Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
Di, Nikah yuk!


__ADS_3

Sejak malam itu Dion melarang sang kakak untuk menemui mereka dengan alasan apapun itu, Dion pun tidak menyalakan kakaknya karena peduli dengan orang lain termasuk orang yang pernah menyakiti, Karena Dia tahu hati kakaknya Memeng selembut ini.


Tetapi di balik kejadian malam itu, ada sisi baiknya untuk hubungan Dian dan Ken, Keduanya menjadi lebih dekat walaupun terkadang Dian masih bersikap Dingin serta Sedikit judes kepada Ken.


Dan hal itu tidak membuat seorang Ken patah semangat untuk mendapatkan hati janda satu anak itu, mengingat restu dari orang tua Dian dan dukungan dari saudara serta sahabat-sahabat wanita itu telah Dia dapat.


" Pagi...." Sapa Ken tetapi sapaannya tidak di balas oleh Dian. Ken kembali mendatangi rumah Dian untuk kesekian kalinya. " Udah sarapan belum?" Tanya Ken. sementara Dian hanya memutar bola matanya malas sebagai respon untuk lelaki itu.


" Ngapain lagi sih kesini! nggak bosan apa?" Tanya balik Dian sambil melipat kan kedua tangannya di dada. Wanita itu hendak berangkat ke butik bersama Gio. Semenjak kembali ke Jakarta, Dian memutuskan untuk kembali mengurus butiknya setelah setahun lebih dia tinggalkan kepada orang kepercayaannya.


" Mau nganterin Bunda dan Gio dong! apalagi emangnya?" Sahut Ken. Tanpa permisi lelaki itu langsung mengambil Gio dari gendongan Dian.


" Nggak usah kita bisa sendiri! Kembali kan Gio." Ujar Dian, Ia mencoba untuk merebut kembali baby Gio, tetapi Ken justru berjalan kearah mobilnya.


" Silahkan Bunda." Ucap Ken, lelaki itu tidak menghiraukan ucapan Dian, ia justru membuka pintu mobil untuk Dian.


" Kamu tuli ya? aku bilang aku bisa sendiri kenapa kamu jadi tukang maksa kaya gini sih! nyebelin tahu nggak." Sahut Dian. Wanita itu terlihat begitu kesal dengan ulah Ken.


" Terserah kamu, anggap aku apa! mau marah sama aku, benci atau apapun itu! Aku nggak papa itu hak kamu. Sebab aku hanya ingin memastikan kalian berdua baik-baik saja saat keluar rumah dan pulang pun sama." Ucap Ken. lelaki itu tidak tersinggung sedikit pun dengan ucapan Dian, ia justru menatap wanita itu penuh cinta walaupun Dian membalas dengan kemarahannya.


" Kamu itu nggak ada hak buat ngusir in kita berdua. Harusnya kamu sadar dan berhenti ngusir in kita berdua." Ujar Dian.


" Jika menurut kamu aku tidak berhak buat ngusir in kalian berdua. Maka berikan aku hak itu dan jangan meminta aku untuk berhenti, karena aku hanya mengalah dan mundur sekali, aku tidak akan melakukan hal yang sama dua kali! Camkan itu Di." Tegas Ken membuat Dian terdiam. " Silahkan, aku antara." Ulang Ken lagi, lelaki itu masih setia memegang pintu mobilnya untuk Dian dengan Gio yang masih berada dalam gendongannya.

__ADS_1


Entah balita itu yang terlalu pintar atau tengah terperdaya dengan mainan gigit, yang di berikan Bundanya. Sampai Gio tidak terpengaruh sedikit pun ketika Bundanya dengan Ken berdebat di hebat hadapannya.


Dengan kesal Dian masuk ke dalam mobil Ken, begitu wanita itu telah duduk dengan nyaman, Ken langsung memberikan Gio ke pangkuan Dian dan menutup pintu mobil, kemudian mengitarinya sebelum masuk dan duduk di balik kemudi bersebelahan dengan Dian.


Ken perlahan menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Xavier menuju butiknya Dian, selama dalam perjalanan itu Dian hanya Diam, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun di saat Ken berusaha mengajak Dian berbicara.


