BIANDRA

BIANDRA
49. Sambutan yang hangat


__ADS_3

"sudah bund kasian nak Aulian wajahnya sudah merah padam karena malu"


Lian nampak malu dengan wajah merah padam, dia bukan malu karena becandaan orangtua Biandra melainkan malu bisa bisanya dia ceroboh membawa buah tangan hasil tangan orang itu sendiri.


"nak Aulian"


"iya pak" jawab Aulian mengangkat kepalanya menatap Mirza.


dag dig dug


berdebar hati Lian.


"jangan panggil pak panggil saja ayah sama seperti Bia.


"iya yah"


"sejak kapan kamu kenal dengan putri ayah"


"setahun setengahan yang lalu yah, kebetulan kami ada kerja sama Bia menjadi salah satu brand ambassador produk di perusahaan Lian"


Mirza mengangguk angguk.


"jadi kamu dulu bosnya Bia yang membantu membalikan nama baiknya karena fitnah temannya" Lian mengangguk .


"terimakasih nak kamu sudah melakukan itu untuk Bia"


"tidak perlu terimakasih yah karena memang Bia tidak salah, justru Lian lah yang harus banyak berterimakasih pada Bia, karena Bia sudah banyak menolong Lian dan keluarga Lian" tutur Lian mengingat semua kebaikan dan ketulusan Biandra padanya dan pada keluarganya selama ini.


"Lian ayah dan bunda tidak pernah melarang, meminta dan menuntut Bia ini itu, ayah dan bunda selalu memberi kebebasan untuk Bia memilih jalan hidupnya, baik itu pendidikan Bia pekerjaan Bia Kebiasaan Bia pendamping Bia, dan juga hal lainnya. ayah dan Bunda tau apa yang dipilih Bia itulah yang terbaik untuk Bia dan membuat Bia bahagia, belum tentu yang baik menurut kami baik juga untuk Bia dan bisa membuatnya bahagia".

__ADS_1


"akan tetapi sebagai orangtua kami juga tetap melakukan pengawasan dan memberinya nasihat mengarahkan Bia agar tetap dijalan yang benar, jika Bia salah dalam menentukan pilihan Ayah dan bunda membantunya untuk bangkit dan menyemangatinya kembali. jika pilihan Bia tepat kami berdualah orang pertama yang merasa bahagia"


"dari kebebasan yang kami berikan dalam memilih jalan hidupnya dan kepercayaan yang kami berikan itulah tumbuh karakter bertanggung jawab didiri Bia atas apa yang dia pilih dan dia lakukan, Bia tidak pernah main main dengan pilihannya Bia selalu memikirkan baik buruknya terlebih dahulu dan segala konsekuensinya dikemudian hari".


"jika pilihan pendamping hidup Bia itu kamu tidak ada yang bisa kami perbuat selain memberikan restu selagi didiri kamu tidak ada hal yang menyimpang".


"jika dikemudian hari kami mendapati kamu menyimpang entah itu sikap kamu yang buruk pada Bia berkhianat contohnya dan entah itu sesuatu hal didiri kamu ada yang melukai putri kami, dengan berat hati kami akan meminta kamu meninggalkan Bia".


"ada beberapa hal yang kami minta darimu bahagiakan putri kami semampumu, berikan dia cinta dan kasih sayang yang tulus jangan sekalipun kamu berkhianat karena itu tidak hanya melukai hati putri kami tapi juga melukai hati kami berdua setialah dengan pasanganmu"


Lian mengangguk paham ada rasa bahagia karena hubungannya dengan Biandra sudah mendapat restu, ada rasa Haru melihat sosok orangtua yang bijak yang sangat menyayangi putrinya dengan caranya sendiri dan ada rasa takut jika dikemudian hari dirinya hilaf, karena tidak bisa dipungkiri manusia tempatnya salah dan khilaf Allah maha membolak balikan hati manusia, saat ini Lian bisa merasakan cintanya hanya untuk Biandra tapi dia tidak tau apa yang akan terjadi kedepan godaan setan sungguh luar biasa akan terjadi.


