
melihat kemarahan ayahnya, Biandra mencoba menenangkan dan menyadarkan agar tidak melampaui batas.
"yah" ucap Biandra yang mencoba menyadarkan Mirza.
"pergiiii" ucap Mirza dengan tegas pada Lian sambil menunjuk arah keluar, Mirza benar benar belum bisa menerima Lian dan memaafkan Tama juga Laudya karena kesalahan dimasa lalu.
dengan langkah tergonta gantai Lian berjalan meninggalkan Mirza.
"om izinkan saya disini sampai Ayu sadar om" ucap Azka memohon.
"tidak perlu sudah ada kami yang menunggu Ayu. lebih baik kamu juga pergi bersama bos kamu" ucap Mirza. Azka yang awalnya ingin membantah namun diurungkan karena Lian telah menggeret lengan Azka keluar.
"bos biarin gue disini nunggu Ayu sampai sadar" ucap Azka memohon pada Lian.
"lo jangan memperkeruh suasana Ka, kita pulang saja dulu ke hotel, gue akan suruh salah satu perawat disini untuk menjadi mata mata kita memantau keadaan Ayu" bisik Lian Azka pun akhirnya nurut.
"Ka, lo bantuin gue mendamaikan orangtua Biandra dengan Papa mama ya, gue merasa ada yang gak beres disini" Azka hanya menjawab anggukan ucapan Lian, Lian menepuk bahu Azka.
mereka berdua langsung menghampiri Tama dan Laudiya yang sudah terlebih dahulu sampai dimobil lalu meninggalkan rumah sakit dengan fikiran masing masing yang tidak karuan.
"Lian, sabar ya. jika kamu benar benar mencintai Biandra perjuangkanlah nak. papa yakin kalau jodoh tidak akan kemana, papa mama akan selalu mendukungmu,," ucap Tama sambil menepuk pundak Lian dari belakang, Lian Hanya menganggukan kepala.
"pa ma, kalau boleh tau memang masalah kalian dengan orangtua Bia dimasa lalu itu apa,"
tanya Lian dengan penuh harap.
__ADS_1
"dulu sebenarnya kami bersahabat nak karena ada salah paham membuat Mirza dan Miranda membenci papa sama mama" jawab Tama dengan mengingat kejadian beberapa puluh tahun silam.
"salah paham apa pa".
"dulu papa, Mirza dan ada satu orang lagi sahabat papa namanya Hendra, kami bertiga bersahabat dari masih dipesantren, masih SMP, ketika kami memasuki perkuliyahan kami memutuskan untuk kuliyah di jogja bersama sehingga disanalah kami bertemu dengan pujaan hati kami masing-masing, dan kami berenam bersahabat. suatu hari setelah papa dan mama menikah kami baru menyadari jika ada orang yang mencintai kami mereka adalah sahabat papa dan mama sendiri, yaitu Hendra dan Yasmin"
"awalnya didepan papa mama mereka terlihat biasa saja, mengikhlasakan papa mama menikah, hingga tiba dipernikahan Mirza papa dan mama mengetahui jika mereka belum mengikhlaskan kami. mereka berdua memutuskan untuk menikah tapi naas pernikahan mereka tidak bahagia karena dihati mereka ada orang lain. mama papa yang saat itu sudah memiliki almarhum kakak kamu, kami memilih mempertahankan rumah tangga kami hingga akhirnya mereka memilih bunuh diri menerjunkan diri mereka dari lantai delapan dikampus. saat itu papa ingin mencoba menolong namun tenaga papa habis akhirnya mereka berdua jatuh dan disitu Mirza dan Miranda yang baru saja datang mengira papalah yang mendorong mereka. dari situ Mirza dan Miranda marah mereka mengira papa dan mama yang sudah menyebabkan mereka meninggal."
seperginya Lian Biandra merasa ada sesuatu yang hilang darinya, hubunganya dengan Lian yang dulu sudah mendapat restu tiba tiba harus putus ditengah jalan, ingin rasanya Biandra protes namun Biandra tau protes juga percuma dan Biandra tidak ingin membantah orangtuanya, namun Biandra tidak akan tinggal diam, Biandra akan mencari cara agar orangtuanya dan orangtua Lian bisa berdamai dan mau memberi restu pada mereka kembali.
"yah bund ini minum dulu" Biandra menyodorkan botol air mineral pada Mirza dan Miranda dengan senyum diwajahnya yang selalu dia perlihatkan.
"maafkan ayah Bi, kali ini ayah tidak bisa menuruti keinginan kamu nak" ucap Mirza yang sebenarnya tidak tega memupuskan hati putri semata wayangnya yang selama ini selalu nurut dengannya.
"tidak apa ayah, Biandra menerima keputusan ayah tapi kalau boleh tau memang permasalah ayah dengan orangtua kk Lian dimasa lalu itu apa ya" ucap Biandra dengan hati - hati, Mirza menarik nafasnya dalam dalam dan membuangnya.
"dulu kami......."
ceklek
suara pintu ruang rawat Ayu terbuka dan keluarlah sang dokter diikuti para perawat. Mirza menghentikan ucapannya lalu Mirza Miranda, dan Biandra langsung menoleh ke arah dokter dan menghampirinya.
"bagaimana keadaan Ayu dan bayinya dok" tanya Mirza.
"Alhamdulillah bayi nya selamat, namun saudari Ayu masih koma, seperti yang saya bilang tadi butuh waktu sekitar tiga bulanan untuk saudari Ayu bisa sadar dari komanya" tutur Dokter. Mirza, Miranda dan Biandra merasa sedih mendengarnya. tak lama seorang perawat perempuan keluar membawa bayi Ayu yang akan dipindahkan keruangan bayi.
__ADS_1
"pak bu ini bayinya bu Ayu. akan saya pindahkan ke ruangan bayi dan mohon untuk bapak mengadzaninya" ucap sang perawat. Mirza mengangguk dan haru bahagia.
"anaknya perempuan apa laki laki sus" tanya Biandra.
"laki laki mbk".
"Masya Allah Tabarakallah bayinya tampan sekali bund" ucap Biandra pada Miranda, Miranda hanya mengangguk.
"bapak sikahkam mengadzani cucunya" ucap Sang dokter.
"mari pak ikut saya" ucap sang perawat Mirza mengangguk dan mengikuti sang perawat keruangan bayi diikuti Miranda dan juga Biandra.
"bund, kita gak ngabarin mamanya Ayu bund" ucap Biandra saat berjalan beriringan dengan Miranda menuju ruangan bayi Ayu.
"Astaghfirullah iya nak bunda lupa, coba bunda telfhon dulu ya" Miranda segera mengeluarkan setan gepengnya dan mendial nomor mama Ayu.
"memang mamanya Ayu kemana bund".
"katanya pulang kampung".
"Alex ikut bund".
"iya" jawab Miranda sambil terus melakuak panggilan yang belum tersambung juga.
"nomornya tidak aktif Bi"
__ADS_1
"kita coba hubungi nanti lagi saja bund" Miranda mengangguk dan mereka menatap kearah bayi tampan Ayu dengan penuh kasih sayang.
jangan lupa tinggalkan jejak ya guys🙏🙏😄