
Bukan hanya sekalian Andara bertingkah, tetapi setiap panggilan persidangan Andara selalu tidak hadir walaupun dia selalu berada di area parkiran pengadilan.
Hal itu membuat Dian muak dan memilih untuk meminta bantu Dion. Sehari sebelum sidang kembali digelar, Dian menemui Dion di ruang kerjanya.
Tok tok tok.
Dian mengetuk pintu ruangan kerja adiknya. " Masuk. " Terdengar suara instruksi Dion dari dalam sana.
Dian pun meraih handle pintu dan memutarnya sebelum mendorong sedikit pintu itu agar terbuka." Dek sibuk nggak." Tanya Dian, begitu wanita itu berada di dalam ruangan kerja adiknya.
" Sedikit tapi tidak lebih penting dari kakak." sahutnya sambil tersenyum kepada sang kakak." Ada apa kak! butuh sesuatu. " Tanya Dion lagi.
" Ya." Jawab Dian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan duduk tepat di hadapan Dion dengan meja kerja Dion sebagai pembatas mereka. " kakak ingin meminta bantuan kamu." Lanjutnya.
" Bantuan apa kak? katakan kalau aku bisa aku akan dengan senang hati membantu kakak." sahut Dion.
Dan Dian pun menceritakan permasalahan rumah tangganya dengan Andara. Tentang Andara yang terus mempermainkannya saat sidang perceraian, hal itu tentu saja membuat Dion marah dan mengepalkan tangannya.
" Kenapa baru sekarang kakak cerita? harusnya dari awal tuh kakak cerita sama kita kalau tidak mau cerita sama aku! paling tidak sama mama atau Melly bukan membiarkan diri kakak dipermainkan terus sama dia dan keluarganya seperti ini." Ucap Dion, walaupun kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu pelan tetapi mengandung kemarahan di dalamnya. " Maaf aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan kakak." Sambungnya sambil menggenggam tangan kanan Dian yang dia letakkan di atas meja, saat melihat itu wajah murung sang kakak.
" Tapi kakak harus janji sama aku! jika ke depannya ada masalah seperti ini, kakak harus cerita kepada kita jangan menyimpannya sendiri lagi, Okay." Dian menganggukkan kepalanya. " Sekarang kakak fokus sama Gio. Soal perceraian kakak, biar jadi urusan aku! kakak tidak perlu menghadiri persidangan itu lagi, anggap saja kakak dan dia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Tapi aku minta saat sidang putusan nanti kakak harus hadir aku akan siapkan kejutan untuk dia dan keluarga mereka." Lanjut Dion lagi. Dian pun mau tidak mau hanya menyetujui dan menyerahkan segala urusan perceraiannya kepada sang Adik.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Keesokan harinya Dian tidak menghadiri persidangan perceraiannya dan hanya di wakilkan kepada pengacaranya dan pengacara sang Adik. Segala sesuatu yang awalnya terhambat karena ulah Andara kini berjalan sesuai apa yang diinginkan Dian dan adiknya.
Bahkan tanpa sepengetahuan Dian, Dion membuat surat tertulis dengan tuntutan kepada Kakak iparnya, Andara serta beberapa poin pengajuan yang dapat memberatkan Andara dalam sidang perceraian kakaknya. Tentu saja surat itu di tanda tangani Dian tanpa membaca lebih dulu, sehingga ia tidak perlu repot untuk menjelaskan semuanya kepada sang kakak.
Dan kecerdikan Dion tidak hanya sampai disitu. karena dengan bukti-bukti yang ada dia mampu merubah keadaan, seakan-akan Andara yang menjatuhkan talak untuk Dian dan memulangkan Dian secara tidak terhormat ke rumah mereka dalam keadaan hamil dan menelantarkan kakaknya saat hamil serta tidak mengakui kehamilan Dian dan menghinanya sebagai wanita mandul.
