BIANDRA

BIANDRA
60. Sampai Maut Memisahkan


__ADS_3

"Astaghfirullah, Bia, sayang bangun sayang kamu kenapa pingsan Bi" teriak Lian hawatir dalam telfhon.


"ya Allah Bi, bangun jangan bikin hawatir" Lian makin panik Biandra tak kunjung sadarkan diri. setelah sekian lama Lian berteriak memanggil Biandra lewat telfhon tak ada respon, Lian menghubungi Nera.


"apa, Biandra pingsan pak," jawab Nera ditelfhon dan langsung lari kekamar Biandra.


Melihat Biandra yang tak sadarkan diri tergeletak dilantai dan wajahnya yang terlihat pucat, Nera langsung membawa Biandra kerumah sakit. sedangkan Lian merasa hawatir dengan kondisi Biandra. ingin rasanya detik itu juga dirinya terbang ke Jepang untuk melihat Biandra, namun tidak mungkin untuk meninggalkan Leo.


"uncle bunda kenapa uncle huhuhuhu" ucap Leo yang masih menangis karena ketakutan melihat Biandra yang tiba tiba pingsan.


"kita doain saja, semoga bunda tidak kenapa kenapa ya" ucap Lian mengusap kepala Leo, Leo mengangguk.


"uncle ayok kita liyat bunda kesana" ajak Leo yang menganggap tempat Biandra dekat.


"bunda jauh Le, bunda di Jepang" jawab Lian.


"kasian bunda uncle" imbuh Leo yang masih menangis. nampak Lian diam berfikir haruskah dirinya terbang ke Jepang berdua bersama Leo atau tetap berdiam diri dirumah menunggu kabar Bia.


"Bos, kamu disini rupanya. aku cari caaaa" Ucaan Azka terputus ketika melihat Leo menangis dan wajah Lian nampak gelisah.


"kalian kenapa" tanya Lian yang sudah duduk dikursi sebrang Lian.


"tadi kita lagi vidio callan sama Biandra. tiba tiba dia jatuh pingsan" tutur Lian yang membuat kaget Azka.


pasalnya yang dia ketahui Biandra gadis periang yang jauh dari sakit tiba tiba pingsan itu sungguh kabar mengagetkan bagi Azka.


"memang Bia sakit apa bos" tanya Azka janya dibalasa gelengan kepala oleh Lian.


"gue hawatir sama Bia, tapi gue bingung kalau gue kesana Leo gimana, mama papa lagi gak dirumah. mau gue tinggal gue gak tega, mau gue bawa repot banget bawa ni bocah" tutur Lian.


"biar Leo sama gue aja dirumah" ucap Azka.


"gak mau" Leo buru buru menjawab dan memeluk Lian seolah Lian gk boleh pergi.


"aku ikut uncle" imbuh Leo, membuat Azka tidak tega meninggalkan Leo.


kring kring kring

__ADS_1


suara telfhon masuk di Handphone Lian.


"ya Bry gimana keadaan Biandra" tanya Lian pada Briyan yang ikut mengantar Bia kerumah sakit bersama Nera.


"Biandra belum sadarkan diri, lu tenang ya, gua bersama Nera jagain Biandra disini" ucap Briyan yang paham bagaimana hawatirnya Lian pada Biandra.


"oke, thanks ya elu dan Nera sudah mau gue repotin untuk jagain Bia" ucap Lian.


'"its ok. no problem bro, Biandra teman gue juga" jawab Briyan.


"kabarin gue terus perkembangan Bia, Bry" ucap lian.


"iya Lian" jawab Bryan lalu pamit menutup telfhonnya.


dua hari telah berlalu, biandra tak kunjung sadar, Lian memutuskan untuk terbang ke Jepang menemui Biandra saat kedua orangtua baru saja tiba dirumah. belum sempat mereka mengobrol membahas apa yang terjadi di Malang Lian langsung pamit untuk berangkat karena sangat menghawatirkan Biandra.


sesampainya di Jepang Lian langsung masuk keruangan Biandra dan menangis melihat kekasihnya tak sadarkan diri sudah dua hari dan terbaring lemah di bankar.


