
Dengan langkah setengah takut Abimanyu masuk ke dalam kamar bersalin. Bukan takut pada suntik tapi lebih takut pada keadaan Dewi, bagaimana keadaan wanita itu tadi setelah menjerit kesakitan selama beberapa jam ini.
Jantungnya hampir mau copot dan tegang menunggu proses kelahiran wanita itu. Dewi nampak cantik, kulit pucatnya kini nampak berseri seri ketika mendekap anaknya. Dia tersenyum ketika melihat Abimanyu.
"Kau baik baik saja Wi?" tanya Abi pada Dewi.
"Baik bahkan sangat baik, kau sudah melihat pangeran kita? Bukankah dia sangat tampan."
Abimanyu mendekati ibu dan anak itu. Mencolek pipinya kemerahan dan kulitnya yang masih tipis berkerut tipis. Bibirnya mungil dan merah bergerak gerak lucu.
Abimanyu melihat kearah Dewi dan anak itu bergantian. Inikah rasanya memiliki keluarga kecil, betapa bahagianya.
"Hei...kenapa kau diam saja?" tanya Dewi pada Abi.
"Terimakasih karena membuat hidupku penuh warna dan bahagia." kata Abimanyu sembari mencium kening Dewi. Dewi memelototi Abi.
"Itu bentuk rasa sayangku untuk kalian, tidak perlu marah seperti itu." kata Abi tahu apa yang difikirkan oleh wanita itu. Ya dia terlalu emosional karena kebahagiaan yang datang kepadanya kali ini.
"Aku ingin sekali menggendongnya tapi aku takut dengan tubuh rapuhnya, aku takut jika aku salah menggendongnya dia akan tersakiti."
Mendengar ucapan Abimanyu Dewi tersenyum, dia meletakkan si kecil ke dalam dekapan Abi.
"Belajarlah jadi ayah yang baik," kata Dewi.
__ADS_1
Abi lalu menggendong si kecil dengan kaku dan sangat berhati hati.
"Lihat Wi, dia mengusel ke dadaku...oh...dia pasti mencari kenyamanan disana?" ungkap Abi takjub pada tingkah laku si kecil.
Dewi hanya menatap senang. Tiba tiba hatinya mencelos, dia teringat pada Bayu. Bagaimana kabar pria itu? Bagaimana keadaannya? Apakah kecelakaan itu membuatnya bisa hidup normal kembali? Ingin sekali dia mendengar berita pria itu. Tapi dia menahan dirinya agar dia bisa membebaskan hatinya dari rasa rindu yang akan menyiksanya.
"Wi, mau kau beri nama siapa anak ini."
"Bayu Malik Ibrahim," jawab Dewi dengan tegas.
"Nama yang bagus....nama panggilannya?"
"Bayu...Bayuku..." kata Dewi parau.
Abi melihat kesedihan dimata wanita itu. Dia mengusap lembut punggung wanita yang sangat dicintainya. Memberi kekuatan agar bisa bangkit dan lepas dari masa lalunya.
"Kau ingin kembali ke tanah air atau tidak Wi?"
tanya Abimanyu.
"Untuk saat ini aku masih ingin tinggal disini saja. Jika kau ingin pulang kembali tidak maslah bagiku aku...." belum selesai Dewi berbicara Abi menaruh jari telunjuknya ke bibir Dewi.
"Kalian adalah keluargaku aku tidak akan pernah meninggalkan kalian hidup sendiri. Aku akan selalu membawa kalian kemanapun aku pergi."
__ADS_1
"Terimakasih Bi..." ucap Dewi ketika melihat ketulusan di mata Abi.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau telah memberikan semua kebahagiaan padaku,"
"Maaf jika aku selalu mengecewakan hatimu.."
"Kau bersamaku saja itu sudah cukup bagiku,"
jawab Abimanyu menepuk kepala Dewi dengan lembut.
"Kau tidak pergi ke kantor Bi?" tanya Dewi.
"Aku ingin cuti beberapa hari menunggumu disini dan menunggu Bayu kecil..." kata Abi sembari menyolek Bayu kecil yang sedang meminum susu dari botol karena susu Bening belum keluar banyak.
"Kau akan memberinya ASI kan Dewi?" tanya Abi khawatir kalau Bayu tidak diberi ASI oleh Dewi.
Dewi tertawa...geli melihat kecemasan di wajah Abi.
"Tentu saja...tadi sudah hanya belum lancar. Dan ini untuk sementara waktu sampai ASIku keluar dengan lancar dan banyak."
"Aku takut kau seperti wanita wanita lain yang tidak menyusui anaknya takut akan merusak aset miliknya,"
"Aku seorang ibu tentu saja akan memberikan terbaik buat putraku,"
__ADS_1
"Aku tahu kau pasti akan menjadi ibu yang hebat untuk anak anakmu." Anak anak kita Wi.
Dewi hanya tersenyum mendengar perkataan Abimanyu.