
" Kamu tahu Di, dulu aku tidak pernah membayangkan kamu akan menjadi istriku." Ucap Ken, ia melirik sekilas ke pada Dian kemudian kembali fokus menyetir. Keduanya kini tengah berada dalam perjalanan menuju restoran, untuk makan malam bersama! Walaupun mereka belum makan siang tapi waktu mereka sekarang tidak bisa di katakan untuk makan siang lagi.
Dian mengatur posisi duduknya, sehingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Ken. Salah satu sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai dan berkata." Ngakunya cinta, bayangin jadi istri aja nggak! Kamu benaran cinta atau sekedar gombalan saja."
"Masih kurang bukti kah?" Alih-alih tersinggung dengan ucapan sang istri, Ken justru balik bertanya dengan fokus tetap ke depan.
" Iya sih! Tapi bisa saja itu sekedar obsesi kamu kepada aku, bukan cinta namanya." Sahut Dian, wanita itu tidak langsung mengakui perasaan Ken dan masih mempertanyakan perasaan lelaki itu walaupun dia sendiri tahu Ken benaran tulus mencintainya, seperti yang di katakan Luna dan Adik iparnya, Melly.
"Dengar yang mbak Dian, lelaki yang tulus mencintai kita, adalah lelaki yang tetap mau memperjuangkan kita walaupun kita sudah sering mematahkan hatinya dan mbak orang itu siapa?"
Tetapi entah mengapa Dian, ingin mencari sedikit masalah dengan Ken. Namanya juga perempuan, bertanya sesuatu yang nggak penting kemudian menjadikan hal itu sebagai masalah walaupun dia tahu itu bukanlah masalah yang harus menyita waktu mereka untuk menyelesaikannya.
" Sayang, kalau aku terobsesi sama kamu! Aku sudah berusaha untuk merebut kamu dari Andara tidak peduli dia sahabat aku atau bukan! Aku lelaki waras, aku menghargai sebuah hubungan dan komitmen, aku tidak akan merusakkan hal itu hanya karena apa yang aku rasakan. Bukan berarti aku tidak pernah memperjuangkan kamu, ketahuilah sayangku, aku terus memperjuangkan kamu dengan do'a sampai detik ini. Alasan aku tetap Diam saat kamu di sakit Elana, Andara dan keluarganya. Itu semata-mata agar wanita yang aku cintai tidak di pandang rendah karena berkhianat. Aku mencintai mu dengan sepenuh hati, tidak akan ku biarkan orang lain mengambil keuntungan dari rasa sakit mu termasuk aku, kecuali kamu sendiri yang menginginkan hal itu." Kata-kata Ken membuat Dian terdiam dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata yang mampu keluar dari bibirnya.
Ken mengecup bibir Dian yang sedikit terbuka, kemudian berkata lagi." Jangan bengong sayang, kita sudah sampai, Ayo turun." Lelaki itu melepas sabuk pengamannya, kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan mengitari mobilnya, membukakan pintu mobil untuk Dian.
" Maaf." Wanita itu langsung melempar dirinya kepada Ken, setelah mencerna apa yang di ucapkan Ken tadi. " Maaf ya, aku udah nyakitin kamu." Lanjutnya lagi.
" Tidak, kamu tidak pernah nyakitin aku, kamu juga berhak untuk menentukan pilihan dengan siapa, kamu ingin bersama." Balas Ken sembari mengusap punggung sang istri. Dan bisa Ken tebak wanita itu menangis. " Dan jangan pernah menyesali semua yang telah terjadi, karena dengan adanya semua itu, kita bisa memiliki Gio. Dan kita mulai semua dari nol bersama-sama, masa lalu biarkan tetap di belakang, kita harus menatap lurus ke depan untuk masa depan kita yang lebih baik, oke."
__ADS_1
Dian mengangguk, kemudian melepaskan dirinya dari Ken dan mendongak keatas membingkai wajah Ken dengan kedua tangannya seraya berkata. " Aku mencintaimu." Kemudian mencium bibir Ken. Wanita itu bahkan tidak peduli jika mereka tengah berada di parkiran restoran dan menjadi tontonan beberapa pelanggan yang hendak makan di situ juga.
