
hari sudah H-1 acara puncak ulangtahun TL Group, Biandra dan Ayu juga sudah sampai Semarang.
Hari itu Tama dan Laudia juga baru saja sampai Semarang setelah bepergian dari Singapore untuk berobat. Sesampainya dibandara Tama dan Laudia dijemput oleh supir namun naas musibah menimpa mereka, ketika perjalanan pulang mobil yang ditumpangi Laudia dan Tama mengalami kecelakaan.
"Ya hallo" ucap Lian yang menerima telfon mendapat kabar kedua orangtuanya mengalami kecelakaan, Lian pun langsung bergegas menuju rumah sakit, sesampainya dirumah sakit Dokter yang menangani kedua orangtua Lian keluar
"Dokter dokter bagaimana keadaan orangtua saya" ucap Lian yang sangat panik
"kedua orangtua anda mengalami koma, dan sekarang keadaannya sedang kritis" jawab dokter dan Lian langsung terduduk dilantai dan menangis
Azka, Biandra dan Ayu sedang makan siang bersama, tiba tiba telfon Azka berbunyi ada yang mengabarkan kalau orangtua angkatnya atau orangtua kandung Lian mengalami kecelakaan dan kritis.
"saya harus pergi, orangtua pak bos mengalami kecelakaan" ucap Azka yang sangat panik, .
"kami ikut bang" ucap Biandra dan langsung mengikuti arah Azka
sesampainya dirumah sakit mereka bertiga melihat Lian yang sedang menangis dan terduduk dilantai
"Bos, duduk diatas" ucap Azka sambil mengangkat tubuh Lian untuk didudukan dikursi
"bagaimana keadaan mama papa" tanya Azka yang juga merasakan kesedihan yang sama dengan Lian
"kritis, mereka koma" jawab Lian dan kembali menangis, Biandra dan Ayu tidak menyangka seorang Azzam Aulian Putra laki laki yang kaku, dingin seperti kutub utara bisa menangis juga melihat orangtuanya terbaring kritis. Biandra jadi ingat perkataan Azka, meskipun Lian kaku, dingin, gengsian degan perempuan tapi dia sosok penyayang, terutama dengan keluarganya. Azka yang mendengar jawaban Lian ikut sakit, ikut merasakan sedih, ingin rasanya dia ikut menangis bersama Lian tapi masih bisa dia tahan sambil menepuk nepuk pundak Lian, menguatkan Lian.
"udah solat dzuhur" tanya Azka pada Lian, Lian pun mengangguk, dan Azka bertanya pada Biandra juga Ayu.
"saya lagi gak sholat bang, Ayu belum sholat" jawab Biandra, Ayu mengangguk
"yasudah elo temanin Lian disini ya Bi, gue sama Ayu sholat dulu dimushola " ucap Azka dan langsung bangkit dari tempat duduknya yang diikuti Ayu.
Biandra yang awalnya berdiri kini mencoba mendekati Lian, duduk disamping Lian
"pak, yang sabar ya, kita jangan berhenti berdo'a untuk orangtua bapak" ucap Biandra dan membuat Lian menoleh kearah Biandra, Ingin sekali rasanya Lian memeluk Biandra membagi tumpukan masalah yang dialaminya sekarang, namun dia sadar diantara mereka ada penghalang (bukan mahrom). Akhirnya dengan perasaan sedih juga senang karena sosok yang dirindukannya selama ini ada disampingnya, menemani dan menguatkan dirinya disaat dirinya rapuh. Lian pun menganggukan kepala dan mengusap air matanya
"terimakasih ya Bi" ucap Lian lirih dan dibalas anggukan kepala oleh Biandra, Lian pun langsung merogoh setan gepengnya yang berada disaku celana dan menghubungi seseorang
__ADS_1
"cari tau penyebab kecelakaan yang menimpa kedua orangtua saya" ucap Lian lalu segera mematikan telfonnya dan mengusap usap dahinya.
"bapak sudah makan" tanya Biandra dengan terus memandangi wajah Lian, Lian hanya menggelengkan kepala
"makan dulu yuk dikantin rumah sakit, saya temani" Lian menggelengkan kepalanya lagi
"bapak harus jaga kesehatan bapak, bapak harus makan, jangan sampai bapak ikut sakit, bapak pernah cerita ke saya kalau bapak punya ponakan yang masih kecil kan, dia butuh bapak jangan sampai dia tau kalau orang disekelilingnya sedang sakit" ucap Biandra menyadarkan Lian tentang keberadaan Leo ditengah tengah keluarganya. Sebenernya sampai detik ini Biandra belum mengetahui kalau Leo anak kecil yang memanggilnya bunda adalah keponakan Lian.
Lian pun langsung menganggukan kepala dan berdiri, Biandra merasa senang omongannya didengar Lian, dengan senyum hasnya dia segera ikut bangkit dari tempat duduk dan berjalan disamping Lian menuju kantin rumah sakit.
"pak mau makan apah" tanya Biandra sesampainya di kantin "terserah" jawab Aulian, dan Biandra segera memesan spageti, dia pernah dengar Azka bercerita kalau Lian sangat suka spagethi.
"nih pak dimakan ya, bapak suka spageti kan" Lian pun heran dari mana Biandra tau kalau dirinya suka spagethi.
Lian mengangguk dan mengucap "makasih ya" sesekali Biandra mencoba mengajak bercanda Lian, dan berhasil Lian terlihat tidak terlalu sedih lagi sekarang.
"ya halo, brengsek, tangkap mereka jangan sampai lolos" dan Lian langsung pergi dari hadapan Biandra. Biandra yang bingung dengan sikap Lian tanpa mikir panjang langsung berlari mengikuti Lian dan duduk dikursi mobil sampingnya.
