Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati
Selamat jalan Alesya.


__ADS_3

Berita meninggalnya Alesya beredar dengan begitu cepat sampai di telinga Keluarga Xavier. Saat itu keluarga Xavier yang baru selesai merayakan ulang tahun Hani, tengah berkumpul untuk makan-makan dan sesekali menggoda Dian dan Ken, mendapatkan telpon dari Kevin.


Lebih tepatnya Dian yang di telpon oleh Kevin. Dan tentu saja Dian tidak percaya dengan kabar yang di sampaikan Kevin. Jangan kan Dian orang lain yang berada di posisi Dian pun tidak akan percaya, bagaimana tidak Baru beberapa jam yang lalu Dian melihat Alesya masih dalam keadaan sehat dan tiba-tiba dia dikasih kabar seperti ini! siapa yang akan percaya.


Merasa penjelasan sia-sia, lelaki itu hanya menyebutkan nama rumah sakit dan meminta Dian untuk mengecek ke sana, sebelum dia mengakhiri panggilannya.


Setelah panggil telpon dari Kevin berakhir, Dian merasa tidak tenang dia tiba-tiba merasa sedih seakan ada yang menyakitinya dan kegelisahan itu sudah dia rasakan sejak kemarin. Tapi Dian tidak terlalu menanggapi perasaan itu karena dia pikir itu hal biasa dan semua orang pasti akan merasakan kekhawatiran yang sama sebelum memutuskan untuk membuat komitmen.


" Di. Ternyata benar Alesya udah nggak ada." Ucap Ken setelah menerima telpon yang entah dari siapa. Sontak membuat semua orang yang ada di meja itu terkejut, begitu juga Dengan Dian.


Ken yang mendengar pembicaraan Kevin dan Dian tadi, langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk mengecek berita itu di saat Dian tengah larut dalam pikirannya yang entah kemana. " Kamu mau ke rumah sakit?"


" Haah apa?" Dian menengok ke pada Ken.


Lelaki itu pun membalas tatapan istrinya sembari membenarkan helaian rambut Dian ke belakang telinga dan kembali mengulangi pertanyaannya. " Kamu mau ke rumah sakit? Nanti aku antar." Ucap Ken dengan suara yang begitu lembut ditambah sebuah senyuman yang manis, berharap membuat Dian gelagapan dan tidak bisa berkata-kata selain menganggukkan kepalanya.


" Manis banget sih, Untung aku udah ada yang Punya, kalau nggak_"


" Kalau nggak apa? mau di hukum." Reval langsung memotong ucapan istrinya. Dalam keadaan seperti ini Luna masih sempat menggoda Ken dan Dian di depan Reval pula.

__ADS_1


"Iya sayang, boleh! udah lama juga aku nggak di hukum." Sahut Luna tanpa tahu tempe dan situasi.


" Ehkmm." Dion pura-pura batuk agar pasangan yang tidak mengenal kata bosan itu menghentikan pembicaraan mereka yang bisa Dion tebak menjurus ke arah mana. " Sebaiknya kita ke rumah sakit, biar bagaimanapun mereka pernah menjadi bagian dari hidup kakak, apalagi Alesya itu kakaknya Gio." Ucap Dion.


" Apa tidak sebaiknya besok saja! sekaligus melayat, lagian ini sudah malam tidak mungkin kan Alesya langsung di makamkan malam ini." Usul mamanya Dion.


" Benar nak! Sebaiknya besok saja kalian ke sana. Kalian tidak tahu situasi di sana seperti apa dan perasaan mereka seperti apa! takutnya Niat baik kalian malah salah di artikan ditambah kalian datangnya beramai-ramai seperti ini." Bunda Vio pun turut memberi pendapat.


" Benar sih kata bunda dan tante." Putra membenarkan ucapan dua wanita paruh baya itu.


" Aku sih nggak masalah, maupun pergi sekarang atau besok." Sahut Dion.


" Aku juga." Melly, Luna dan yang lainnya mengatakan hal yang sama kecuali Ken dan Dian.


Dian menggeleng kepalanya kemudian berkata." Aku ikut kata mereka aja bang."


