
Dengan langkah tergonta gantai Lian berjalan sambil menghubungi Azka untuk mengajaknya pulang, Lian terus menguatkan dirinya sendiri menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya, begitu juga dengan Azka.
sampainya dirumah dengan tampang lesu dan tidak semangat Lian langsung merebahkan tubuhnya ke sofa ruang keluarga. bayangan tentang Biandra dan Omar terus mengiang ngiang.
"khaaaahhhhhh" Lian menepis kekesalannya dengan meraung lalu memijat pelipisnya agar bayangan tentang bebera jam yang lalu hilang dari fikirannya.
tidak lama kemudian Laudia datang bersama tama juga Leo yang digendong Tama.
"pa, kenapa anak kamu" ucap Laudya sambil menunjuk kearah Lian.
"kamu hampiri dulu sana ma, papa tarok Leo dulu dikamar" Laudiay mengangguk.
"Aulian, sayang . kamu kenapa kusut banget nak, kamu gak jadi ketempat pujaan hati kamu nak" ucap Laudiya sambil mengusap kepala Lian, Lian menoleh sejenak kearah Laudiya lalu memeluk mamanya dengan tatapan sendu.
"Lian, ada apa kamu?" ucap Tama yang baru saja ikut bergabung.
"Lian, gak mau cerita sama mama papa?" ucap Laudiya pada Lian.
Lian melepas pelukannya lalu menceritakan ke Tama dan Laudiya. Tama menepuk punggung Lian.
"jodoh sudah diatur sama yang maha kuasa, kamu tidak boleh berlarut dalam kesedihan karena kamu tak berjodoh dengan yang kamu inginkan. ingatlah nak semua sudah digariskan dan Tuhan tau mana yang terbaik buat kamu"
"tapi pa, rasanya tuh nyesek banget, papa mama tau kan ini pertama kalinya Lian mencintai wanita dan ini pertama kalinya juga Lian merasakan patah hati pa" jawab Lian dengan mengusap sisa air matanya.
"mama paham perasaan kamu, sabar, ikhlasin ya nanti gantinya jauh lebih baik" ucap Laudiya.
"kamu gak bisa memaksakan kehendak Lian, kamu harus bisa belajar menerima takdir, takdir itu jangan diratapi dalam kesedihan, dibikin enjoy aja, pasti ada hikmahnya" ucap Tama, Lian menoleh kearah Tama sebentar lalu mengangguk.
"yasudah sekarang hiburlah diri kamu. lakukan dulu hal yang kamu suka agar kamu lebih tenang dan bisa melupakan kesedihanmu" ucap Tama.
sementara Azka. tadi Azka izin pada Lian untuk tidak kembali kekantor dan meminta izin untuk tidak bekerja beberapa hari karena ada keperluan pribadi. sebelum sampai Apartemen Azka menyempatkan mampir ke minimarket untuk membeli beberapa botol minuman beralkohol, ini pertama kalinya Azka minum pasca setelah orangtua Lian menolongnya beberapa tahun yang lalu. dulu dia berjanji akan menghindari alkohol, tapi saat ini hatinya kembali hancur dan Azka melupakan janji itu dia kembali minum alkohol.
"Ayuuuuuuu hikhiikhik" teriak Azka sesampainya diapartemen tempatnya tinggal, dia berkali kali menyebut nama Ayu dan menangis. Azka meminum Alkohol langsung dari botolnya sambil menyalakan sebatang rokok. fikiranya terus membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu, baru ia ingin melamar seorang gadis tapi mata kepalanya melihat dan telinganya mendengar bahwa gadis itu akan dijodohkan dengan pria lain.
Sementara ditempat Ayu, seusainya Azka keluar dari ruangan papa Ayu. papa Ayu kembali menggerang kesakitan dijantungnya, Ayu sempat sadar akan keberadaan Azka yang tadi juga ada disana namun setelah dia cari Azka sudah tidak ada lagi.
Bia yang baru saja sampai rumah mendapat kabar kalau papa Ayu berada dirumah sakit. Biandra langsung menyusulnya bersama papa.
"yah bund." ucap Biandra panik.
"kenapa nak" jawab bunda Biandra.
"papa Ayu masuk rumah sakit karena serangan jantung".
__ADS_1
"apa, ayok kita kesana" jawab ayah Biandra.
"Ay," ucap Biandra lirih sesampainya dirumah sakit sambil memeluk Ayu.
",Papa Bi papa" jawab Ayu sambil memanis.
