Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
Memperbaiki Hubungan.


__ADS_3

Sudah beberapa hari Bayu dan Bening berada di rumah Wirya. Pelan pelan Bayu sudah mau menerima Wirya dengan baik. Dan mau untuk bermain dengannya.


Wirya juga selalu menyempatkan waktunya untuk bersama Bayu. Baik pagi sewaktu dia baru bangun tidur hingga ketika dia baru pulang bekerja dia akan menemui Bayu terlebih dahulu.


Wirya ingin menjadi ayah terbaik bagi Bayu. Bahkan harus mengungguli Abi yang telah lebih dahulu menguasai hati Bayu.


"Sudah...sudah...sebaiknya kita makan terlebih dahulu baru kalian bisa bermain lagi," kata Bening kesal karena sedari tadi pasangan ayah dan anak ini asik dengan mainan baru Bayu. Mainan yang mengasah otak. Memasang pernik pernik kecil sehingga membentuk sebuah robot. Di butuhkan ketelitian kesabaran dan juga imajinasi yang hebat.


"Tunggu bu! Sebentar lagi, tanggung." ucap Bayu yang memperhatikan ayahnya yabg sednag merangkai robot itu dengan hati hati.


Perut Bening sudah berbunyi dari tadi, lagian ini sudah pukul tujuh lewat dan mereka masih asik juga dengan mainannya.


"Ya, sudah aku mau tidur saja. Kau tidur diluar..." ucap Bening kesal sembari keluar dari kamar Bayu.


Dua orang yang sedang asik langsung memandangi Bening.


"Oh..no...gawat...ayo cepat Bayu..." teriak Wirya. Bisa bisa dia kedinginan malam ini jika pintu kamar ditutup.


Wirya langsung membopong tubuh Bayu dan berlari mendekati istrinya yang telah duduk bersiap tidur.


"Bu...Ayo kita makan!" bujuk Wirya mendekati Bening. Wanita itu menarik bibirnya sedikit kesamping lalu merebahkan diri.


"Kau tidak kasihan melihat Bayu yang kelaparan," kata Wirya memelas sembari mengedikkan satu matanya memberi kode Bayu agar membujuk ibunya.


"Makanan sudah kusiapkan kalian bisa makan sekarang aku mau tidur. Dan kau keluarlah jangan masuk kamar ini," kata Bening dengan nada ketus.


"Bu..." panggil Bayu memelas.


Tapi Bening memejamkan matanya dan bersikap tidak peduli.

__ADS_1


"Ya sudah jika begitu, kita akan turun ke bawah sekarang," kata Wirya lalu berjalan menuju pintu.


"Ish ..." desis Wirya keras.


"Om kenapa?" tanya Bayu khawatir melihat raut kesakitan dari Wirya.


"Tidak apa apa hanya sakit sedikit, Bayu jalan sendiri bisa?" tanya Wirya. Namun sebuah tangan menyentuhnya.


"Mana yang sakit?" tanya Bening khawatir.


"Tidak apa apa ini biasa terjadi," jawab Wirya lalu berjalan ke arah ruang makan. Semburat senyum kecil sempat terlihat di wajahnya namun dia kembali memasang meringis membuat Bening bertambah khawatir saja.


"Biar Bayu ku gendong," kata Bening mencoba mengambil Bayu dari gendongan Wirya. Dia merasa sangat khawatir. Bagaimanapun, dulu Wirya pernah sakit parah akibat menolongnya. Rasa bersalahnya bertambah karena dia tidak bisa merawat Wirya selama proses penyembuhan dan pemulihannya.


"Om...tidak apa apa," Bayu ikut khawatir melihat wajah Wirya yang meringis.


"Om tidak apa apa hanya saja perut om sakit karena kelaparan," kata Wirya membuat Bening mencubit perut Wirya karena kesal.


"Hei...aku tidak apa apa hentikan tangismu!" kata Wirya membujuk Bening agar berhenti menangis. Dia mencium pucuk kepala Bening dengan sayang.


Bayu yang masih dalam gendongan Bening ikut memeluk ibunya.


"Kau membuatku takut saja," kata Bening membenamkan wajahnya pada dada bidang Wirya.


"Aku akan baik baik saja selama kalian ada bersamaku..." kata Wirya memeluk keduanya.


"Kau tidak tahu betapa takutnya aku melihat kau kesakitan," kata Bening terisak.


"Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kini temani aku makan," kata Wirya pada Bening.

__ADS_1


Bening lalu melepaskan diri dari pelukan Wirya dan menyeka air matanya.


"Kau terlihat jelek jika menangis," ucap Wirya sembari membenahi rambut Bening yang menutupi wajahnya.


"Bu ayo kita makan aku sangat lapar," kata Bayu.


Langkah mereka terhenti tatkala melihat Edo dan Sara berdiri tidak jauh dari mereka.


"Kakak... sejak kapan kalian kemari?" tanya Wirya pada Edo.


"Sejak dari tadi tapi kulihat kalian asik dengan pertengkaran kecil kalian yang terlihat manis," kata Sara.


Wirya terlihat tidak senang melihat Edo datang ke rumahnya dia takut perkataan Edo akan menyinggung hati Bening nanti.


"Ini anakmu dik...sangat mirip sekali denganmu...Wirya junior..." kata Sara mendekati Bayu. Namun seperti biasa Bayu akan bertingkah tidak suka jika bertemu dengan orang asing. Dia merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan Wirya.


Bening sendiri berdiri disamping Wirya dengan memegang ujung lengan baju pria itu. Dia takut bertemu dengan Edo karena pertemuan terakhir mereka yang tidak baik.


Wirya tahu yang dirasakan oleh istrinya itu.


"Kau jangan khawatir kak Edo tidak akan memarahimu," bisik Wirya sembari melirik ke arah kakaknya. Suaranya masih terdengar hingga ketelinga Edo.


"Om...siapa kakek menyeramkan itu?" tanya Bayu polos.


Mata Edo dan Sara membelalak tidak percaya dengan pendengarannya itu.


"Om..." ucap mereka bersamaan.


Bening makin takut mendapat makian dari keduanya. Dan Bayu terisak melihat ekspresi dua orang tamu itu.

__ADS_1


Wirya sendiri menarik nafas panjang.


"Kak..." kata Wirya kesal.


__ADS_2