Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
Istirahat


__ADS_3

Bening memijat pelipis matanya. Pernyataan Arnould membuatnya heran. Bukan paman nya dalang ini semua, tapi siapa? Tidak mungkin kakeknya, dia sangat baik. Satu-satunya orang yang peduli padanya. Bibi Bianca tidak mungkin dia karena dia tidak pernah peduli dengan urusan lain selain bunganya. Bibi Dewinta, dia memang jahat tapi masa pamannya kalah terhadap bibi-nya yang ada malah Dewinta yang takut jika pamannya marah.


Sayup-sayup terdengar bunyi orang yang sedang muntah-muntah. Bening baru ingat jika suaminya sedang sakit dua hari ini. Badannya demam dan terus muntah.


Bening lantas pergi ke kamarnya. Menengok suaminya di kamar mandi. Dia bersandar di kloset dengan wajah pucat. Matanya telah menghitam dan keringat keluar dari dahinya yang sedikit lebar.


"Kau baik-baik saja?" tanya Bening.


"Aku tidak baik-baik saja. Tubuhku terasa lemah dan sakit. Perutku pun terasa mual ketika aku mencium bau makanan yang aneh. Mulutku terasa asam. Tapi rasanya aku butuh sesuatu yang segar untuk di minum. Aku mau jus jeruk yang asam."


Wirya berjalan menuju kamarnya. Satu tangan memegang perutnya dan satunya memegang bahu Bening. Tubuh yang biasanya berdiri tegak kini berjalan membungkuk.


"Mungkin asam lambungmu naik, Yah," ucap Bening khawatir. "Sebaiknya kau jangan minum air jeruk itu," saran Bening.


"Jika kau tidak memperbolehkan ku minum jus itu, maka aku akan membuatnya sendiri," marah Wirya. Ini masalah sepele tapi hati Wirya merasa tidak dihargai keinginannya.


"Aku akan mengambil kan nya untukmu, tapu kau harus makan terlebih dahulu," perintah Bening tegas.


"Bau nasi itu menyiksaku," jawab Wirya sembari berbaring di tempat tidurnya.


"Roti kau mau?" usul Bening.


"Bentuknya membuatku mual," tolak Wirya lagi.

__ADS_1


"Pasta?"


Wirya masih menggelengkan kepalanya.


"Pizza, donut, spageti," tanya Bening berkali-kali. Namun semua ditolak oleh Wirya.


"Bawakan aku Ramen saja," pinta Wirya.


"Itu makanan pedas sayang ... ," bujuk Bening agar Wirya makan-makanan berat namun tidak pedas.


"Jika kau tidak mau memberikannya kau tidak usah menyuruhku makan," emosi Wirya mulai naik.


"Kau seperti orang ngidam saja?" gumam Bening. Mulutnya di kerucutkan ke depan. Dia saja yang hamil tidak serepot ini. Batin Bening.


"Betulkah itu?" tanya Wirya membuka mulutnya. Dia baru tahu ada ngidam yang dialami oleh suami bukan istri.


"Tapi mengapa dokter itu mengatakan jika asam lambungku sedang naik," kata Wirya mengernyitkan dahinya.


"Karena dia menganalisa gejala yang kau rasakan. Dia tidak tahu jika aku hamil." Bening merasa selamat kali ini karena dia terbebas dari rasa mual di kehamilannya.


"Kau ingat malam kemarin kau begitu tergiur melihat jambu di samping rumah," Wirya mulai mengingat perkataan Bening. Lalu menganggukkan kepalanya.


"Jam sepuluh malam kau naik ke atas pohon itu lalu mengambil jambu itu dan makan dengan lahapnya. Seperti orang yang belum makan selama seminggu," ungkap Bening.

__ADS_1


Bercerita tentang jambu membuat air liur Wirya kembali bereaksi. Dia mendesis kecil. Dengan langkah cepat dia keluar dari kamarnya menuju samping rumah. Tempat dimana pohon jambu itu di tanam. Warna merah pada jambu itu terasa melambainya untuk mendekat. Dia menelan air liur nya lagi.


"Sayang, kau sedang sakit. Biar Mang Kardi yang mengambilnya," cemas Bening pada Wirya.


Wirya tidak mengindahkan panggilan Bening, dia langsung saja naik ke atas untuk mengambil jambu air yang berwarna merah itu.


Memakan buah itu langsung dari pohonnya membuat moodnya bangkit lagi. Nikmat dan segar dirasanya, tidak peduli jika menjadi tontonan para pelayan.


"Ayah, aku mau ikut naik ke atas?" teriak Bayu dari bawah.


"Jangan, Nak. Nanti kamu jatuh," larang Bening.


"Biarkan saja dia mencoba. Dia itu lelaki. Hal seperti ini harus bisa dia lakukan," ucap Wirya dengan buah yang masih ada di mulutnya.


Empat orang tamu yang baru datang melihat tingkah Wirya dengan menggelengkan kepalanya. Tiga diantaranya tertawa terbahak-bahak.


"Paman ... kau sedang apa di atas sana? Apakah buah di kulkasmu sudah habis sehingga kau harus naik ke atas sana?" teriak Zen.


Wirya terkejut melihat keluarganya sudah ada di bawah. Kakaknya, Edo sedang meletakkan tangan di pinggangnya.


"Tingkah mu itu tidak seperti CEO yang menyeramkan, kau seperti?" Edo tidak melanjutkan perkataannya karena Sara sudah mencubit perutnya dengan keras.


"Paman, aku bawa berita penting, aku tahu siapa orang dibalik layar itu," teriak Zen.

__ADS_1


__ADS_2