",iya kamu yang tenang ya" balas Biandra.
tak lama kemudian dokter keluar.
"bagaimana keadaan suami saya dok" ucap mama Ayu.
"beliau sudah sadar dan ingin bertemu dengan bapak Mirzani" ucap sang dokter.
"saya Mirzani dok".
"silahkan masuk pak" ayah Biandra menoleh sebentar kearah mama Ayu, mama Ayu menganggukan kepala sebagai tanda silahkan lalau ayah Biandra mengangguk pada dokter dan masuk keruang rawat papa Ayu .
tak lama kemudian Ayah Mirzani keluar dengan wajah sedikit sendu.
"mz bagaimana dengan papanya Ayu, apa yang dia katakan" ucap mama Ayu.
"perjodohan Ayu harus segera dilaksanakan. papa Ayu menginginkan mereka harus segera menikah, saya akan menghubungi keluarga Surya dulu".
malam harinya, Ayu mencoba menghubungi Azka beberapa kali namun panggilan tidak aktif, Ayu juga beberapa kali mengirim pesan, meminta tolong agar Azka bisa membantunya keluar dari perjodohan ini, Ayu sama sekali tidak ingin melaksanakan pernikahan dengan orang yang tidak dia cintai. sampai keesokan harinya Azka juga tidak ada menghubungi Ayu, Ayu masih mencoba menghubungi Azka namun masih tidak aktif.
"Bi Ner, tolongin gue. gue gk mau nikah sama orang yang gk gue kenal dan gk gue cinta hikhik" ucap Ayu.
"Ay, kalau bisa kita pasti tolongin elo, tapi apa yang bisa kita lakuin Ay" jawab Biandra.
"Bi, telfhon Pk Lian Bi. tanyain bang Azka dimana , yang satu satunya bisa nolongin gue cuma bang Azka".
"bang Azka itu siapa Bi" bisik Nera.
"gebetanya Ayu" ucap Biandra asal. Nera hanya mengangguk.
"Nomor pak Lian gak Aktif Ay".
"bang Azka". jawab Ayu.
"gak aktif juga Ay" Ucap Biandra.
Ayu nampak frustasi ingin rasanya Ayu kabur.
__ADS_1
"hikhikhikhik gimana Bi, Ner gue gak mau menikah dengan laki laki itu hikhikik" ucap Ayu yang masih dengan tangisannya.
"tenang ya Ay kita berfikiri dulu, untuk cari cara" jawab Biandra, keadaanpun menjadi hening. mereka bertiga nampak berfikir.
duuuuuut dut duut duuuuuut
"apaan tu Bi" ucap Nera kaget.
"heheh gue kentut Ner" jawab Biandra sambil nyengir.
"astaga Biandra bisa bisanya cwe cantik kek elo kentut kayak gitu" ucap Nera kaget.
"gue kan juga manusia Ner" jawab Biandra.
"lagian loe kentut gak liyat sikon banget si, situasi lagi tegang, hening gini juga" Biandra Ayu dan Nera tak bisa menahan ketawa lagi.
siang harinya Surya bersama anak dan istrinya datang kerumah sakit untuk melaksanakan akad nikah, tidak ada wajah bahagian diantara kedua mempelai. semua mereka lakukan hanya karena keterpaksaan.
sah
sah
sah
satu kata itu berhasil membuat Ayu menangis kembali saat ini dia benar benar bukan lagi seorang gadis, melainkan seorang istri.
"Surya, terimakasih telah melaksanakan perjodohan ini, sekarang aku bisa pergi dengan lega" ucap Papa Ayu dengan Surya.
"Ayu, percayalah kamu akan bahagia menikah dengannya" Ayu manunduk tidak berani mengangkat kepalanya karena matanya sangat sembab.
"Mirza, Miranda saya titip istri dan anak anak saya ya, tolong anggap mereka seperti saudara kalian" ucap papa Ayu .
tak lama kemudian papa Ayu meninggal dan membuat Ayu adik dan mamanya menangis histeris.
"papa bangun pa, papa jangan tinggalin kami pa" ucap Mama Ayu.
"papa bangun pa hikhikjik" ucap Ayu.
"papaaaaaaaa" ucap adik Ayu.
Biandra memeluk Ayu sambil mengusap punggungnya mencoba menenangkan Ayu.
hari itu benar benar hari yang membuat dunia Ayu seakan runtuh, dia menikah dengan orang yang tidak dia cintai dan dia ditinggalkan oleh orang yang sangat dia cintai yaitu papanya , untuk selama lamanya..
__ADS_1