
Setiap perbuatan harus ada pertanggungjawabannya. Entah itu di sengaja atau tidak, yang pasti keteledoran yang di lakukan Andara telah menghilangkan nyawa Alesya.
Begitu kembali dari pemakaman Andara sudah di tunggu 2 orang polisi, yang membawa surat perintah penangkapan untuk dirinya.
Walaupun kecelakaan yang menimpa dirinya dan Alesya, disebabkan oleh rem minibus yang bertabrakan dengan mobil Andara blong. tapi sesuai penyelidikan Andara diduga mengemudi mobil dalam kecepatan tinggi dan sengaja melalaikan keselamatan Alesya, hingga Gadis kecil itu harus meregang nyawa.
" Apa-apaan kalian, Anak saya tidak bersalah." Protes sang nyonya Wartika kepada dua orang polisi itu, bahkan ia menghadang dua orang polisi yang akan membawa Andara. Sementara Andara sendiri hanya pasrah. Dia tahu semua ini terjadi karena kesalahannya.
" Maaf Bu, jika ibu ingin melakukan pembelaan silahkan ikuti kami ke kantor untuk memberi kesaksian! tapi jangan menghalangi tugas kami." Ucap salah seorang polisi kemudian memborgol tangan Andara dan mengarahkannya ke mobil patroli yang terparkir di halaman rumah mereka.
" Papa, kenapa papa Diam saja! Tolong Andara pa. Kita baru saja kehilangan cucu dan sekarang anak kita di penjara! pa, tolong lakukan sesuatu untuk anak kita pa! Eliana dan adiknya masih membutuhkan dia. " Seru nyonya Wartika sambil mengguncang tubuh suaminya.
Tetapi lelaki paruh baya itu hanya memeluk dan menenangkan istri nya, Ia tak menduga kehidupan anaknya bisa sehancur ini, cobaan dan silih berganti seolah tidak ada habisnya. apa mungkin ini yang di sebut karma.
Setelah istrinya sedikit tenang. Tuan Bagaskara dan seorang pengacara datang mengunjungi Andara di kantor polisi bersama nyonya Wartika tentunya.
Di depan pengacara dan orang tuanya, Andara menyampaikan niatnya untuk menceraikan Elana dan menyerahkan rumah itu kepada Dian karena rumah itu memang atas nama Dian.
Awalnya tuan Bagaskara menolak niat Andara untuk menceraikan Elana tetapi Andara tidak memiliki alasan lain selain memberitahu kebenaran tentang Alesya dan meminta papanya untuk melakukan tes DNA kepada Eliana dan Adiknya.
" Nak! Papa tahu kamu kecewa sama El, tapi tidak sepatutnya kamu mengarang cerita seperti ini." Ujar Tuan Bagaskara. Lelaki itu tidak langsung percaya begitu saja walaupun Andara sudah mengatakan yang sebenarnya.
" Papa nih, apa-apaan sih! sebagai orang tua harusnya papa mendukung anak kita bukan menyulitkannya seperti. " Sahut sang nyonya Wartika. membuat tuan Bagaskara memijit pangkal hidungnya. lelaki itu tidak bermaksud menyalahkan anaknya tapi Dia tidak ingin pernikahan anaknya hancur untuk kedua kalinya. " Jangan bilang kamu membenarkan ucapan anakmu."
Nyonya Wartika langsung terdiam, pikiran melayang pada kejadian pagi tadi di mana teman-teman Elana datang melayat dan mereka saling berbisik tenteng siapa Alesya. Dan nyonya Wartika yang berada di dekat mereka bisa mendengarkan hal itu.
__ADS_1
Awalnya dia sempat tak percaya dan menyangkal hal itu, tapi mendengarnya langsung dari mulut andara membuat nyonya Wartika tidak bisa menepis kebenaran itu dan menyimpan kemarahan untuk wanita tidak tahu malu itu. siapa lagi kalau bukan Elana, untuk sekarang dia masih fokus membantu Andara, mendapatkan persetujuan dari sang suami tercinta.
" Ma, mama lupa! dia menantu yang mama pilih, menantu yang mama agung-agungkan! Apa mama lupa." Ucap tuan Bagaskara.
