
Selama perjalanan pulang! Wajah serta nama Ahyan, terus terngiang-ngiang dalam ingatan Kevin. Membuat ia tidak konsentrasi saat mengendarai mobilnya. Dan saat melewati sebuah mini market Kevin memilih menghentikan mobilnya di pelataran mini market itu sejak, seraya mencoba untuk menghubungi Andara lagi.
Tetapi Andara tak kunjung mengangkat panggilnya hingga membuat Kevin pusing sendiri. Kevin menghempaskan ponselnya begitu saja dan memutar arah tujuannya menuju rumah sakit.
Ia harus segera menemui Andara untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini dan menyampaikan surat gugatan perceraian yang di titipkan Dian untuk laki-laki itu.
Setibanya di rumah sakit, Kevin langsung melangkah ke arah resepsionis letak ruang rawat Ellana. Setelah menemukan ruangan Elana Kevin langsung bergegas ke ruangan yang di tunjuk bagian resepsionis.
Sesampainya Di ruangan rawat Ellana, Kevin mengetuk pintu ruang rawat El. " Masuk." Terdengar suara intrupsi Andara dari dalam sama.
Tanpa menunggu lama Kevin langsung memutar handel pintu itu, mendorongnya sedikit kedalam sebelum melangkah masuk.
" Vin, kamu udah dari sana? Gimana kabar Dian." Kevin mengangguk.
" Dia baik-baik saja."
" Dian nggak Marah kan." Tanya Andara lagi dan kali ini Kevin menggeleng kepalanya sebagai jawaban. " Aku udah tahu! Dia kan emang istri aku yang paling pengertian." Lanjutnya lagi, sementara Kevin terlihat begitu malas untuk menanggapi rasa percaya diri sepupunya itu. Ia lebih memilih Diam sambil berpikir bagaimana caranya, menyampaikan surat yang di titipkan Dian.
" Anak kamu udah lahir? "Kevin mencoba untuk basa-basi dengan Andara, begitu Dia menyadari ranjang bayi untuk anak ketiga Andara dan Ellana masih kosong.
" Sudah. "
" Laki-laki atau perempuan? " Tanya Kevin lagi.
" Perempuan! Tapi dia masih di inkubator! Kenapa kamu ingin melihatnya?" Andara balik bertanya kepada Kevin.
__ADS_1
" Kalau di bolehin." Sahut Kevin.
" Boleh dong! Tapi tunggu mama balik dulu ya, soalnya mama lagi ke kantin! Kasihan kalau El di tinggal sendiri, takutnya dia bangun dan butuh sesuatu. " Ujar Andara sembari menatap wajah istri keduanya, yang kini tengah tertidur. Sementara Kevin hanya mengangguk tanda setuju.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
" An, Dian menitihkan sesuatu buat kamu. " Ucap Kevin, begitu keduanya melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan di mana bayi Elana berada.
" Menitipkan apa? " Tanya Andara, Lelaki itu menghentikan langkah, sembari menatap ke arah Kevin.
Kevin pun ikut berhenti seraya meraba saku dalam, jasnya dan mengeluarkan Amplop berwarna coklat itu sebelum di berikan kepada Andara.
Kaget! Tentu saja Andara kaget bahkan wajahnya seketika memucat. " Ini maksudnya apa Vin? Kamu bilang dia tidak marah terus kenapa Dian ngirim ini." Tanya Andara dengan nafas menggebu-gebu.
" Maaf An, aku cuma di minta menyampaikan ini sama kamu." Sahut Kevin.
" Kamu salah An, surat itu di kasih langsung oleh Dian." Tegas Kevin, Lelaki itu menghempaskan tangan Andara begitu saja." Kalau kamu tidak yakin itu dari Dian, kamu bisa menghubunginya dan tanyakan sama dia. Apa dia yang kasih atau keluarganya." Lanjutnya memberi saran.
Andara melangkah mundur, hingga tubuhnya menubruk Dingin dan langsung merosot kebawah. Ia berjongkok di lantai sembari menunduk kepalanya dengan memegang amplop yang di berikan Dian.
Kevin tidak menduga, reaksi Andara akan seperti itu, bahkan lelaki itu sampai menangis membaca setiap kata perkataan yang tertera pada tiga lembaran surat gugatan yang di kirim untuknya.