" Ekhmmm udah naik satu tingkat rupanya dari kakak jadi Abang." Sahut Jayden membuat mereka tertawa sembari menggeleng kepala. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Dian Ke esok kan harinya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


Jenazah Alesya di pulangkan ke rumah tepat pukul satu malam dan di rumah duka, Keluarga dari pihak Andara maupun Elana sudah berkumpul di sana untuk memberikan doa dan menemani Alesya di malam terakhirnya di rumah itu. Andara pun telah memutuskan untuk menyimpan rahasia siapa Alesya untuk kebaikan putri kecilnya itu, cukup saja dia yang tahu siapa Alesya, demi ketenangan putrinya itu. Tapi berita kecelakaan serta penyebab Alesya meninggalkan tidak dapat dia tutupi dari konsumsi publik, mengingat kecelakaan yang menimpanya bukan kecepatan tunggal karena ada sebuah minibus juga di sana.


Sedangkan sang nyonya Wartika berulang kali tak sadarkan diri saat melihat tubuh Alesya yang terbujur kaku wanita itu tidak menyangka cucunya akan pergi secepat itu.


Tepat pukul 8 pagi, banyak kerabat, guru-guru dan teman-teman Alesya datang melayat di temani orang tua mereka. Dian, Ken dan keluarga Xavier pun telah hadir di sana, begitu juga Reval dan sang istri.


Satu persatu keluarga di izinkan untuk melihat Alesya untuk terakhir kalinya. Begitu pun dengan Dian. Wanita bahkan tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Sesungguhnya jauh di lubuk hatinya Dian juga sangat menyayangi, tapi sayang mama mertua dan Elana tidak pernah memberinya kesempatan untuk mengutarakan kasih sayangnya itu.


" Selamat jalan pelita kecil bunda, walaupun cahaya mu hanya sementara dan tak bisa bunda genggam, tetapi sedikit banyak cahaya mu, pernah turut andil dalam menerangi serta mendewakan perjalanan hidup Bunda. Seandainya waktu bisa Bunda putar! mungkin Bunda bisa lebih sedikit keras dalam menentukan sikap untuk mencurahkan perhatian serta kasih sayang Bunda untuk mu. sayang waktu tidak dapat Bunda putar, kenangan hanya tinggal kenangan. Mungkin kedepannya Bunda tidak akan pernah bisa melihat tingkah dan senyum lagi. Tapi satu yang pasti Namamu akan selalu selipkan di dalam doa Bunda. Kamu tidak bersalah sayang dan kamu pun tidak ingin terlahir dari orang tua yang salah, tapi Tuhan menghadirkan kamu di antara kita sebagai anugrah sekaligus ujian cinta. Bunda sangat ingin mendengar Alesya memanggil Bunda dengan panggilan bunda bukan Tante, tapi sampai akhir bunda tidak bisa mendengarkan hal itu. Nggak papa sayang bunda tetap sayang sama Alesya. Terima kasih sudah hadir dan membuka pintu hati bunda yang tertutup hingga tidak dapat melihat ketulusan yang sebenarnya. Istirahat lah sayang pengorbanan,rasa lelah serta rasa sakit mu telah berakhir. " Ucap Dian di depan wajah Alesya setelah itu ia mengusap wajah yang penuh dengan air mata sampai tidak ada sisi air mata di sana sebelum mencium kening Gadis kecil yang telah terbujur kaku. Beruntungnya Alesya di akhir hidupnya ia masih mendapatkan ketulusan dari Dian sementara Elana , ibu yang melahirkannya hanya melihat dari jauh layaknya seorang tamu yang datang melayat.


Jenazah Alesya di makamkan tepat pukul sepuluh pagi, setelah pemakaman selesai semua orang meninggalkan makam Alesya. Menyisakan Andara dan orang tua nya. Sementara Elana tidak mengikuti proses pemakaman Alesya hanya orang tuanya saja, setelah pemakaman selesai Mereka langsung pulang bersama pelayat yang lain.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung....


...Happy reading..💔💔...


__ADS_2