
Setelah melaksanakan sholat subuh, semua kembali keruang rawat Biandra. dan datang juga Briyan bersama Nera membawa sarapan. mereka semua sarapan bersama dalam satu ruangan VVIP. nampak sekali seperti keluarga utuh yang berbahagia.
"Bi, akhirnya do'a lu terkabul, seneng gue liyatnya" bisik Nera dan dibalas senyum oleh Biandra.
"Nera makan dulu kamu, jangan bisik bisik aja" ucap Miranda menyuruh Nera ikut sarapan.
"iya bunda, Nera otw, suapin ya bund" ucap Nera manja pada Miranda yang sudah menganggap Nera seperti anak sendiri.
"Nera, gue yang sakit aja kagak disuapin. kok elu yang sehat wal afiat malah minta disuapin si" ucap Bia yang sok kesal padahal aslinya bahagia melihat sahabatnya bisa dekat dan akrab dengan kedua orangtuanya, seperti Ayu.
"Bia, jangan teriak teriak masih sakit juga" ucap Lian mendekat membawa nampan berisi makanan Bia.
"kakak aja yang suapin ya" bujuk Lian sambil memperlihatkan nampan isi makanan.
"malu kak, kakak sarapan dulu aja sana" jawab Biandra malu malu tapi mau.
"sok sok an malu, padahal mah malu malu tapi mau itu" ucap Nera membuat gelak tawa seisi ruangan, jangan tanya kondisi wajah Biandra. tentunya sudah merah seperti kepiting rebus.
"udah gak usah malu. sama calon suami sendiri juga" ucap Lian menyodorkan sendok berisi makanan kemulut Biandra sambil senyum menggoda Biandra.
"kakak gak makan" tanya Biandra.
"nanti setelah kamu, habis ini kamu gantian nyuapin kakak" ucap Lian menggoda lalu mendapat satu pukulan di lengan dari Biandra.
"malu ah" jawab Biandra malu malu membuat Liian tertawa.
"Udah jangan malu malu Bi, malu gk bikin kenyang lho" ucap Laudya yang ikut menggoda Biandra.
"tuh denger kata mama" tambah Lian, akhirnya Biandra menerima suapan dari Lian sampai tandas habis.
"bunda bunda, bunda cepet sembuh ya, kalau sudah sembuh Leo mau disuapin bunda" ucap Leo yang mendekati Biandra dibalas anggukan oleh Biandra.
"iya sayang, nanti bunda suapin Leo" jawab Biandra dengan mengusap kepala Leo.
Tama dan Mirza yang duduk disudut sofa nampak serius berbincang hingga membuat para istri kepo.
"pa makan dulu" ucap Laudya pada Tama.
"yah makan dulu" ucap Miranda pada Mirza.
"iya sebentar" jawab Tama dan Mirza bersama.
"cieee mentang mentang udah akur, kompak bener dua sohib ini" goda Laudya sambil ketawa.
hingga akhirnya Tama dan Mirza gabung untuk sarapan.
__ADS_1
seusai sarapan Mirza memanggil Lian untuk duduk didekatnya.
"Lian, sini duduk sini dulu ayah mau bicara"
Lian mengangguk lalu mendekat dan duduk disamping kanan Mirza.
"iya yah ada apa" tanya Lian dengan santai.
"apa kamu sungguh sungguh mencintai putri ayah"
"sungguh iya yah" jawab Lian mantab terlihat tidak ada keraguan dari sorot matanya.
"Bia, apakah kamu juga begitu" tanya Mirza pada Bia yang masih ada diatas bankar.
"iya yah sungguh" jawab Biandra yang sama sama tidak terlihat keraguan sedikit pun dari matanya.
"baiklah kalau begitu nanti malam ba'da maghrib ayah nikahkah kalian"
"Apa" jawab seisi ruangan kaget.
"Ayah serius?" tanya Miranda yang dibalas anggukan Mirza.
"Pa, mama kan maunya nikahnya yang meriah gak di rumah sakit kaya gini pa" ucap Laudya pada Tama.
Lian dan Biandra yang mendapat kedipan mata Laudya hanya saling pandang dan menggaruk kepala. sebenarnya bagi Biandra tidak masalah nikah dirumah sakit yang penting SAH.
