
"Sakit kamu bilang. Ini belum seberapa sakitnya dengan apa yang di rasakan putri ku Dinda selama ini. Ibu sudah sering peringatkan kamu untuk jangan mengganggu Putri ku. Tapi sepertinya kamu memang tidak pernah takut dengan peringatan yang ibu berikan kepada mu. Dan apa tadi kamu bilang? Kamu tidak lelah. Baiklah ibu akan memaksa mu agar kau lelah mengganggu putri ku". Tegas Ibu Hani sambil semakin menekan bahu Via.
Semakin Hani menekan bahu Via semakin terisak pula tangisan Via. Kemudian ibu Hani memutar badan Via menghadapnya lalu mencengkeram kedua pipi Via dengan keras
"Hentikan tangisan mu itu!!!. Ibu sudah muak mendengar tangisan mu itu". Ucap ibu Hani dengan geram.
"Ini peringatan terakhir yang ibu berikan kepada mu. Sekali lagi ibu mendengar keluhanan Dinda tentang diri mu. Ibu pastikan hidup mu akan semakin menderita. Camkan kata ibu". Ancam ibu Hani sambil melepas cengkeramannya dengan kasar.
Saat ibu Hani hendak meninggalkan Via. Via lalu bertanya kepada sang ibu tentang kesalahannya. Sebab Via merasa tidak pernah mengganggu Dinda.
"Tapi salah Via apa bu?. Selama ini Via merasa tidak pernah mengganggu Dinda" Tanya Via sambil menahan sakit di kedua pipinya.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan seperti itu emosi Ibu Hani kembali tersulut karena ia mengira bahwa Via sudah mengetahui kesalahannya sendiri tanpa ia jelaskan lagi.
"Dasar bod*h. Hei anak sial*n. Coba kau pikirkan kembali bagaimana sikap mu selama ini kepada Dinda jika berada di sekolah". Kata ibu Hani sambil menarik rambut Via.
"Bukankah kau ini murid yang cerdas. Gunakan kecerdasan mu itu untuk memikirkan apa yang sudah kau lakukan di sekolah terhadap Dinda. Jangan hanya kau gunakan untuk mempermalukan Dinda". Ucap ibu Hani lagi.
"Ma...mak..sud ibu apa. Via ti...ti..dak pernah mempermalukan Dinda di sekolah" Kata Via mencoba membela diri.
"Tidak pernah katamu. Lantas selama ini siapa yang suka cari perhatian di sekolah? Siapa yang suka bikin heboh di sekolah? Siapa yang suka mengaku sebagai siswa tercantik di sekolah? Siapa kalau bukan diri mu anak tidak berguna. Apa kau tidak sadar dengan kelakuan mu itu. Itu membuat Dinda malu untuk bergaul dengan teman-temannya. Terlebih Dinda merupakan siswa baru. Dinda malu punya kakak seperti diri mu. Walaupun sebenarnya Dinda tidak perlu malu sebab kau bukan kakaknya lagi. Tetapi Dinda terlalu baik karena masih mengganggap mu sebagai kakaknya. Apa ini balasan mu Kepada Dinda. Kurang baik apa lagi Dinda kepada mu di saat ia masih mengganggap mu sebagai kakaknya.
Via yang merasa tidak melakukan hal tersebut masih mencoba untuk membela diri di tengah kesakitan yang di rasakannya.
__ADS_1
"Tapi Via gak pernah ngelakuin itu bu. Via gak pernah mencoba untuk mempermal........" Belum sempat Via menyelesaikan kalimatnya ibu Hani sudah memotongnya dan kembali mencengkeram kedua pipi Via dengan keras.
"Cukup!!! Ibu tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mulut kotor mu itu. Ini peringatan terakhir yang ibu berikan kepada mu. Sekali lagi ibu mendengar keluhan Dinda tentang dirimu. Jangan harap ibu akan melepasmu. Dan satu hal lagi. Ingat ini baik-baik. Jangan pernah nampakkan wajah mu di hadapan Dinda jika berada di sekolah dan di hadapan semua teman-teman sekolah Dinda. Menjauh kau dari mereka. Ingat Kata ibu" Ancam ibu Hani lalu meninggalkan Via di tengah kesakitannya.
Setelah sang ibu meninggalkan Via. Tubuh Via tiba-tiba terasa lemas. Via menekuk kedua lututnya lalu menenggelamkan kepalanya dan kemudian menangis sejadi-jadinya. Via hanya bisa menangis mendapat perlakuan seperti itu dari ibunya. Via benar-benar merasa sangat sedih akan perlakuan ibunya. Via menangis dalam diam. Hatinya terasa teriris.
Di saat anak-anak seumurannya pulang sekolah beristirahat dan mendapat perhatian dari ibunya. Via Justru harus bekerja demi hidupnya dan mendapat hinaan dari sang ibu. Tadinya ketika Via tahu bahwa sang ibu sedang menunggunya pulang kerja. Via berharap akan mendapat perhatian dan belaan hangat dari sang ibu. Tetapi semuanya berubah menjadi air mata. Di saat anak-anak yang lain pada jam selarut malam ini sudah tertidur ia masih terjaga meratapi nasibnya.
Suasana malam itu terasa sangat menyedihkan ketika hujan lebat turun menetes ke bumi.Malam itu Via merasa menjadi makhluk paling menyedihkan. Semalaman Via hanya menangis. Air matanya terasa tidak mau berhenti untuk mengalir. Semakin lebat hujan menetes ke bumi semakin deras pula air mata via menetes.
Di dalam rumah Via tengah menangis dengan air mata yang turun dengan deras di sertai suara tangisan yang terdengar pilu nan menyedihkan. Begitu pun dengan suasana di luar rumah hujan turun dengan begitu lebat di sertai dengan kilat dan suara guntur yang saling sahut-menyahut. Seakan mereka juga merasakan apa yang tengah di rasakan oleh Via. Via bagaikan hidup sebatang kara. Via memiliki keluarga namun keberadaannya tidak pernah di anggap oleb mereka.
__ADS_1
Hingga Via tidak sadari terlelap di atas sofa dengan masih memakai pakaian kerjanya.
Salam Manis❤