
selamat pagi readers kesayangan Author, sudah lama sekali ya Author tidak up, semoga readers kesayangan tidak lupa dengan alur cerita Biandra. Maafkan Author yang baru bisa Up setelah sekian lama. mohon untuk tidak meninggal Biandra ya readers sayang😘😘😘
selamat membaca Readers kesayangan Author😉😉😉
seusai mengadzani bayi Ayu, Mirza, Miranda dan Biandra sudah berada di kamar rawat Ayu. nampak ayu seorang diri tidur dibankar rumah sakit dengan wajah yang terlihat masih pucat dan lemas.
"sayang, Alhamdulillah anak kamu selamat, sehat bayinya laki laki" ucap Miranda sambil mengusap ujung kepala Ayu dengan penuh kasih sayang.
Ayu yang merasakan ada sentuhan dikepalanya langsung membuka mata dan tersenyum.
"bunda" ucap Ayu lirih.
"iya sayang bunda disini bersama ayah dan Bia juga" jawab Miranda.
"ayah," ucap Ayu menatap Mirza.
"iya nak, ayah disini" jawab Mirza mendekati Ayu.
"tolong mama yah, tolong bebasin mama dan Axcel dari penjaranya Omar yah" ucap Ayu dengan lemas dan penuh harap.
"apa maksud kamu Ay, bukannya mama dan adikmu sedang pulang kampung" ucap Mirza Ayu menggelengkan kepalanya.
"lalu dimana mama dan adikmu" lanjut Mirza yang sudah memasang wajah hawatir.
"mereka disekap digudang rumah yah" ucap Ayu dengan air mata yang sudah tidak tertahan.
"astaghfirullah hal adzim, sungguh keterlaluan Omar, biadab manusi itu" ucap Mirza penuh emosi.
"sabar yah" Miranda menenangkan Mirza dengan mengusap lengannya.
"bunda disini jagaian Ayu, Bia temani ayah" Biandra dan Miranda mengangguk bersamaan.
keesokan paginya, ditempat Aulian, kini dia sudah berada di Malang, ke pesantren tempat papanya mondok dahulu.
"Assalamualaikum," ucap Aulian.
"Waalaikumussalam warrahmatullahi wa barrakatuh ucap Nasya dari dalam dan membukakan pintu".
"Waalaikumussalam, mau mencari siapa mas?" tanya Nasha.
"Abah Labib ning, beliau ada?" jawab Lian.
"ada, mari silahkan masuk. silahkan duduk mas. saya panggilakan abah dulu" ucap Nasha lalu berlalu pergi.
__ADS_1
tak lama kemudian abah Labib keluar menemui Lian.
"Assalamualaikum bah" ucap Lian penuh takdzim dan mencium tangan abah Labib.
"waalaikumussalam warahmatulllahi wa barrakatu, silahlan duduk" Lian mengangguk.
"sampean sopo, kok sepertinya tidak asing buat abah, dan ada perlu apa mencari abah" tanya Abah Labib.
"saya Azzam Aulian Putra bah, anak dari Tama, Pratama. santri abah dulu" jawab Lian dan abah Labib nampak berfikir mengingat ingat.
"Masya allah kamu Lian putra Pratama, maaf abah pangling, nambah ganteng dan matang sekarang mas" jawab abah Labib.
"kamu mirip papamu dimasa muda, ganteng, gagah, sopan dan pasti lesung pipi itu turunan papamu," gurau abah Labib Lian membalas senyuman.
"oh ya, mana papa mu mas, kenapa kemari sendirian".
"emmm, papa dirumah bah. maksud kedatangan saya kemari sendiri itu ingin meminta saran dan bantuan abah" abah Labib mengangguk.
"ada apa mas" jawab Abah Labib dan Aulian mulai menceritakan permasalahan orangtuanya dan orangtua Biandra yang berimbas pada hubungan dirinya juga gadis pujaan hatinya. siapa lagi kalau bukan Biandra Putri.
"yah, abah baru tau kalau hubungan mereka ternyata tidak baik sejak lama. dulu yang abah tau, papamu dan juga Mirza itu sahabat karib ketika masih nyantri disini. banyak prestasi yang mereka peroleh bersama semasa nyantri dulu, mereka bertiga terlihat selalu bersama dalam keadaan susah maupun senang".
"kamu tinggalkan nomor telfon papamu juga Mirza nanti abah akan bantu kamu" .