"Lian, kamu yang sabar ya, mmm bagaimana kalau sekarang kita kabari orangtua nya, aku takut kesalahan karena kita menyembunyikan keadaan Bia dari orangtuanya" ucap Briyan pelan yang tau juga dengan hubungan Lian dan Biandra yang tidak mendapat restu dari kedua orangtua Biandra.


"sudah aku kabari, dan mereka akan berangkat sore ini juga pak" ucap Nera dibalas anggukan oleh Lian,


"Thanks" ucap Lian dibalas anggukan oleh Nera.


"kalian jagain Bia ya. gue mau nemuin dokter dulu" ucap Lian. Nera dan Briyan mengangguk.


"Bi, lu bangun dong Bi, gak capek apa tidur muluk. gue aja yang ngeliyat capek Bi" ucap Nera yang duduk disebelah Biandra.


"Bi. lu kalau sakit gini gak cocok tau punya nama Biandra. Biandra itu orangnya kuat juga periang. lah ini tidur tiduran aja, ayok dong bangun" Nera mulai tak kuasa menahan air matanya.


Bryan yang melihat Nera menangis reflek mengusap punggung Nera.


"sabar, kita doain Bia cepat bangun" dibalas angggukan oleh Nera.


"lu makan dulu ya, lu dari semalam belum makan Ner, ntar lu sakit" bujuk Bryan.


"gue gak lapar Bry" jawab Nera.

__ADS_1


"gue tau. dalam kondisi seperti ini nafsu makan lu pasti hilang. tapi lu juga harus peehatikan kesehatan elu. jangan sampai karna elu gak makan lu juga sakit Ner, makan ya" bujuk Briyan akhirnya Nera mengangguk.


"sini makan disini gue siapin" ucap Briyan mengajak Nera makan disofa.


"thanks Bry" dijawab anggukan oleh Briyan dan reflek tangan kirinya mengusap kepala Nera.


"lu gak makan" tanya Nera.


"gue udah makan tadi mau kesini" jawab Bryan masih menatap wajah ayu Nera.


"makan lagi gih. gue suapin" ucap Nera yang sudah menyodorkan makanan ke mulut Bryan, mau gak mau Bryan langsung membuka mulutnya dan memakan suapan Nera.


ceklek


suara pintu dibuka, nampak Lian datang dengan wajah yang lesu dan langsung duduk disamping Bia, mengusap kepala Bia, menatapnya dengan wajah sendu, tak lama air mata Lian lolos keluar.


Briyan yang melihat itu langsung mendekati Lian mengusap punggungnya.


"sabar, apa kata dokter yan" ucap Briyan.


Lian hanga diam menangis sesenggukan tidak menjawab pertanyaan Briyan.


"Lian lu udah makan belum. makan dulu gih. tadi gua beli makanan banyak untuk kita" Lian tak menjawab dia masih terdiam dalam kesedihannnya, hanya menggelengkan kepala sebagai tanda dia tidak mau makan untuk saat ini.


Briyan tidak bisa memaksa, dia paham apa yang dirasakan Lian, Briyan kembali ketempat duduknya disofa beramaa Nera yang masih makan.


"gaka mau makan" bisik Nera. Briyan menggelengkan kepalanya.


Lian teringat bagaimana cerianya Biandra selama ini yang selalu tersenyum tidak pernah menunjukan kesedihan maupun kesakitan. perlahan Lian teringat sejak awal kenal dengan Biandra, Lian sering melihat Biandra sesekali meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. namun itu hanya sebentar sebentar, terkadang itu hanya sebuah prank Biandra untuk mengerjai Lian yang suka over menghawatirkan Biandra.


"kenapa, kenapa kamu tidak pernah cerita ke aku Bi, kenapa kamu tidak pernah berbagi kesedihanmu padaku Sayang" batin Lian sambil menggenggam tangan Biandra.


"kamu cepet bangun Bi, apapun yang terjadi aku hanya mau bersama kamu, hidup bersama kamu sampai maut memisahkan Bi" batin Lian berucap.


kring kring kring


telfhon Lian berbunyi, dia segera mengangkatnya.

__ADS_1


__ADS_2