
Hari ini adalah waktu imunisasi untuk baby Gio dan Aiden. Pagi tadi selepas mengantar Ken untuk berangkat kerja, Dian langsung kembali ke kamarnya dan menghubungi perawat untuk membuat janji dengan dokter yang biasanya memberikan imunisasi kepada Aiden dan Gio.
Setelah mengkonfirmasi dengan sang dokter, imunisasi untuk Aiden dan Gio akan dilakukan siang hari karena pagi harinya dokter sudah memiliki jadwal pemeriksaan di salah satu rumah sakit.
" Kak Sudah siap belum?" Tanya Melly dari balik pintu kamar Dian sambil mengetuk pintu kamar itu. Keduanya akan mengantar Gio dan Aiden untuk imunisasi.
" Udah Mel, bentar ya." Sahut Dian dari dalam sana.
" Kalau gitu aku tunggu kakak di bawah ya." Ujar Melly lagi.
" Iya Mel." Setelah itu terdengar suara langkah kaki menjauh. Dian pun segera menggendong baby Gio dan keluar dari kamarnya agar Melly tidak lama menunggunya.
Setibanya di lantai bawah, di mana Melly menunggunya, Dian di kaget kan dengan kehadiran Dian " Ion, kok kamu disini! emangnya kamu nggak kerja."
" Kerja kok, tetapi khusus untuk hari imunisasi aku harus mendampingi putra ku." Dian menanggapi ucapan sang adik dengan memutar kedua bola matanya, sementara Melly hanya menggeleng kepala. " Oh iya, karena aku sudah ada disini, sebaiknya aku dan Melly saja yang mengantarkan Gio dan Aiden, kakak bisa beristirahat atau mengunjungi suami kakak. Dia terlihat lelah hari ini.
Awalnya Dian menolak tetapi Kedua adiknya itu terus meyakinkannya, sehingga disinilah dia, di depan ruang kerja suami.
Tok... tok.. tok...
Dian mengetuk pintu ruangan kerja Ken, sekali dua kali tidak ada sahutan dari dalam sana begitu pun seterusnya, sehingga Dian memutuskan untuk langsung masuk saja, di dalam ruang itu tidak ada siapapun. Sementara sekretarisnya mengatakan kalau Ken belum keluar dari ruangan kerjanya sejak tadi.
Dian meletakkan paper bag, berisi rantang makanan yang dia bawa untuk Ken di atas meja kemudian melangkah ke arah pintu yang terletak di sudut ruangan. Ia ingat pagi tadi Ken berkata akan istirahat di kantor pada saat jam makan siang.
Dian membuka pintu ruang itu dan benar saja Ken tengah tertidur pulas di dalam sana. Tak ingin menganggu tidur sang suami Dian menghampiri ranjang berukuran King size itu dan perlahan naik ke atas ranjang. ia bergerak dengan begitu pelan agar Ken tidak terusik.
__ADS_1
Dian bahkan dengan berani mengusap wajah Ken tanpa membuang pandangan darinya. " Andai saja_" Ia tidak meneruskan kata-katanya dan memilih berbaring di samping pria itu, awalnya dia hanya ingin berbaring sambil menunggu Ken terbangun tetapi siapa sangka rasa nyaman membuat ia ikut tertidur.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Merasa Kebas pada lengannya, yang di gunakan Dian sebagai bantal, membuat Ken membuka ke dua matanya dan mendapati sang istri tengah tertidur di sampingnya, awalnya lelaki itu tak percaya, ia bahkan mengucek kedua matanya untuk memastikan itu Dian.
Begitu yakin itu Dian, Ken tidak langsung memindahkan kepala Dian dari lengannya, ia justru memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memandang wajah sang istri.
Dalam mimpi pun, Ken tak pernah membayangkan ia akan melihat keindahan seperti sore hari ini, dimana senja terukir dengan indah dibalik jendela kaca ruang pribadinya dan cahaya itu semakin terlihat indah saat menyinari wajah Dian yang masih terlelap.