"bagaimana yah keadaan mama Ayu dan Axcel" tanya Ayu sekembalinya Mirza dan Biandra.
"mereka sedang istirhat diruangannya, belum boleh banyak gerak karena semalem ayah menemukan mereka dalam keadaan pingsan tak berdaya" jawab Mirza.
"Ay, kamu kenapa tidak cerita ke kami tentang masalah mama dan axcel Ay" tanya Bia
"bang Omar mengancamku, jika aku cerita ke orang dia akan langsung membunuh mama dan axcel Bi" jawab Ayu.
"bang Omar sungguh keterlaluan, kamu yang sabar ya Ay, dia sudah mendapat hukumannya" Ayu mengangguk.
"Bi tolong bantu aku mengurus perceraian kami ya" Bia mengangguk.
satu bulan kemudian. . . . . . . . . .
Biandra sudah kembali ke Jepang untuk menyelesaikan kuliyahnya dan
hari ini sidang perceraian Ayu dan Omar yang pertama. sudah dipenjara dicerai istri pula (sungguh pilu nasib Omar, tapi itu semua hukuman untuknya sudah memerlakukan mertua dan adik iparnya tidak baik dan telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga yang membuat Mental Ayu jatuh dan menyisakan kenangan buruk)
semenjak pulang dari rumah sakit Ayu, mama dan Adiknya merasa bahagia karena bisa hidup bebas tanpa tekanan dan siksaan dari Omar. hal itu membuat mama Ayu menyesali atas perjodohan yang dia lakukan pada Ayu dan Omar, kini mama Ayu menyadari jika menilai orang tidak cukup hanya dari luarnya saja dan perihal jodoh alangkah baiknya jika diserahkan langsung kepada sang anak untuk memilih sendiri pasangannya. karena dia yang lebih tau pasangan yang seperti apa yang anaknya butuhkan.
__ADS_1
"yah, handphone ayah bunyi, nomor baru yang telfon" ucap Miranda sambil menyerahkan handphonenya.
"Assalamualaikum" ucap Mirza.
"Waalaiakumussalam warahmatullahi wa barrakatuh" jawab seseorang di telphone.
"maaf ini siapa ya" ucap Mirza.
"Masya Allah abah, maaf bah maafkan Mirza yang tidak mengenali suara abah"
"abah ibu sekeluarga sehat bah".
"Alhamdulillah"
"ada apa bah, sampai abah menelfhon Mirza bah, maafkan Mirza bah yang sudah lama tidak sowan ke ndalem abah"
"iya bah insya allah Mirza sekeluarga kendalem abah"
"iya bah"
"waalaikumussalam warrahmatullahi wabarrakatuh".
"siapa yang nelphone yah" tanya Miranda kepo.
"abah Labib bund".
"abah Labib kyai abah dipesantren dulu yah" jawab Miranda dibalas anggukan Mirza.
"MasyaAllah ada apa yah, sampai menghubungi ayah".
"beliau menyuruh ayah dan kamu minggu depan mengunjunginya bund".
"walah ayok yah kita kesana nanti kita bawakan opak singkong kesukaan beliau yah, dan juga legit kesukaan ibu nyai yah" Mirza mengangguk.
"andai Bia dirumah ya bund, kita ajak Bia juga. dia pasti senang bertemu ning Afra"
"iya yah, tapi yasudahlah nanti saja kalau Bia sudah pulang kita ajak sowan lagi ke ndalem abah Labib yah, ayah geh santri durhaka masa harus ditelfon pk kyai nya dulu baru sowan" cetus Miranda. Mirza hanya tertawa.
hari-hari Biandra di Jepang dilalui dengan biasa, meski kedua orangtua melarangnya berhubungan dengan Aulian kenyataannya mereka masih berhubungan dan tidak mau terpisahakan meski hanya lewat sosial media karena jarak yang memisakan. semenjak kembalinya Aulian ke Indonesia dia memutuskan pindah kampus ke Indonesia sembari mengurus permasalahan hubungan nya dengan Biandra yang tak kunjung mendapat restu dari orangtua Biandra.
Happy new year all, semoga ditahun ini kita semua menjadi insan bertaqwa dan lebih baik lagiii...
jangan lupa tinggalkan jejak guis, jejak kalian semangat author🥰🥰🥰🥰
__ADS_1