" Di, aku nggak tahu salah aku itu dimana! Sehingga kamu begitu membenciku." Ucap Ken begitu mobilnya berhenti di depan Butiknya Dian tanpa menatap kepada Dian.


" Aku nggak pernah ya benci sapa kamu." Sahut Dian sambil menengok kepada Ken.


" Tapi kesan yang kamu tunjukkan kepada aku seperti itu Di." Ken pun ikut menengok kearah Dian, membuat tatapan kedua bertemu dan terkunci satu sama lain. " Kalau kamu nggak Benci kepada kamu selalu berusaha menjauh saat aku mendekat." Tanya Ken sembari mengikis jarak di antara mereka.


Tanpa permisi Ken mengusap kepala Gio kemudian berpindah kepada Dian. " Kenapa hanya Diam? " Ken kembali bertanya di saat, Dian masih terdiam.


" Kamu tidak perlu takut Di, karena kamu akan memulai dengan yang baru. Kamu juga tidak perlu berusaha untuk membalas setiap rasa yang aku punya untuk kamu, cukup jalan bersama aku dan biarkan Tuhan yang melakukan sisanya, entah pada akhirnya nanti kamu bisa membalas semua rasa yang aku punya atau tetap mencintai dia. Aku tidak akan marah dan menuntut lebih dari kamu." Ken kembali menyakinkan Dian.


" Emangnya kamu siap kalau aku berbagi cinta dengannya nanti." Ken spontan menggeleng-gelengkan kepala. " Terus kenapa kamu ngomong seperti itu " lanjut Dian sembari mendorong wajah Ken yang semakin mendekat dengan wajah Dian.


Setelah itu Dian memindahkan Gio ke pangkuan Ken dan membuka sabuk pengaman yang dia gunakan kemudian membuka pintu mobil dan keluar begitu saja sambil membawa tasnya yang berisi keperluan dia baby Gio.


" Agar kamu percaya kalau aku tuh serius tulus sama kamu." Ujar Ken, menyusul Dian sembari menggendong baby Gio. Semenjak dekat dengan baby Gio, Ken mulai terbiasa melakukan apapun dengan Gio yang berada dalam gendongannya, bahkan pernah saat di ajak makan bersama Ken terlihat begitu santai makan sambil memangku baby Gio.


" Di Gio ikut aku ke kantor ya." Teriak Ken saat wanita itu kembali mengacuhkan ucapannya.

__ADS_1


" Nggak, sini balikin anak aku." Di memutar tubuhnya kemudian mengulurkan tangannya kepada Gio. " Sini sayang sama Bunda, om Ken nya harus kerja. sana pergi nanti kamu telat jadi bos itu tunjukkan contoh yang baik buat bawahan kamu.


" Iya Bunda." Jawab Ken, lelaki itu pun berbalik menuju mobilnya. " Di." Panggilannya sebelum membuka pintu mobil.


" Apa lagi?"


" Nikah Yuk."


" Gila kamu tuh, mending kamu cepat pergi atau mau aku panggil Security nih." Ancam Dian hanya di respon dengan tawa.


" Jangan panik gitu dong bunda, kenapa nggak panggil penghulu aja, aku siap kok." Sahut Ken. Lelaki itu seakan lupa dengan umurnya ia terus saja menggoda janda satu anak itu.


Di saat Dian tengah pusing menghadapi ulah Ken yang terus mendekatinya. Di tempat yang berbeda Andara justru di buat pusing dengan istri dan mamanya. kedua wanita yang dulunya begitu akur dan kompak untuk menjatuhkan Dian , kini bagaikan musuh yang baru di pertemukan lagi.


Perdebatan dan pertengkaran di dalam rumah itu sudah menjadi hal biasa bagi Andara dan penghuni rumah lainnya selama hampir satu Minggu ini. Bahkan tidak terhitung berapa jumlah perabot yang pecah karena ulah kedua wanita itu. keadaan Elana yang berada di kursi roda tak menyurutkan tekadnya untuk menjadi menantu durhaka dengan membantah dan membalas setiap ucapan kasar yang keluar dari mulut mertuanya.


.......


.......


.......


...Bersambung....

__ADS_1


...Happy reading..💔💔...


__ADS_2