Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
End (Karma tak semanis kurma.)


__ADS_3

Segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah titipan, jika kita tidak pandai bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik! suatu saat hal itu dapat di ambil kembali oleh sang pencipta! sekeras apapun kita menjaganya. Dan hal itu kini terjadi kepada keluarga Bagaskara, kesombongan dari seorang nyonya Wartika telah menghancurkan segalanya.


Di usianya yang sudah seharusnya untuk dia beristirahat, kini ia harus kerepotan mengurus kedua cucunya dan bersyukurnya hasil tes DNA yang dilakukan tuan Bagaskara kepada kedua cucunya itu, memiliki kecocokan. Andai hasilnya sama seperti Alesya, mungkin sang nyonya sudah mengalami serangan jantung atau paling ringan stroke.


" Lia, cepatlah kamu bisa terlambat ke sekolah nanti."Teriak sang nyonya Wartika dari ruang makan, sembari menata sarapan untuk sang suami dan kedua cucunya. Jika dulu ruang makannya begitu luas, berbeda dengan sekarang, ruang makan itu hanya berukuran dua kali tiga meter jelas sangat berbeda jauh. " Kamu sudah besar kepada belum bisa pakai baju dengan benar, Lia." Tegur sang nyonya ketika Lia menghampirinya.


Bajunya berantakan dengan ujung seragam sebelah kanan keatas dan ujung sebelah kiri di bawah, jelas gadis kecil ini belum bisa mengancing baju seragamnya dengan benar di tambah rok seragam yang miring dan rambutnya belum di sisir.


Bukan tanpa sebab, Lia sering berpenampilan seperti itu. Dulu waktu mereka masih di rumah yang lama, segala sesuatu keperluan Lia dibantu asisten rumah tangga! wajarlah Jika segala sesuatu dia masih membutuhkan bantuan orang lain. " Lia udah usaha nek! tapi tetap aja kaya gini." Gadis kecil itu mencoba membela dirinya.


" Ngejawab aja kamu! besar mau jadi apa kamu? kalau kecil-kecil aja udah pandai menjawab kaya gini." Sahut nyonya Wartika, sembari melepas kancing baju Lia, kemudian mengancing nya kembali dan memutar sedikit rok seragamnya. " Cepat sarapan." Pintanya.


" Iya Nek, maaf ya! kalau Lia ngerepotin nenek terus, Lia akan belajar lebih giat lagi." Ucapnya.


" Sudah-sudah, cepat habiskan sarapan mu." Titah sang nenek tanpa menghiraukan ucapan Lia. Wanita paruh bayah itu meletakkan nasi goreng buatannya di hadapan Lia, kemudian meninggalkannya, begitu mendengar suara tangisan adiknya Lia.


Dalam benak, wanita itu tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini, jauh dari barang branded, teman-teman sosialita, tinggal di rumah yang kecil, hidup serba pas-pasan dan harus mengurus rumah dan kedua cucunya tanpa bantuan Art di usianya yang sudah tidak muda lagi. Sang suami yang di harapkan bisa membantu justru mengabaikan dan lebih mementingkan perusahaan untuk kebutuhan mereka bertahan hidup, selama Andara di penjara.


Begitulah hidup jika kita terlalu banyak meminta dan menuntut, hal yang belum tentu baik untuk kita kedepannya! apalagi sampai harus menyakiti hati seseorang, hanya untuk mendapatkan keinginan kita. Percayalah karma tidak semanis kurma! karena apa yang kita buat harus di pertanggung jawabkan dan segala sesuatu ada balasannya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Jika Nyonya wardika harus direpotkan dengan kedua cucunya di lain tempat Elana justru kesana kemari mencari tempat untuk berteduh.

__ADS_1


Setelah di usir digugat cerai oleh Andara. wanita itu awalnya pulang ke rumah orang tuanya tetapi baru saja ia mengetuk pintu rumah, ia sudah di dorong oleh papanya yang baru pulang kerja. " Ngapain kamu disini? Hah, dasar anak tidak tahu diri, sudah di kasih hidup enak malah buat malu keluarga. Pergi kamu dari sini dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi. Dasar pembawa Sial." dan masih banyak kata-kata pedas yang keluar dari mulut lelaki paruh baya itu. ia bahkan meminta security untuk mengusir Elana keluar dari gerbang rumahnya dan meminta para security itu, agar tidak mengizinkan Elana masuk walaupun hanya sejengkal halaman rumahnya.