Tentu saja pengacara Andara langsung menyangkal hal itu dan menyatakan bahwa kemandulan Istri kliennya bukan Hinaan tetapi Fakta dan Ia juga mengatakan kalau Dian pergi dari rumah tanpa izin dari klien nya bukan di pulangkan tanpa hormat.
Perdebatan antara pengacara Dian dan Andara pun terus berlanjut hingga Hakim memeriksa bukti dan saksi yang di hadirkan kedua pihak.
Setelah perdebatan panjang. Persidangan hari ini pun selesai dan akan di lanjutkan tiga hari dari sekarang dengan melampirkan bukti berupa tes DNA dan bukti dari rumah sakit yang membantu proses persalinan Dian serta menghadirkan Dian dan Anaknya.
Untuk Andara, Hakim meminta pengacara yang mewakili dia untuk menyerahkan bukti dari rumah sakit yang menyatakan istri kliennya mandul serta saksi yang melihat Dian pergi dari rumah tanpa izin darinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Melihat Andara yang begitu gelisah tak menentu. Dion memutuskan untuk menghampiri kakak iparnya itu. begitu dia berada tepat di belakang kakak iparnya, Dion menepuk pundak Andara." Cari siapa?" Tanya Dion begitu Andara berbalik kepadanya.
" Di_Dion Kamu.." Andara begitu terkejut akan kehadiran Dion.
" Ya ini aku kenapa! kamu berharap kakakku yang datang. ingin mempermainkan dia lagi jangan harap aku akan membiarkan kamu melakukan itu." Tegas Dion. Dia tidak peduli jika orang yang mendengar ucapannya menganggapnya tidak sopan karena bagi Dion orang seperti Andara tidak patut untuk dihargai.
Andara tertawa mengejek. " Kamu ingin menantangku."
__ADS_1
" Kenapa tidak." Sahut Dion sambil menaikkan kedua bahunya. " Dan aku harap kamu tidak lupa, kalau aku sanggup melakukan apapun untuk kebahagiaan kakakku."
" Aku juga tidak akan tinggal diam Dion. aku bisa melakukan apapun agar Dian tetap di sisiku."
" Wow hebat ya." Puji Dion sambil bertepuk tangan di hadapan Andara. " Setelah sekian lama kamu sakiti perasaan kak Dian, kamu sia-siakan dia, bahkan kamu tidak tahu akan kehadiran Gio di hidupnya. Sekarang kamu ingin mempertahankan dia dengan alasan sayang begitu? bullshit tau nggak."
BUK.
Dion yang habis kesabarannya menghadapi tingkah Andara langsung memberinya satu bogem mentah, membuat tubuh Andara terhuyung kebelakang. Dion bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Andara, ia kembali memukul perut lelaki itu dan menarik kerak bajunya sebelum menghempaskan satu bogeman mentah lagi di pipi Andara sehingga Andara terjatuh.
Dion berjongkok dan menarik rambut Andara agar menatap kepadanya." Kamu ingin menantang ku, baiklah aku terima tantangan mu kita lihat di antara obsesi mu dan rasa sayangku siapa yang akan menang. dan akan aku pastikan sidang besok adalah sidang terakhir untuk kalian berdua." Ucap Dion sebelum meninggalkan Andara.
" Kalau bukan karena Gio aku juga tidak akan sedih menyentuhnya." Gumam dion sembari menatap helaian rambut Andara yang berada pada sela-sela jarinya. " Bawa sampel rambut itu ke rumah sakit, setengah jam dari sekarang aku akan menemui kamu dan membawa sampel rambut milik Gio." Ucap Dion kepada asistennya begitu ia masuk kedalam mobilnya, kebetulan saat ini asistennya itu juga ikut bersamanya ke pengadilan.
Tanpa di minta dua kali sang asisten langsung mengambil menarik beberapa lembar tisu dan mengambil beberapa helai rambut dari tangan dion dan menaruhnya pada lembaran tisu itu. Setelah itu mereka pun meninggalkan parkiran pengadilan.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung....
...Happy reading..💔💔💔...