" Tidak, Anggap saja waktu itu mama lagi khilaf." Sahutnya tanpa beban.
" Sudahlah ma, pa! jika kalian masih ragu dengan kata-kata aku , papa dan mama bisa ke rumah sakit untuk mengecek laporan medik Alesya. Dan tolong lakukan tes DNA untuk Eliana dan Adiknya kalau mereka benar Anak Aku, tolong mama dan papa jaga mereka sampai Aku keluar dari sini." Andara berdiri dari duduknya kemudian menatap kepada pengacara yang membantunya. " Pak tolong urus perceraian saya dan Elana, bapak bisa menghubungi Kevin, sepupu saya untuk meminta kelengkapan surat-surat yang di butuhkan. " Setelah mengatakan apa yang harus dia katakan, Andara kemudian meninggalkan orang tua nya dan pengacara itu.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Di saat Andara tengah terpuruk dengan masalah yang datang silih berganti. Dian justru tengah menyicipi indah kebahagiaan yang dia miliki saat ini. Suami yang baik dan pengertian serta anak-anak yang ganteng-ganteng dan cantik. Belum lagi Ibu mertua dan Adik ipar yang menerima Dian apa adanya.
Seperti hari ini. Mama mertuanya sengaja memasak dan mengundang mereka untuk makan malam bersama.
" Akhirnya kalian datang juga, mami kirain kalian nggak jadi datang, mana mami Udah masak banyak." Ucap Ambar menyambut kedatangan Ken, Dian, Hani dan Gio. Ia memeluk dan mencium pipi dan kening menantunya. Sungguh ketulusan yang tidak pernah Dian dapat dari mertuanya yang dulu ml. Ambar menghampiri Ken dan berkata. " Aduh makin ganteng aja ini cucu om, sini-sini sama om." Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya untuk mengambil Gio dari gendongan Ken.
" Hai, Ini siapa? cantik banget." Puji Kania dengan begitu tulus saat melihat si kecil Hani dan sempat-sempat mencium dan mencubit pipi chubby Hani saking gemesnya dia dengan Haniya. " Nama Kamu siapa? Nama Aunty Kania!" Tanya Kania sekaligus memperkenalkan dirinya kepada Hani.
" Hani aunty Salaam kenal ya." Hani menyambut ajakan perkenalan Kania dengan mencium punggung tangannya.
" Pinter banget sih kamu. Hani nanti nginap disini ya! Besok baru Aunty antara pulang, mau ya." Ucap Kania lagi.
" Weekend aja ya, soalnya besok Haniya nya harus sekolah." Sahut Ken. membuat Kania memanyunkan bibirnya.
" Abaang."
__ADS_1
" Nggak bisa sayang Hani sekolah, siapa suruh kamu baru datang, pakai nggak hadir di pernikahan Abang segala."
" Maaf lah bang, Kania lagi banyak kerjaan, lagian Abang sih, siapa suruh nikahnya dadakan." Sahut Kania dengan bibir yang tetap di manyunkan.
" Salah kan saja kakak ipar kamu itu, nentuin harinya dadakan. Tapi kakak bahagia plus nggak nyangka bisa secepat ini." Ucap sambil memandang Dian penuh Cinta.
" Kak Dian, akhirnya kakak jadi kakaknya Kania! Kania senang banget! apalagi dapat bonus dua keponakan cantik dan ganteng. Pokoknya malam ini kalian harus nginap titik." Kania menghempaskan tubuhnya pada Dian kemudian memeluk kakak iparnya itu.
" Sudah-sudah, urusan nginap bisa nanti, sebaiknya kita masuk, mami udah siapkan makan malam buat kita takut dingin, Ayo." Mereka kompak mengangguk kemudian, mengikuti langkah maminya Ken.
Di meja makan itu, terlihat banyak hidangan mewah, plus dessert nya. Dan semua itu di siapkan sendiri oleh mamanya Ken walaupun sedikit di bantu oleh Artinya.
Makan malam itu di lewati penuh canda tawa layaknya keluarga harmonis, Dan Dian benar-benar di terima dengan baik di keluarga Ken.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💔💔...
__ADS_1