Sementara Ken tidak dapat beraksi apa-apa, penyataan cinta dari Dian sudah cukup membuatnya terkejut dan kini tambah ciuman tiba-tiba dari istrinya itu.
" Sayang kedepannya, kalau ingin memulai sesuatu, tolong kondisikan tempat." Ujar Ken setelah menguasai dirinya. Dan hal itu membuat Dian tertawa terbahak-bahak.
" Sekarang waktunya makan." Ken mengangguk, setelah itu keduanya melangkah bersama-sama masuk kedalam restoran sambil berpegangan tangan.
...\=\=\=\=\=\=...
Kehidupan terus berputar hari ini kita di atas besok kita akan dibawa, hari ini menangis mungkin besok kita akan tertawa, begitu seterusnya. Setiap orang mungkin mengetahui masalahnya, tetapi mereka tidak tahu masa depan mereka akan seperti apa.
Dan disaat Dian tengah menikmati manisnya kehidupan, Keluarga Bagaskara mulai di rundung masalah silih berganti, mulai dari kebakaran gudang penyimpanan milik perusahaan keluarga Bagaskara, kini giliran kecelakaan kerja, pada proyek pembangunan di tangan oleh perusahaan Andara, Kevin selaku orang yang di kasih tanggung jawab untuk masalah itu, lepas tangan dan tidak ingin mendapatkan kerugian. Alhasil perusahaan yang Andara bangun berkata dukungan Dian terpaksa di jual dan di pindah tangan kan kepada orang lain sehingga perusahaan itu tidak sampai bangkrut, dan orang yang membeli perusahaan Andara adalah Dian, bukan karena ia masih mencintai Andara, tetapi ia hanya ingin menyelamatkan apa yang menjadi hak Gio, karena perusahaan yang Andara bangun dari nol itu, sepenuhnya mendapatkan dukungan finansial dari Dian.
Keluarga Bagaskara mungkin kaya, tapi untuk membangun sebuah perusahaan dari nol, tentu saja tuan Bagaskara akan berpikir dua kali. Tapi Dian mampu meyakinkan suaminya dan perusahaan itu pun didirikan sehingga bisa berkembang sebelum berakhir seperti sekarang ini.
" Ma, sepertinya papa akan menjual rumah ini! Untuk menutupi kerugian perusahaan." Ucap tuan Bagaskara. Lelaki itu baru saja pulang. Wajahnya terlihat lelah dan tertekan menghadapi situasi yang ada.
" Tapi pak, kita mau tinggal dimana kalau rumah ini dijual pa." Tanya nyonya Wartika.
__ADS_1
" Kita bisa membeli rumah yang lebih kecil dan tinggal di sana untuk sementara waktu." Sahut tuan Bagaskara. Langsung di tolak oleh nyonya Wartika." Ma, tolong jangan egois! Ini semua papa lakukan untuk kebaikan kita semua, apa mama mau papa di penjara karena tidak dapat membayar semua kerugian itu."
" Mama tahu pa, tapi kita tidak harus menjual rumah ini juga pa! Apa kata teman-teman mama nanti kalau sampai mereka tahu papa bangkrut." Wanita itu masih sempat-sempatnya memikirkan gengsi di saat situasi suaminya tengah terjepit seperti sekarang ini.
" Persetan dengan teman-teman mama! Tanpa persetujuan mama pun, papa akan menjual rumah ini, silahkan mama pilih mau ikut papa atau tidak, itu terserah mama." Dan wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa. Selain meratapi nasib mereka saat ini.
Segala sesuatu yang mereka miliki menghilang satu persatu, setelah Dian keluar dari rumah itu dan buruknya lagi, nyonya Wartika tidak ingin mengakui bahwa Dian lah yang membawa rejeki di keluarga itu, bukan soal anak tapi harta, karena semenjak Andara menikah dengan Dian perusahaan mereka pun mulai di kenal di kalangan pengusaha. Tapi sayang waktu tidak dapat di putar kembali.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading...💔💔...
__ADS_1