" Dulu aku tidak pernah bermimpi kamu akan tertidur di sampingku seperti ini! tapi sekarang semua terasa seperti mimpi yang tidak ingin aku sudahi. Aku sangat mencintaimu Diana Angenesia Xavier." Ucapnya sembari mengecup bibir sang istri, tidak hanya sekali dan hal itu membuat Dian terusik.
Wanita itu mulai menggeliat dalam tidurnya sebelum memeksa kelopak matanya untuk terbuka. Wajah tampan dan senyum manis sang suami langsung menyambutnya ketika kedua matanya benar-benar terbuka. " Datang jam berapa?" Tanya Ken, masih dengan ekspresi yang sama. Penuh cinta.
" Jam dua belas Lewat, tapi Abang nya Mala tidur." Jawab Dian khas dengan suara bangun tidur sesekali ia harus menutup mulut dengan tangannya, karena rasa ngantuk itu masih ada.
" Aku lihat-lihat bang Ken kelihatan capek banget! nggak tega aku buat bangunin Abang, jadinya aku tungguin aja sambil baring-baring di samping bang, eeh tahunya aku Mala ikut ketiduran! Tapi ngomong-ngomong jam berapa sekarang?" Jawab Dian sekaligus bertanya.
Ken melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian menunjukkan jam itu kepada Dian dan berkata. " Jam lima sore."
" Astaga aku udah lama ninggalin Gio bang." Dian langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan panik, begitu juga dengan Ken yang baru sadar hanya mereka berdua di kamar itu.
" Kamu nggak bawah Gio sayang." Tanya Ken di Jawab anggukan kepala oleh Dian. " Astaga Di, kenapa nggak di bawa aja sih!" Ken mengambil ponselnya di atas nakas kemudian mencari nomor yang bisa dia hubungi. Pasang yang aneh, sudah jelas Dian meninggalkan Gio di rumah bersama Melly dan Dion, tapi kenapa mereka harus panik seakan Gio telah di culik.
" Tadi siang waktunya dia imunisasi, awalnya aku mau nganterin Gio, tapi Dion pulang dan dia yang nganterin Gio dan Aiden di temani Melly." Ujar Dian membuat Ken merasa lega tapi ia tetap menghubungi adik iparnya untuk menanyakan kabar Gio.
__ADS_1
" Hallo Ion, Kamu dimana? Gio bareng kamu kan?" Tanya Ken, begitu panggilan itu terhubung.
" Astaga bang, Gio baik-baik aja! Nih dia lagi sama aku dan Melly, ada papa mama juga." Sahut Dion dari seberang sana saat mendengar nada suara Ken yang panik. " Aku sekarang udah di rumah dan bang Ken sama kak Dian, kakak aku yang paling cantik nggak usah khawatir. Lagian Gio juga tahu kalau Ayah bundanya pasti ingin berduaan.
Setelah di yakinkan oleh Dion, keduanya kini bisa tenang. " Oh, iya sayang tadi kamu kesini buat apa." Tanya Ken.
" Bawain kamu makan siang, kotak makannya aku taruh di ruang kerja kamu." Jawab Dian.
" Ya udah kita makan sekarang, aku udah lapar banget, tadi belum sempat makan siang." Ken beranjak dari tempat tidur, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengajak Dian.
" Bang sepertinya makan itu sudah dingin, sebaiknya kita makan di luar aja sekalian makan malam." Wanita itu menyambut uluran tangan suaminya kemudian mereka keluar bersama dari ruangan itu.
" Ide bagus, sekalian kita pulang."
" Hmm." Dian menjawab dengan bergumam. sementara Ken berjalan ke meja kerjanya, mengambil tas kerja serta jas yang ia sematkan pada sandaran bangku, kemudian menghampiri Dian keduanya keluar dari ruangan kerja Ken. Tak lupa Dian mengambil kotak makan siang yang dia bawah tadi.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading..💔💔...