
Sudah dua hari semenjak meninggalnya Andi Ming dan itu menimbulkan kesedihan baginya, ternyata lelaki itu mengkhianatinya dengan menyabotase keuangan perusahaan.
Bagaimana mungkin Andi bertindak sekejam itu padanya. Dia ditemukan meninggal bersama Dewi dan uang hasil penggelapan perusahaan. Padahal yang Bening tahu bahwa Andi selama ini orang yang mencintai dan yang selalu peduli padanya.
Tapi benarkah Andi mati karena bunuh diri? Itu terasa janggal bagi Bening. Tapi dia bukan ahlinya untuk menebak suatu perkara yang telah terjadi.
"Ini semua keperluanmu telah kusiapkan semua di dalam koper," kata Bayu.
"Masukkan saja semuanya ke dalam bagasi mobil. Dan ini uang untuk keperluanmu selama aku pergi ke rumah kakek." kata Bening sembari menaruh satu ikat uang bernilai lima juta rupiah.
"Terima kasih...kau yakin tidak membutuhkanku disana untuk melayanimu..."
Bening memutar bola matanya malas," Aku bukan anak kecil yang harus selalu dilayani. Lagi pula disana banyak sekali pelayan yang akan membantuku."
"Apakah kakekmu tidak akan bertanya, mengapa kau tidak pergi bersamaku?" tanya Bayu berharap jika Bening akan mengajaknya turut serta ke ibukota.
"Katakan saja kau mau ikut bersamaku ke sana?"
"Ya...seperti itulah..." kata Bayu dengan gaya dibuat buat.
"Kau benar...mungkin kau akan berguna disana tapi jika kau pergi tidak ada yang akan mengurus rumah ini...sebaiknya kau tetap disini saja mengurus rumah ini selama aku tidak ada." kata Bening lalu pergi masuk kedalam mobilnya.
Bening mau menutup jendela mobil tapi tangan Bayu menahannya.
"Apakah kau tidak akan merindukan aku disana?"
"Bayu....bisakah kau diam...aku pusing mendengar ocehanmu... pernikahan kita ini hanya di atas kertas. Jadi jangan pernah kau anggap aku ini istrimu." kata Bening kesal.
"Pak jalan..." perintah Bening pada sopirnya. Mobil lalu meninggalkan pelataran rumah.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan bersikap acuh padaku ini sudah tiga bulan pernikahan kita. Well, setidaknya kau sudah mau mengungkapkan perasaanmu padaku, itu lebih baik dari pertama kali kita bertemu, kau terlihat sangat membenciku saat itu," gumam Bayu sembari tersenyum.
Dia lalu pergi ke pos Satpam.
"Ini ada uang...cari satu pelayan untuk membersihkan rumah ini selama aku pergi." perintah Bayu dengan nada berwibawa, Satpam yang biasanya melihat Bayu sebagai sosok yang nyleneh lalu tertawa.
"Kau bukan majikanku disini aku dan kamu sama saja." kata Satpam itu mengejek Bayu.
"Jika kau masih mau bekerja disini ikuti perintahku sekarang kalau tidak aku akan menggantimu dengan orang lain detik ini juga." kata Bayu lalu keluar dari pintu samping gerbang.
Nampak sebuah mobil Rollroyce berhenti di depan Bayu. Seorang berpakaian rapi keluar dan mempersilahkan Bayu untuk masuk ke dalam mobil. Semua itu tidak luput dari pandangan Satpam itu.
Akhirnya mobil mewah itu pergi meninggalkan seribu pertanyaan dibenak satpam yang selalu mengejek Bayu.
"Siapa sebenarnya Bayu, apakah dia juga seorang tuan muda. Jika iya...mati aku...bisa pensiun dini..." kata Satpam itu sembari menutup pintu samping.
"Tuan boss helicopter sudah menunggu anda di sebuah lapangan kecil. Kenapa kau tidak pergi bersama nyonya saja boss?"
"Dia pasti lelah menempuh perjalanan lima jam menuju ibukota dengan mobil itu. Andatidak kasihan padanya tuan."
"Kau itu cerewet sekali apakah aku memang harus mengganti assistan pribadiku."
Assistan yang bernama Beni itu lalu memberi gerakan menutup bibirnya dengan tangannya.
Setelah sampai di rumah kakeknya Bening lalu masuk ke dalam rumah besar. Tidak ada yang menyambut kedatangannya seperti biasa. Bening berjalan masuk ke arah kamarnya. Seorang pelayan datang dan mengambil koper milik Bening.
"Tuan besar memerintahkan saya untuk membantu nona. Dan dia berpesan agar nona beristirahat dahulu di kamar nona. Baru akan menemui nona di acara makan malam keluarga."
''Dimana yang lainnya...?" tanya Bening.
__ADS_1
"Nyonya Bianca sedang menyirami pohonnya, sedangkan nyonya dan tuan Arnold sedang keluar negeri sudah seminggu ini, mungkin akan kembali nanti sore." jawab pelayan itu.
"Tante Bianca ada dirumah, tapi dia tidak ingin menemuiku seperti biasa walau sekedar berbasa basi saja. Ini yang tidak ingin aku perlihatkan pada Bayu, bahwa keberadaanku disini tidak diinginkan" batin Bening.
Bening langsung menuju ke rooftop di lantai 3 melalui pintu lift. Disana ada rumah kaca yang besar tempat biasanya tante Bianca menghabiskan hari harinya dengan pohon hiasnya.
Bianca sedang asik menanam tanaman Anggrek yang baru dibelinya ketika Bening muncul dari balik pintu lift, dia pura pura tidak melihat keponakannya itu.
Dengan langkah pelan Bening menghampiri adik perempuan ibunya.
"Tante...Bening datang..." kata Bening berharap ada balasan senyuman dari tantenya itu.
"Kau mau apa kau datang kemari lagi..." kata Bianca ketus
"Kakek yang memanggilku untuk datang kemari."
"Ku dengar kau sudah menikah...dimana suamimu?" tanya Bianca.
"Aku tidak membawanya turut serta bersamaku,"
"Aku harap umurnya panjang, tidak sial karena memperistri dirimu. Ibumu saja meninggal setelah melahirkanmu dan ayahmu yang menjagamu meninggal ketika umurmu sepuluh tahun, lalu kau diasuh oleh ibuku dan dia juga ikut meninggal karena menolongmu. Kau adalah anak pembawa sial bagi keluarga ini...pergilah...dari sini sejauh jauhnya..." kata Bianca lalu berlalu pergi meninggalkan Bening sendiri.
Tetes air mata mengalir di pipi Bening. Dia lalu menghapusnya dan berjalan menegakkan kepalanya pergi dari tempat itu.
Kasihan Bening...dia sebetulnya wanita kesepian yang membutuhkan cinta hanya saja dia menyembunyikan rasa sakitnya di balik sifat angkuh dan arrogant.
Like..
Vote..
__ADS_1
dan koment...masalah masalah sudah mulai terlihat...
kita harus beri semangat untuk Bening dalam menjalani hidup ini...