Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
Cinta kita tidak terpisahkan


__ADS_3

Mereka sekeluarga mengelilingi rumah Wirya, ada beberapa ruangan yang distel ulang kilat agar Bayu bisa betah dan suka bermain disana. Seperti pemasangan perosotan pada kolam renang dan beberapa pernak perniknya serta sedikit arena outdoor untuk anak anak disebelahnya.


"Ini kamar anak om?" tanya Bayu. "Wah! Bagus sekali om,"


Kata Bayu menyukai oranamen yang ada di kamar itu. Langit langit kamar di buat seperti langit malam yang penuh bintang bersinar juga beberapa lukisan langit dengan planet planetnya, seolah mereka berada di ruang antariksa. Jika kamar lampu dimatikan.


"Om aku suka kamar ini... sayang ini bukan kamarku tapi kamar anak om," teriak Bayu. Hal itu membuat perih hati Bening dari tadi. Akhirnya dia ingin keluar dari kamar itu namun pinggangnya di tahan oleh Wirya.


"Kenapa...mau melarikan diri lagi dari kenyataan yang kau sendiri tidak bisa menahannya," ucap Wirya yang membuat pertahanan Bening runtuh untuk seketika.


Bening memeluk erat tubuh Wirya, menangis dalam pelukannya yang hangat.


"Kenapa kau datang kembali... semua baik baik saja ketika aku pergi. Kini setelah kau datang menemuiku apakah semua akan seperti dulu lagi...jauhilah aku dan anakku...Biarkan kau dan aku hidup sendiri agar semuanya berjalan dengan baik," isak Bening.


Wirya memberi isyarat pada salah satu pelayan untuk menemani Bayu masuk ke ruang bermain.


Wirya sendiri menenangkan Bening, menanyainya disaat hatinya sedang gelisah tidak akan menghasilkan apapun yang ada hanya perasaan wanita itu yang tambah tertekan.


Setelah tangisan Bening tidak terdengar lagi. Dan wanita itu dirasa telah tenang Wirya melepaskan pelukannya dan menarik Bening menuju sebuah pintu penghubung kamar Bayu dan kamar utama.


"Ini akan menjadi kamar kita, sebetulnya kamarku," jawab Wirya. "Kenapa kau tidak suka jika ada yang tidak kau sukai kau boleh mengganti semuanya sesuai dengan seleramu, bahkan kau boleh mengganti semuanya dengan warna merah muda."


Bening tersenyum mencubit perut Wirya yang liat dan keras.


"Aw...sakit..." kata Wirya. Dia lalu membuka kaos di tubuhnya.


"Kau lihat daerah yang kau cubit bekas operasi." kata Wirya memperlihatkan luka jahitan disana. Bening melihat banyak sekali bekas luka jahitan di tubuh Wirya. Wanita itu memundurkan langkahnya. Dia menggelengkan kepalanya cepat teringat kejadian dahulu yang meninggalkan rasa trauma dihatinya.


Wanita itu membalikkan badan hendak pergi namun Wirya memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung wanita yang bergetar karena menangis.


"Sampai kapan kau mau lari dari kenyataan ini, tidakkah kau lelah terus berlari dari kasih sayang semua orang. Kau ketakutan sendiri, dan memendam kesedihanmu, kau bahkan tidak mempercayai suamimu sendiri lalu kau akan bersandar pada siapa kalau bukan suamimu sendiri." ucap Wirya.


"Aku takut kau terluka lagi...aku tidak pantas bersamamu kau sangat baik padaku selama ini walau aku telah menghinamu kau tetap bersamaku, kau telah menjagaku begitu lama tapi sejenak saja aku membalas kebaikanmu kau hampir saja meregang nyawa, itu tidak sebanding dengan kebaikanmu selama ini. Masih banyak wanita yang lebih baik dari pada diriku yang hanya bisa membuatmu terluka,"


Wirya lalu membalikkan tubuh Bening.


"Karena itu kau pergi?" tanya wirya. Bening hanya bisa terdiam menundukkan wajahnya.


"Bening aku tanya padamu sekali lagi karena itu kau pergi,"


Bening masih terdiam saja. Sedangkan Wirya memeluk erat istrinya itu. Tanpa menjawab pertanyaan itu Wirya sudah tahu jawabannya.


"Aku bahkan rela kehilangan nyawaku demi dirimu, tapi kau tidak mempercayaiku barang sedikitpun. Apakah itu pantas kuterima?"


Bening menggelengkan kepalanya.


"Kau tahu aku tidak pantas menerima perbuatanmu lalu mengapa kau melakukannya. Tidak bisakah kau mempercayaiku barang sedikit saja?"


Bening menatap mata Wirya yang ada disana hanya ada sebuah harapan agar keinginannnya terkabul. Mata yang sama seperti milik Bayu jika menginginkan sesuatu.


