
kring kring kring
telfhon Lian berbunyi, dia segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum ayah" ucap Lian saat menerima telfhon dari Mirza. Lian mendadak kaget karena ini kali pertamanya Mirza menelponnya setelah adanya penolakan Mirza atas hubungan Lian dan Biandra.
"belum sadar yah, ayah kabarin Lian kalau sudah sampai bandara biar orang Lian menjemput ayah sama bunda" ucap Lian saat Mirza bertanya kabar Biranda dan mengabari dirinya akan terbang ke Jepang.
Lian berfikir sejenak sepertinya sudah ada harapan akan restu untuk hubungan Lian dan Biandra dari Mirza dan Miranda.
sore berganti malam Biandra masih tidur pulas dibankar. Lian tidak pernah meninggalkan Biandra kecuali saat sholat. Lian terus mendampingi Biandra. berharap gadis pujaan hatinya segera bangun dan tersenyum padanya.
jam dinding terus berdenting, malam kian larut pagipun tak lama lagi akan datang, diwaktu sepertiga malam Lian bermunajat melaksanakan qiyamullail, berdo'a meminta kesembuhan untuk Biandra. melihat gadis yang dicintainya terbaring lemah tak sadar kan diri sungguh membuat hati Lian merasa ngilu.
"Allahumma rabban nasi, adzhibil baβsa. Isyfi. Antas syafi. La syafiya illa anta syifaβan la yughadiru saqaman".
Artinya,: "Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri,"
Lian menitikan air matanya merendahkan dirinya saat berdo'a memohon dengan penuh harapan untuk kesembuhan Biandra.
seusai sholat, Lian mendapat panggilan telfhon dari Mirza yang mengabari dirinya sudah sampai di lobi rumah sakit, Lian langsung menjemput Mirza ke lobi dengan masih menggunakan pakaian sholatnya.
"Assalamualaikum ayah bunda, mama, papa, Leo, kalian ikut juga" tanya Lian yang merasa kaget juga bahagia melihat kedua orangtuanya dan kedua orangtua Biandra datang bersama. sungguh pemandangan yang sangat dinantikan Lian dan Biandra selama ini.
"iya sayang, kami datang bersama, ayok bawa kami ke kamar calon menantu mama" jawab Laudya langsung menggandeng lengan Lian.
"calon menantu, mama bilang Biandra calon menantu didepan ayah bunda, Alhamdulillah terimakasih ya Allah telah mengabulkam do'a kami" batin Lian yang merasa sangat bahagia.
"ayok ma, semuanya" ajak Lian lalu berjalan menuju ruang rawat Biandra.
"sayang cepatlah bangun, kamu pasti bahagia melihat kedua orangtua kita sudah damai dan kini mereka datang bersama untuk menemui mu" batin Lian lagi, sepanjang perjalanan ke ruangan rawat Bia, Lian tak henti hentinya mengucap syukur dan berharap Biandra segera sadar.
ceklek
Lian membukakan pintu untuk para orangtua, Miranda langsung berlari menghampiri Biandra.
"Sayang, bangun sayang maafin Bunda sama ayah, kini kami merestuimj dengan Aulian sayang tapi kamu harus bangun" ucap Miranda dengan derai air mata.
__ADS_1
Leo yang tidur dalam gendongan Tama merasa terganggu dan langsung bangun.
"bunda, bunda masih tidur opa" tanya Leo yang mengira Biandra tidur.
"iya sayang, Bunda masih tidur" jawab Tama sambil mengusap kepala Leo.
"Leo mau bangunin bunda opa, boleh? Leo kangen bunda" Tama mengangguk dan menurunkan Leo dari gendongannya.
"oma Miranda, Leo boleh bangunin bunda" pinta Leo.
"boleh sayang, tapi pelan pelan saja ya bangunin bundanya" ucap Miranda dan Leo mengangguk.
"bunda, Leo datang bunda, Leo kangen bunda. bunda ayo bangun kita main bareng bunda" ucap Leo sambil memegang jemari Biandra.
"sayang, bangunlah kita semua disini merindukanmu" ucap Lian dalam hati dengan menatap Biandra tanpa mengedipkan mata.
ππππππ
Biandra berjalan menyusuri ruang yang nampak bercahaya mencari sumber suara yang memanggil namanya.
"Bunda, bunda, Leo kangen bunda" ucap Leo sambil melambaikan tangannya. Biandra yang mendengar suara Leo terus mendekati suara itu.