Sikap papa Elana itu bukan tanpa sebab, karena begitu Keluarga Xavier mengklarifikasi kecelakaan yang menimpa Elana waktu itu, saham perusahaannya langsung menurun drastis, bersyukur Andara mau membantunya sehingga hal itu tidak sampai terjadi. Belum lagi masalah Alesya, dimana hal itu membuat papanya Elana semakin malu kepada Andara dan keluarganya.


Alhasil, Elana kini terlunta-lunta di jalan dan tak tahu harus kemana, ia sudah mencoba meminta bantuan teman-temannya, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mau membantunya. Sementara barang-barang yang ia bawa dari rumah Dian, habis di rampas beberapa preman. Entah kata apa yang pas untuk menggambarkan kehidupan seorang Elana saat ini tapi satu yang pasti, Miris.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Di saat mantan mertua dan mantan madunya, tengah menikmati kerasnya kehidupan. Dian justru tengah menikmati indahnya kehidupan.


Bagaimana tidak kehidupan Dian di kelilingi orang-orang yang begitu tulus mencintainya, membuat Dian merasa menjadi orang paling beruntung di dunia ini.


Ia, yang dulunya hidup dengan berlinang air mata dan bertahan karena sebuah harapan pada akhirnya di hancurkan oleh harapan itu sendiri, bersyukur ia memiliki Hani, gadis kecil yang membawa setitik cahaya dan cahaya itu mampu menyinari hidupnya dan membuat ia bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya seperti sekarang ini. " Sayang apa yang kamu lakukan, Hem?" Pertanyaan itu di ikuti tangan yang melingkar di pinggang Dian, membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. Ia kini tengah berdiri di balkon kamarnya sembari menatap gelapnya langit malam yang bertabur bintang.


" Segala sesuatunya berjalan lancar, karena doa istriku." Jawabannya sembari menekan kata istriku.


" Terus kenapa, baru pulang?" Tanya Dian, entah sadar atau tidak, wanita itu mulai posesif kepada Ken.


Sudut bibir Ken tertarik ke atas membentuk senyuman. " Hari ini, aku baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan klien yang baru dan ia mengajak aku untuk makan malam bersama! bukankah aku sudah mengabari kamu, sayang." Jelas Ken, sembari mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya pada puncak kepala Dian.


"Oh." Hanya itu tangan Dian, ia terlalu malu untuk mengangkui jika dia tengah menunggu lelaki itu pulang.


" Sudah malam, ayo kita masuk udara malam tidak terlalu bagus untuk kamu sayang." Ujar Ken, sembari memutar tubuh Dian dan mengecup bibir wanita itu.

__ADS_1


Tanpa memberi kesempatan untuk Dian protes, Ken sudah lebih dulu mengangkat tubuh Dian dan membawanya masuk kedalam kamar. Sementara wanita itu melingkarkan tangannya pada leher sang suami.


" Gio dimana?" Tanya Ken setelah ia menurunkan tubuh Dian di ranjang dan menghampiri ranjang Gio, tetapi ia tidak menemukan putra tersayangnya itu.


" Di kamar mama! katanya malam ini mama ingin tidur bersamanya." Jelas Dian langsung di angguki Ken.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan sang mertua, Ken langsung mengambil Dian. Ia dengan perlahan naik ke atas ranjang dan mulai memulai ritualnya dan malam itu keduanya kembali tenggelam dalam gairah satu sama lain.


Inilah hari-hari yang di lalui Dian, mengurus anak, suami dan pekerjaan serta yayasan yang di bangun bersama adik dan sahabat-sahabatnya. Mungkin orang lain menilai dia terlalu sibuk, tetapi ia sendiri selalu punya waktu untuk Gio dan Ken begitu pun sebaliknya dengan Ken. Lelaki itu selalu memiliki waktu untuk Dian dan Gio, putra kesayangannya! Seolah Nama bukanlah suatu masalah untuk Ken karena ia tulus mencintai Gio sama seperti ia mencintai Dian tanpa spasi atau tapi.


.......


.......


.......


.......


...Tamat....


...Happy reading..💔💔...


...Aku akhiri disini ya. kalau di teruskan nggak sesuai judul.🤭...

__ADS_1


__ADS_2