Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
Kamu sungguh menyebalkan.


__ADS_3

Andara melangkah dengan tubuh sempoyongan menuju ruang rawat istri keduanya. Setibanya dia di ruangan itu, Andara langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan matanya, sembari meletakkan lengan di atas dahinya, tangan Andara pun masih menggenggam erat surat gugatan yang di berikan Dian.


Tentu saja gerak-gerik Andara di lihat oleh istri dan mamanya. " An kamu kenapa?" Tanya Sang mama hanya di jawab geleng kepala . " Itu Amplop apa yang ?" Tanya sang mama lagi. Kali ini tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Andara. Membuat sang nyonya penasaran dan menghampiri putranya itu.


Tanpa bertanya dua kali wanita paruh baya itu langsung merebut amplop itu dari tangan Andara." Ma, kebaikan. " Ucap Andara. Lelaki itu mencoba untuk merebut amplop itu dari tangan mamanya.


" Akhirnya sadar diri juga dia, baguslah." Ucap Nyonya Wartika sambil membolak-balik amplop yang ada di tangannya. " Harusnya kamu senang terlepas dari wanita itu, bukan murung seperti ini. Lagian keluarga mana yang mau terima wanita seperti dia! Udah mandul nggak sadar diri lagi, beruntung banget dia nikah sama kamu! Mama yakin di luaran sana tidak ada yang mau menjadikan dia menantu kalau tahu dia itu mandul." Lanjut sang nyonya lagi, sementara Andara hanya diam mendengar mamanya kembali menghina wanita yang katanya dia cintai itu, untuk kesekian kalinya.


" Sudahlah jangan pedulikan dia lagi, sebaiknya kamu ikuti saja maunya! Mama mau pulang dulu, jaga menantu dan cucu mama dengan baik." Ucap Mamanya lagi sebelum berlalu dari ruang rawat Ellana.


Setibanya di dalam mobil, Nyonya Wartika langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Dian.


" Hallo MA. "


" Jangan panggil saya mama! Saya bukan mama kamu. " Sahut Wartika. Membuat Dian langsung terdiam.


" Maaf Tante." ucap Dian kepada mertuanya itu.


" Tidak perlu basa-basi saya menghubungi kamu bukan untuk mendengar ucapan maaf dari kamu. Saya hanya ingin memastikan kan bahwa kamu tidak akan berubah pikiran apapun yang dikatakan anak saya nanti." Sahut wanita paruh baya itu tanpa memikirkan perasaan menantunya.


" Tante tenang saja karena Di tidak akan pernah kembali lagi kepada mas Andara. aku harap mas Andara segera menandatangani surat yang aku kirim." Ujarnya kepada sang mertua.


" Oh tentu saja saya akan memastikan anak saya menandatangani surat itu dan segera mengirimnya kembali kepada kamu, persiapkan saja diri kamu untuk berpisah darinya dan pergilah sejauh mungkindari hidupku kami."


" Baiklah Tante, maaf jika selama menjadi menantu, Dian belum bisa memberikan yang terbaik untuk tante dan mas Andara."


" Hmmm." gumam wanita paruh baya itu kemudian mengakhiri panggilan mereka secara sepihak.


Setelah menelepon Dian, nyonya Wartika meminta supir untuk mengantarnya pulang. di sisi lain Dian kembali menitikan air matanya, begitu panggilan itu berakhir. Andai bisa memilih Dian pun ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anaknya.

__ADS_1


Tetapi melihat sikap mertua yang tidak terlalu menginginkan kehadirannya serta suami yang tidak menghargai dia sebagai istri, Dian memutuskan untuk membuang jauh-jauh perasaan itu dan dia yakin tanpa keluarga Andara pun anaknya akan tumbuh dengan baik.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Berkat hasutan dari sang mama, Andara mau menandatangani surat perceraian yang dikirimkan Dian untuknya.


Begitu sidang perceraian itu tiba, Dian menitipkan Ahyan kepada mamanya demi menghadiri sidang perceraian pertama mereka.


Tapi sayangnya Andara tidak menghadiri sidang pertama mereka, membuat sidang perceraian mereka kembali ditunda satu Minggu.


Marah, kesel sampai rasanya Dian pengen nangis. " Apa sih mau kamu mas? kenapa kamu terus mempermainkan aku, tidak bisakah kau membiarkan aku hidup tenang." Dian bersungut-sungut sambil berjalan ke arah parkiran.