"bunda" suara Leo
"sayang" suara Lian
"Bia anak gadis kesayangan ayah bunda" Biandra melihat kedua orangtuanya berdiri disamping Lian dan kedua orangtua Lian, terlihat juga Leo, mereka tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.
"sayang, gadis bunda. kemarilah nak. menikahlah dengan Lian sayang, ayah bunda merestui kalian" Miranda berucap dengan senyum.
"sayang, calon menantu mama papa, kemarilab sayang" ucap Miranda dengan senyum manisnya.
Biandra mendekati mereka, semakin langkah l Biandra mendekat. mereka semakin hilang hingga tidak terlihat lagi dimata Biandra.
"ayah, bunda, kakak, mama, papa, Leo jangan tinggalin Bia sendiri, Bia juga sayang kalian, Bia ikut kalian, jangan tinggalin Bia, Bia datang, tunggu Bia" ucapa Bia dengan derai air mata karena sudah tidak ada lagi orang orang yang memanggilnya tadi.
Biandra meneteskan air matanya tak lama Jari telunjuk Biandra bergerak.
__ADS_1
"oma oma bunda nangis, liyat juga deh jari bunda, jarinya bergerak" teriak Leo, semua orang yang diruangan langsung menatap mata dan jari Biandra.
"Allahu akbar Allahu akbar" suara adzan berkumandang bersamaan dengan Biandra membuka matanya.
"Alhamdulillah" ucap seisi ruangan bersama dibarengi air mata haru bahagia.
"Biandra sayang ini bunda nak" ucap Miranda mengecup kening Biandra.
"Bu bunda" ucap Biandra lirih, Miranda mengangguk.
"ayah" ucapnya lagi.
"ayah disini nak," ucap Mirza yang ada disebelah kiri Biandra. Biandra menoleh dan dilihatnya Tama berdiri disamping Mirza.
Biandra meneteskan air matanya melihat Tama dan Mirza berdiri berdampingan yang terlihat akur, sama persis dengan yang ada didalam mimpinya.
"sayang, Bi" suara Lian memanggil nama Biandra, Biandra menoleh kearah Lian.
"kakak" ucap Biandra berkaca kaca. Lian mengangguk. perasaan Biandra terasa bahagia melihat orang orang yang disekelilingnya saat ini. dia merasa ini mimpi, tidak tidak tapi mimpinya tadi yang bukan mimpi melainkan kenyataan.
"sayang, kamu harus cepat sembuh. orangtua kita sudah merestui kita" ucap Lian dengan senyumnya, Biandra menatap Mirza. Mirza mengangguk. air mata bahagia Biandra tumpah. diikuti air mata Mirza dan Miranda.
"kalau gitu kita sholat subuh dulu, sekalian kita ucap syukur atas sadarnya Biandra" ajak Tama.
semua orang mengangguk, dan keluar untuk menunaikan sholat shubuh.
tinggalah Laudya yang menemani Biandra karena Laudya sedang halangan.
"sayang, kamu cepat sehat ya. kamu mau nikah sama kakak kan" tanya Laudya dibalas anggukan oleh Biandra.
"memang boleh ma" tanya Biandra yang sudah biasa memanggil Laudya mama, Laudya menyuruh Biandra memanggilnya mama saat Laudya tau Biandra kekasih Lian.
"boleh sayang, tentu boleh" jawab Laudya senyum dan mengusap kepala Biandra.
"kenapa kalian bisa merestui hubungan kami ma" Biandra bertanya dan Laudya menceritakan semua itu berawal dari Lian mendatangi Kyai Tama dan Mirza dulu lalu mereka semua dipanggil oleh pak kyai nya untuk menemuinya. dan disana pak kyai mendudukan dua pasang suami istri ini untuk saling menceritakan duduk masalahnya. dan benar perselisihan yang terjadi selama ini hanyalah salah paham. Mirza dan Miranda tidak pernah mau mendengarkan penjelasan Tama dan Laudya hingga berujung kekecewaan dan kebencian di hati Mirza dan Miranda untuk Tama dan Laudya.
"kakak pernah cerita kalau kakak menemui pak kyai, tapi belum cerita kalau usahanya berhasil ma" Laudya hanya senyum dan mengangguk.
__ADS_1
selamat malam readers setiaku, jangan lupa tinggalkan jejal yahhh