"oma kenpa kedip kedip gitu matanya, kelilipan ya, sini Leo tiupin" tanya Leo yang melihat Laudya terus terusan mengedipkan matanya.
"kenapa mata kamu ma" tanya Tama yang hawatir.
"oh gk papa pa, hanya kelilipan " jawab Laudya kikuk sambil mengucek matanya. merasa kegap sama cucu sendiri rasanya tidak lucu bagi Laudya.
"duh Leo, kenapa pakek merhatiin oma si" batin Laudya
"kelilipan?" ucap Tama bengong. Laudya mengangguk.
"Lian sama Bia mau kok akad dirumah sakit, nanti jika Bia sudah pulang ke Indonesia kita bikin resepsi. gimana"? ucap Lian menengahi.
para orangtua mengangguk.
"yasudah kalau begitu kita bagi tugas, Brian dan Nera tolong kalian carikan penghulu ya, kalian yang faham daerah sini" ucap Tama mendapat anggukan Brian dan Nera.
"siap om" jawab Briyan bersemangat.
"mama dan bunda siapkan pakaian anak anak" imbuh Tama dan mendapat anggukan antusias dari para istri.
__ADS_1
"siap" jawab Miranda dan Laudya bersamaan.
"Lian siapkan mental dan Mahar" Lian mengangguk.
"terus papa sama Mirza ngapain"? tanya Laudya. yang dianggukan oleh Miranda tanda membenarkan pertanyaan Laudya.
Tama dan Mirza saling menoleh dan berfikir.
"oh, kami akan menemui pihak rumah sakit untuk meminta izin" jawab Mirza dan dibalas anggukan oleh Tama.
"yasudah kalau begitu kita bubar laksanakan tugas masing-masing" ucap Tama dan dianggukan oleh semua orang.
"huh, " ucap Tama sambil membuang nafas.
"opa, Leo tugasnya ngapain" tanya Leo sambil menarik ujung kemeja Tama.
"Leo tugasnya, nemenin bunda Bia. oke" jawab Tama mengajungkan jempol.
"oke opa" balas Leo dengan acungan jempol.
_______
kini semua orang sedang sibuk mempersiapkan acara akad nikah Biandra dan Lian, sedangkan kedua calon pengantin malah asyik ngobrol bertiga dengan Leo.
"Bi, gak papa kan akadnya dirumah sakit" tanya Lian yang merasa takut Biandra kurang berkenan.
"gak papa kak. yang penting SAH, dan kita bosa hidup bersama" jawab Biandra.
Biandra yang berada disemester akhir kuliyahnya dan Lian yang mendapat kerjaan di Jepang selama beberapa bulan kedepan membuat Mirza harus segera menikahkan mereka. karena selain menghindari zina agar Biandra ada yang menjaga jika sewaktu waktu dia sakit. segera menikahkan putri semata wayangnya pada pria seperti Lian tak ada keraguan sedikit pun bagi Mirza yang sudah mengenal baik buruknya Lian. begitu juga bagi orangtua Lian yang sudah mengenal baik Biandra, bahkan sebelum mereka tau siapa orangtua biandra.
disebuah butik toko pakaian husus gaun pernikahan terdapat dua wanita paruh baya sedang membuat gaduh karena perbedaan selera gaun pernikahan.
"yang seeprti ini saja Mir terlihat mewah dan elegant" ucap Laudya
"tapi Bia suka pakaian yang simple Lau, dia gak suka yang model seperti itu, udah yang ini saja" jawab Miranda.
dua wanita paruh baya ini terus adu mulut hingga mengundang kepala toko untuk menghampiri.
"excuse me, nyonya ada yang perlu saya bantu" tanya wanita cantik dengan lesung pipit.
"mbk kami mau cari gaun pernikahan yang simple elegant dan mewah" ucap Laudya
"oke baik, silahkan ikut saya kemari nyonya" ucap kepala toko dengan ramah dan mengajak dua peremuan paruh baya itu ke sebuah ruangan VVIP.
maaf yah othor lama gak up, semoga readers gk lupa dengan alur ceritanya. Happy reading๐๐๐
__ADS_1