanita ." Sindir Melly sebelum melangkah menjauh dari Andara.
"Melly." Panggil Andara. Sembari mengikuti langkah Melly, sebelum Melly masuk kedalam mobilnya tangan Andara lebih dulu menahan pintu mobilnya.
" Apaan sih kamu! Pindahkan tangan kamu dari pintu mobil aku atau aku akan berteriak." Ancam Melly.
" Mel aku hanya ingin bicara dengan kamu sebentar saja." Mohon Andara.
" Mau bicara apa lagi. Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan." Tegas Melly.
" Aku ingin tahu kabar Dian dan anak aku Mel." Sahut Andara lagi.
" Jika hanya itu yang ingin kamu ketahui. Maka kamu tidak perlu khawatir, karena dimana pun mereka saat ini, mereka jauh lebih baik dari hari ke hari. Karena papa mertua dan suamiku pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk mereka." Jelas Melly. " Sudah jelaskan, sekarang lepaskan tangan kamu atau_"
" Tolong sampaikan salam aku untuk mereka." Ucap Andara sebelum Melly menyelesaikan ucapnya dan mengizinkan Melly pergi.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading... 💔💔...