"loh bi, ngapain loe disini, loe gak usah ikut ini bahaya, loe disini aja" ucap Lian yang baru menyadari Biandra sudah duduk cantik disampingnya
"saya ikut bapak, saya akan temani bapak kemanapun bapak pergi" jawab Biandra dan memakai selt beltnya.
"Bi, gak usah ngenyel ya, ini bahaya, turun sekarang" ucap Lian dengan tatapan tajam, tapi lagi lagi Biandra hanya menggelengkan kepala dan tatapannya lurus kedepan.
"saya bisa jaga diri saya sendiri pak. saya jago silat" ucap Biandra dengan pedenya dan Lian males debat karena akan membuang buang waktu dan langsung menjalankan mobilnya, tapi sebenarnya dia senang, karena ada Biandra disampingnya.
"Bi, telfon Azka suruh jaga orangtua gue dirumah sakit" ucap Lian Biandra mengangguk dan langsung melaksanakan perintah
"pak tadi yang nelfon siapa" tanya Biandra penasaran" "anak buah gue, mereka berhasil menemukan dalang kecelakaan orangtua gue" jawab Lian datar dan fokus nyetir
"Subhanallah, secepat itu pak mereka bisa menemukan pelakunya, belum ada satu jam lo tadi bapak merintah mereka " jawab Biandra yang heran. hal seperti itu sangatlah mudah bagi Lian karena anak buahnya banyak dari golongan mafia.
setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai disebuah gedung tua di pinggiran kota, Lian meminta Biandra untuk tetap didalam mobil namun Biandra menolak dan kekeh ikut Aulian masuk.
dengan berjalan tergesa gesa Lian juga Biandra sampai ke ruangan yang berisi anak buahnya dan dua orang yang sedang diikat disebuah tiang
__ADS_1
"bos" ucap salah satu anak buah Lian, Lian mengangguk, Biandra sedikit merasa gugup dan takut dengan suasana disana
"apa tujuan kalian menyelakai orangtua saya" ucap Lian yang berdiri di depan dua orang penjahat itu
"kami ingin orangtuamu mampus hahahahh" jawaban sang penjahat membuat emosi Lian naik namun masih bisa dia tahan karena dia tidak ingin mengotori tangannya dengan menghajar orang tak berperikemanusiaan ini
"siapa yang nyuruh kalian" tanya Lian dengan ekpresi emosi
"kami tidak akan kasih tau, karena sama saja, kalau kami kasih tau kami bakal dibunuh oleh bos kita, dan kalau kami tidak kasih tau anak buah elo yang akan bunuh kita, jadi mending kita mati ditangan anak buah lo dari pada ditangan bos kita hahahah" jawab sang penjahat, dan Lian yang mendengar itu sudah tidak bisa lagi menahan emosi
"bukh bukh" pukulan dilayangkan kewajah sang penajahat
"pak" triak Biandra sambil menutupi matanya, Lian yang mendengar suara teriakan Biandra langsung berdiri kearah Biandra dan memegang lengan Biandra untuk dibawanya keluar dari tempat itu.
"beresin mereka " ucap Lian "siap bos" jawab anak buahnya
"Pak, Bapak tidak apa apa kan" ucap Biandra yang baru saja masuk kedalam mobil Aulian
"seharusnya gue yang nanya itu ke elo Bi" batin Aulian, dan Aulian hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Biandra lalu melajukan mobilnya
"mereka kenapa sampai mau menyelakai orangtua bapak" tanya Biandra dengan penuh harap Lian mau menjawab, dan akhirnya dengan wajah datar sedikit enosi Lian menjawab pertanyaan Biandra
"gue tidak tau motif utamanya apa, tapi biasanya hal seperti ini terjadi karena saingan bisnis" jawab singkat Lian
"bapak tau pelakunya" Lian menggelengkan kepala
"kalau motifnya tentang bisnis, seharusnya bapak dong yang diincar, karena bapak yang berbisnis dan orangtua bapak kan sudah tidak lagi berkecimpung di dunia bisnis, saya rasa motifnya tidak hanya tentang bisnis" jawab Biandra dan Lian nampak berfikir mencerna omongan Biandra
"pak, dalam dunia bisnis biasanya musuh ada disekitar kita sendiri, bisa juga orang terdekat kita sendiri" ucap Biandra "maksudnya" tanya Lian
"ada gak rekan bisnis, keluarga atau teman bapak yang mencurigakan dalam membahas bisnis bersama bapak" tutur Biandra membuat Lian nampak berfikir
"pak saya curiga dengan paman bapak, pk Doni" Lian pun langsung memasang wajah tatapan tajam karena yang diketahui Lian, Doni adik sepupu mamanya selalu mendukung bisnis keluarga Tama dan sangat baik dengan keluarganya.
"jadi sebulanan yang lalu ketika saya mau keluar dari ruang pemotretan, saya mendengar pk Doni sedang berbicara dengan seseorang dan mengatakan kerjakan sebualan lagi ketika mereka pulang dari singapur, nah kenapa saya mencurigai pak Doni, pertama jarak yang diatakan pak Doni dengan hari ini benar sekitaran sebulanan, yang kedua singapur, bukankah kedua orangtua bapak baru pulang dari singapur," tutur Biandra membuat Lian berfikir dan mulai ikut mencurigai Doni
__ADS_1
"ini hanya analisis saya ya pak, gatau benar atau tidaknya dan saya tidak mau soudzon, tapi tidak ada salahnya kalau kita menyelidiki hal ini" tutur Biandra lagi yang membuat Lian teringat sikap aneh yang sering ditunjukan Doni dan Lian nampak semakin salut dengan Analisis Biandra yang menurutnya masuk akal dan perlu dilakukan penelitian lanjutan.