Dan begitu Dian hendak membuka pintu mobilnya seseorang melingkarkan tangan di pinggangnya dan menghimpitnya pada badan mobil. " Apaan sih ini! Lepas." Teriak Dian sambil berusaha melepaskan dirinya.


"Ini aku, jangan berteriak. "Ucap Andara.


" Kamu apa-apaan sih, lepaskan aku." Tegas Dian dan antara pun melepasnya. " sejak kapan kamu disini? " Tanya Dian lagi, kepada lelaki yang masih berstatus suaminya itu, sembari memberi jarak di antara mereka.


" Satu 1 jam kamu bilang? " Sahut dia dengan senyum mengejek.


" Ya, ada masalah? "Andara balik mengejek Dian.


" Kamu masih sempat bertanya seperti ini! di mana otak kamu? jelas-jelas kamu ada di sini tapi kenapa kamu tidak menghadiri persidangan kita? apa sih mau kamu?" Tanya Dian sambil menunjuk-nunjuk dada bidan Andara.


" Kamu tanya mau aku apa?" Dian mengangguk. "Maunya aku kita tidak bercerai, aku sayang sama kamu dan aku tidak ingin bercerai dari kamu. " Sambungnya.


" Kamu tahu! kamu adalah laki-laki yang paling egois yang pernah aku temui, kalau kamu sayang sama aku harusnya kamu ceraikan aku kamu bebas bebaskan aku dari hubungan tak sehat dan rasa sakit ini, bukan mempermainkan aku seperti ini."


" Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan Di! yang aku tahu aku sedang memperjuangkan rumah tangga kita."

__ADS_1


" Rumah tangga kita." Dian tertawa mengejek." Kamu tahu sejak Elana hamil sudah tidak ada kita. yang ada hanya kamu dia dan anak-anak kalian aku sudah tidak ada diantara kalian. tapi jika kamu ingin bermain-main denganku baiklah aku akan menemanimu bermain, kita lihat antara kamu dan aku siapa yang akan menang." Tegas Dian sembari mendorong tumbuhan Andara dan bergegas masuk ke dalam mobil, sebelum Andara kembali mencegahnya.


"Dian Dian buka pintu mobilnya Dian, aku ingin bicara. " Teriakan Andara sambil menepuk-nepuk kaca mobil Dian tetapi wanita itu tidak bergeming sedikitpun, bahkan ketika Andara menghadang laju mobilnya Dian tidak segan-segan untuk menabraknya beruntung Andara segera menyingkir sehingga dia bisa selamat dari kekejaman istrinya itu.


" Sial." Teriak Andara sambil menendang udara. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu." ucapnya lagi, begitu mobil Dian menghilang dari pandangannya.


Sementara itu Dian memutuskan, untuk langsung pulang ke rumahnya dan setibanya dia di rumah Dian langsung disambut teriakan Hani.


" Bunda." Gadis kecil itu berlari kearah Dian sambil merentangkan tangannya. Dan Dian pun menyambut Hani dengan memeluk erat gadis kecil itu.


" Hai sayang, udah pulang sekolah! tadi dapat nilai berapa di sekolah?" Tanya Dian sembari mengajak Hani untuk duduk di sofa dan memangku nya. Dian tidak dapat memungkiri bahwa kekesalannya kepada Andara langsung hilang setelah bertemu Hani.


" Seratus bunda." Jawab Hani dengan riang.


" Terus adik-adik Hani lagi ngapain? waktu bunda tinggal rewel nggak." Tanya Dian lagi, kali ini sambil mengusap kepala Hani.


" Nggak Bun, Baby Aiden lagi sama mommy! kalau Baby Gio baru saja tidur setelah di Kasih susu sama Bi Asih." Jelas Gadis kecil itu. sementara Dian hanya Diam mendengarnya bercerita. cukup lama anak dan Bunda itu bercerita sampai Melly dan mamanya Dian ikut bergabung bersama mereka.


Dalam hati Dian begitu bersyukur, ketika dia ada masalah seperti ini dia berada di tengah-tengah keluarganya, yang mampu membuatnya tenang ada pun Hani yang selalu menjadi obat penenang nya.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....

__ADS_1


...Happy reading..💔💔...


__ADS_2