Lian hanya bisa berusaha menjaga imannya agar cintanya terhadap Bia tidak akan pernah pudar dikemudian hari dan tidak akan mudah goyah dan tergoda oleh bisikan setan.


suasana malam itu nampak sunyi dan menegangkan bagi Lian.


"mohon maaf Bund untuk satu itu saya tidak bisa memastikan kapan waktunya saya bisa membawa kedua orangtua saya kemari, karena mama saat ini sedang terbaring koma di Jepang" tutur Lian dengan raut wajah sedih mengingat mamanya sampai detik ini masih terbaring koma. andaikan mamanya sehat tentu hal ini sangat membahagiakan untuk mamanya karena Lian tau mamanya punya rencana mendekatkan dirinya dengan Biandra.


hanya do'alah saat ini kekuatan Lian agar mamanya bisa segera sadar dan sehat seperti dulu kala.


"Innalillah, maafkan bunda nak bunda tidak tau" ucap Miranda yang merasa tidak enak pada Lian atas ucapannya.


"tidak apa apa bund, mohon do'anya agar mama segera bangun dari komanya dan bisa segera sehat agar saya bisa membawa mereka kemari bertemu ayah dan bunda" ucap Lian lirih menahan air matanya yang masih teringat mamanya.


"mama mu kenapa bisa koma nak" tanya Mirza.


"kecelakaan yah, mama melindungi keponakan Lian agar tidak kena benturan tapi akibatnya mama yang terluka parah hingga koma sampai sekarang"


"ceritanya seperti cerita oma nya Leo" ucap Lirih Mirza.

__ADS_1


"memang benar yah mama adalah omanya Leo, anak yang saat ini di asuh Bia"


"Masya Allah dunia ini memang sempit" ucap Mirza.


"semua ini tentu sudah skenarionya" sambung Miranda.


"yasudah kita makan malam bersama dulu yuk ,bunda sudah masak banyak buat kamu" ajak Miranda pada Lian.


"bund jadi ayah gak dimasakin ni bund jadi bunda lebih memilih calon mantu kita dari pada ayah bund" ucap Mirza mencoba mencairkan susana karena dirasa sangat menegangkan untuk Lian.


"ayah, ya bunda masak buat ayah juga to" jawab Miranda dengan ekspresi kesal, seketika membuat Lian tersenyum kecil membuat ketegangan yang dirasakan mulai mencair.


mereka bertiga menikmati makan malam bersama dirumah Mirza, suasana yang dirindukan Lian bersama mama papanya. dulu mereka selalu melakukan makan malam bersama lalu dilanjut berbincang bincang diruang TV hal wajib yang dilakukan dikeluarga Pratama agar tetap terjaga keharmonisan keluarganya, bagi keluarga Pratama sesibuk apapun harus menyisihkan waktu luang untuk kelurga meski cuma sekedar mengobrol diruang TV beberapa menit.


"kamu kenapa nak kok ekpresinya sedih" tanya Miranda yang menangkap raut wajah kesedihan pada Lian.


"hanya rindu berkumpul dengan mama papa bund, biasanya kami selalu makan malam bersama seperti ini".


"jika kamu rindu dengan mereka, datanglah kemari selama kami masih berada di kota ini, kami akan menerimamu dengan senang hati jika ingin makan bersama".


"serius bund" Miranda mengangguk lalu Lian menatap Mirza, Mirza pun mengangguk dan senyum.


"terimakasih yah, bund" wajah Lian nampak kembali ceria.


"sekarang kamu sudah kami anggap bagian dari keluarga kami, datanglah semaumu nak" tutur Mirza akhirnya mereka menyelesaikan makan malam bersama rasa syukur yang ada dihati Lian atas sambutan yang hangat dari keluarga Mirza.


tepat pukul 22.00 WIB Lian pamit pulang karena waktu dirasa cukup sudah malam, sudah waktunya untuk mereka bersitirahat.


jangan lupa suportnya kakak readers dengan like komen dan vote ya😁🙏🙏♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2