" Bagaimana jika Aku memberi tahu soal anak Dian."Pikir lelaki itu, dan pada akhirnya ia memutuskan untuk memberi tahu Andara, karena sebagai seorang ayah Andara sudah sepatutnya mengetahui keberadaan anaknya. " An! Ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui."
" Apa Dian yang meminta mu! Untuk mengatakan hal itu kepadaku." Tuduh Andara, tanpa ingin tahu apa yang akan di ucapkan oleh Kevin nanti. " Selama beberapa bulan ini aku membiarkan dia melakukan apapun semaunya dia, dia ingin tinggal di rumah orang tuanya aku izinkan, dia tidak ingin menemui aku, aku terima bahkan dia mengabaikan panggil maupun pesan dari ku, aku pun tidak mempermasalahkan hal itu. Asalkan dia tidak meminta cerai lagi. Tapi kini apa yang terjadi Vin dia menceraikan aku, hanya karena aku tidak bisa menghadiri Akikahan keponakannya. Apa aku harus setega itu meninggalkan Elana yang tengah berjuang melahirkan Anak aku hanya untuk senang-senang bersamanya. Jika ya! Harusnya dia katakan kepadaku Vin. " Lanjutnya panjang kali lebar. Tidak membuat hati seorang Kevin iba sedikitpun, karena Kevin yakin Dian lebih sakit dari pada dia! Sehingga dia sanggup mengambil keputusan sebesar ini.
__ADS_1
" Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk kita bicara An, Aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan kamu lagi. Jika kamu ingin tahu alasan Dian menceraikan kamu, sebaiknya kamu tanyakan langsung kepada." Sahut Kevin sembari menepuk pundak Andara." Aku balik ya! Lain waktu aku akan berkunjung untuk melihat putrimu. " Lanjutnya sebelum melangkah menjauh meninggalkan Andara masih dalam posisi yang sama.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tidak ingin berakhir tanpa kejelasan apa-apa! Andara memutuskan untuk menghubungi Dian dan mendengar penjelasan wanita itu. Syukurnya wanita itu masih memiliki itikat baik untuk menjawab panggilan dari Andara.
" Hallo_"
" Apa maksudnya ini Di? Kamu ingin bercerai hanya karena aku tidak bisa menghadiri Akikahan keponakan kamu! Di aku tiba bisa hadir karena El akan melahirkan! Aku Mohon Di, tolong mengerti posisi aku." Ucap Andara. Lelaki itu sedang berada di taman rumah sakit. Sengaja dia memilih taman, agar mamanya tidak memperburuk keadaan saat di berbicara dengan Dian.
"Justru aku melakukan itu semua, karena aku mengerti kamu?" Sahut Diana dari seberang sana tanpa embel-embel mas seperti biasanya. " Aku mempermudah hubungan kalian dan kamu bebas meluangkan waktu untuk istri dan anak-anakmu tanpa harus memikirkan aku." Sambungnya.
" Tapi Aku sayang sama kamu, aku nggak mau kita pisah! Bukannya dulu kamu yang minta aku untuk tetap sama aku selamanya, kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak bisa tanpa aku! Kenapa sekarang kamu mengingkari kata-kata mu. " Ujar Andara sembari mengepalkan tangannya.
" Ya kamu benar! Aku pun tidak lupa dengan kata-kata ku. Tapi pada akhirnya aku memang harus melepaskan mu. Dan yang perlu kamu tahu, sebelum aku berada pada keputusan ini kamu sendiri yang telah mematahkan seluruh hatiku, kamu juga yang mengajarkan aku untuk terbiasa tanpa kamu. Tapi bodohnya aku, aku masih sempat berdebat hebat dengan diriku sendiri, aku pun telah melangitkan ribuan doa, agar tuhan menunjukkan jalan lain selain perpisahan. Tolong maafkan aku yang lemah ini dan lupakan tentang aku yang pernah memintamu untuk tidak pergi. Tetaplah bersama El, anggap saja aku tidak pernah hadir dalam hidupmu dan jangan sakiti dia." Ucap Dian panjang kali lebar." Sudah dulu ya, aku sedang sibuk. " Dian mengakhiri panggil Andara begitu mendengar suara tangisan Ahyan.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading...💔💔...