Beri Aku Kebahagiaan

Beri Aku Kebahagiaan
Senyuman berganti tangisan


__ADS_3

Beberapa bulan setelah acara ulang tahun tersebut kehidupan Via kini telah berubah. Di mana dulunya hidup Via di penuhi dengan senyuman namun kini berganti di penuhi dengan tangisan.


Di usianya yang masih sangat mudah Via harus di paksa dewasa sebelum waktunya. Setiap harinya Via mendapat siksaan baik siksaan batin maupun siksaan fisik.


Via hanya mampu menangis meratapi hidupnya. Di mana seharusnya anak seusia dia memperoleh kasih sayang dari orang tuanya namun Via hanya memperoleh siksaan dari orang tuanya.


Via rindu akan kasih sayang orang tuanya dahulu. Via rindu di panggil dengan sebutan sayang. Via rindu di belai oleh ibunya. Via rindu senyum hangat ayah dan ibunya. Via sangat merindukan kehidupannya yang dahulu.


Bagi Via apa yang ia rasakan sekarang merupakan ujian dari sang pencipta. Via tidak bisa menolaknya Via hanya bisa pasrah akan hidupnya yang sekarang. Via berharap semoga semuanya akan segera berakhir.


"Viaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!". Panggil ibu Hani.


Via yang tidak mendengar panggilan sang ibu di karenakan ia masih tidak sadarkan diri usai mendapatkan siksaan fisik yang di berikan oleh sang ibu. Hingga sang ibu menyiram Via dengan seember air barulah Via sadar.


Setelah sadar lagi-lagi Via mendapat siksaan yang dilakukan sang ibu dan Via hanya bisa menangis.


"Dasar anak tidak berguna. Ibu sudah bilang jangan tidur sebelum semua pekerjaan rumah selesai dan sebelum semua orang tertidur. Dasar benar-benar anak tidak berguna!!!". Caci sang ibu sambil menarik rambut Via.


Via yang merasakan kesakitan hanya bisa menangis tanpa menjawab. Sebab jika ia menjawab Via akan mendapatkan siksaan yang lebih sakit dari ini.


"Sekarang bangun!!! Bersihkan kamar Dinda dan cuci semua pakaian kotor. Awas aja kalau ibu liat masih ada yang kotor. Cepat berdiri!!!". Ucap Ibu Hani sembari menarik paksa rambut Via agar Via segera berdiri.

__ADS_1


"i-iyaaa bu" ucap Via sambil menangis.


Via hanya mampu menjawab dengan kata iya. sebab jika Via menjawab dengan jawaban yang panjang itu tidak akan mengubah perilaku sang ibu kepadanya.


Via segera menuju ke kamar sang adik Dinda. Sesampainya di kamar tersebut lagi dan lagi Via menangis. Sebab kamar yang di tempati Dinda sekarang adalah kamar Via dahulu. Via sangat rindu akan kamarnya ini. Via rindu berbaring di kamarnya. Via rindu belajar di kamar ini. Via merindukan segalanya tentang kamar ini. Namun, Via tidak bisa melakukan apapun selain menangis meratapi kesedihannya.


Saat tengah membersihkan kamar Dinda. Via tidak sengaja menjatuhkan benda kesayangan milik sang adik dan menginjaknya hingga rusak. Tepat saat benda tersebut terjatuh bersamaan itu pula Dinda datang memasuki kamarnya dan mendapati benda kesayangannya rusak.


Akibat kejadian tersebut lagi dan lagi Via mendapatkan perlakuan yang menyakitkan dari sang adik.


"Kak Viaaaaaa!!!. Apa yang kakak lakukan dengan jam tangan aku???" Ucap Dinda dengan emosi.


"Maafin kakak Din. Kakak gak sengaja jatuhan jam tangan kamu. Itu tadi kakak mau menga..." Belum sempat Via menjelaskan kronologis kejadian. Ibu Hani datang karena mendengar keributan.


"Ibu, Kak Via. Huhuhuhuhu" Ucap Dinda sambil berpura-pura menangis.


"Apa yang kau lakukan dengan putriku. Anak sial*n?". Tanya ibu Via sembari menatap tajam Via.


Via yang mendengar ucapan sang ibu seketika tubuhnya terasa membeku. Via merasa batinya begitu sakit mendengar ucapan anak Sial*n yang di lontarkan sang ibu kepadanya di tambah sang ibu hanya menganggap Dinda hanya putri semata wayangnya. Lalu aku ini kau anggap apa mu Ibu? hanya kalimat itu yang terlintas di pikiran Via.


Merasa tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya membuat emosi sang ibu semakin tersulut. Sebelum ibu hani mengambil tindakan Dinda sudah berbicara sehingga ibu hani membatalkan niatnya.

__ADS_1


"Ini bu, kak Via rusakin jam tangan kesayangan aku bu. huhuhuhu" Ucap Dinda


Ibu Hani yang mendengar pengakuan dan tangisan sang anak Dinda langsung memeluk sang anak.


"Salah aku apa bu sama kak Via hingga dia rusakin jam tangan aku. Inikan jam tangan mahal pemberian ibu. Apa segitu irinya kak Via sama aku hingga dia ngerusakin jam tangan aku." Adu Dinda kepada sang ibu.


Ibu Hani yang mendengar tangisan sang anak mencoba menenangkan sang putri.


"Kamu gah salah apa-apa nak. Emang dasar si anak pembawa sial ini yang tidak berguna". Jawab ibu Via sambil menatap sang anak dengan tatapan mematikan.


"Ibu janji akan belikan apapun yang Dinda mau. Sekarang udah yah sayang nangisnya. Ibu gak bisa liat nangis.Dinda mau apa Kita beli sekarang juga?" Bujuk sang ibu dengan penuh kasih sayang.


"Beneran Ibu akan mengabulkan apapun yang Dinda mau?" tanya Dinda memastikan.


"Iya sayang Ibu janji" balas ibu Hani.


"Yeyy Dinda sayang ibu". Ucap Dinda lalu memeluk sang ibu sambil menjulurkan Lidahnya ke arah arah Via.


Via hanya dapat menangis dalam diam melihat perlakuan ibunya kepada Dinda. Via sangat merindukan pelukan sang ibu.


"Yaudah sekarang kamu sana main. Gak usah nangis lagi. Nanti cantiknya hilang loh" Ucap ibu Hani sambil mengusap air mata sang putri.

__ADS_1


"iya bu. Aku mau main kerumah Nadia soalnya aku udah janjian tadi. By ibu. Ummahh" Ucap Dinda sambil mencium sang ibu.


Via yang melihat Dinda mencium sang ibu kembali merasakn sakit yang sangat mendalam. Via rindu mencium sang ibu dan mendapat ciuman dari sang ibu.


__ADS_2