"Tubuhmu terlalu tinggi untuk ku peluk," kata Bening sembari tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan merendahkan diriku agar kau bebas memelukku dan menciumiku,"


"Kau pria tua yang mesum," canda Bening sama seperti dulu.


"Dan kau gadis kecilku yang manis," jawab Wirya kemudian.


"Apakah kau sudah mengingat semuanya?"


"Belum semua hanya saja bagian dari dirimu aku bisa mengingatnya bahkan ketika aku melupakan dirimu aku masih ingat pelukanmu dan siluet tubuhmu,"


"Tidak adakah hal lain yang bisa kau ingat selain itu?"


"Tidak ...mungkin itu saat paling membahagiakan dari hidupku sehingga terekam jelas dalam memoriku, namun sayangnya aku tidak ingat wajahmu." kata Wirya tersenyum kecut.


"Aku mencintaimu..." ucap Bening meletakkan kepalanya didada Wirya.


"Aku tahu itu..." jawab Wirya tenang,


"Aku sangat mencintaimu..."


"Dan aku sangat tahu itu..."


"Kau tidak membalas ucapanku..."


"Masih perlukah kau bertanya lagi, tanpa kau bertanya kau sudah tahu jawabannya..."


Mereka hanya terdiam dan hanya saling berpelukan untuk waktu yang lama, seolah itu cukup untuk mereka. Wirya lalu menaruh dagunya di pucuk kepala Bening.


"Aku harus pulang...kita butuh waktu untuk membiasakan Bayu bersamamu dulu, dia tidak bisa serta merta dipisahkan oleh Abi. Mereka telah lama dekat bahkan teramat dekat."


"Aku cemburu pada kasih sayang Bayu untuk Abi, aku ayahnya saja tidak dicintai Bayu seperti itu." ucap Wirya.


"Semua butuh waktu, Bayu."


"Bayu..." Wirya mengingatnya. Ya...dia... suara seorang wanita yang memanggilnya Bayu.


"Bukankah namamu Wirya Bayu Pradana Malik, dan aku selalu memanggilmu Bayu bahkan aku tidak kenal nama Wirya sebelumnya."


"Karena itu kau menamainya Bayu, agar selalu mengingatkanmu akan diriku,"


"Ya..."


"Kau sangat mencintaiku..."


"Haruskah kukatakan lagi..." jawab Bening.


"Harus...karena aku menyukainya..."


"Kau curang..." ucap Bening.


"Aku tidak pernah curang, aku mengatakan semua yang aku rasakan."

__ADS_1


"Bening...malam ini tidurlah dirumah ini, aku mohon..." pinta Wirya tiba tiba.


"Aku...."


"Malam ini setelah itu kau bisa pulang ke rumah Abi aku akan menunggu hingga kau sendiri yang pulang ke rumah ini bersama Bayu,"


"Hanya malam ini..."


"Tidak...aku tidak mau hanya malam ini, tapi malam besok aku mengijinkanmu untuk tidur di rumah Abi. Tidak ada kata hanya untuk kita...yang ada hanya selamanya kau ada bersamaku... Berjanjilah kau tidak akan meminggalkanku lagi,"


"Aku takut Bayu..."


"Tataplah aku berjanjilah kau akan selamanya bersamaku walau apa yang akan terjadi,"


"Aku takut Bayu..."


Wirya memeluk Bening lagi," Hilangkan ketakutanmu dan berjanjilah kau akan selalu bersamaku,"


"Apakah jika aku berjanji kau tidak akan pergi seperti ibu, ayah dan nenek yang meninggalkan aku untuk selamanya?"


"Aku akan melewati kematian hanya untuk menemanimu selamanya...hingga kita menua bersama ..."


"Ingat kau sudah tua ..."


"Kita akan selalu bersama dalam hidup dan mati ..." kata Wirya.


"Mungkin itu kalimat yang cocok untukmu..." lanjutnya lagi.


"Aku hanya tidak ingin melihatmu mati dihadapanku...biarkan aku saja yang terlebih dahulu pergi..."


"Jika begitu kau sangat mencintaiku...kalau begitu berjanjilah kita akan bersama selamanya mautpun tidak bisa memisahkan cinta kita,"


"Aku akan bersamamu selamanya menemanimu hingga mautpun tidak akan memisahkan cinta kita," ucap Bening kali ini dengan nada yakin


"Kita seperti anak muda saja," ucap Wirya.


"Cinta tidak memandang usia..." jawab Bening.


"Bu... mengapa kau ada disini memeluk om ini?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sweet...


Bayu...kenapa kau mengganggu momen indah orang tuamu...


Aku nulis cerita ini pakai perasaanku makanya hanya satu bab kadang dua hari baru up.


Karena untuk mengungkapkan besar rasa cinta Wirya melalui kata itu sulit...


Karena sejatinya seorang pria tidak pandai berkata kata, tapi mereka mewujudkannya dengan tindakan

__ADS_1


__ADS_2