
Bening menghapus air matanya.
''Kau tahu jika aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu?" tangis Bening. Memukul pelan lengan Wirya.
"Bukankah sudah kukatakan jika aku akan membawa Bayu lagi dalam keadaan selamat," jawab Wirya. Wirya merengkuh tubuh Bening dan memeluknya erat dengan satu lengannya.
"Kakekmu telah meninggal Bening," kata Wirya.
"Oh ... ."Bening mengatakannya tanpa ekspresi. Dia hanya memeriksa Bayu saja.
"Kau tidak terkejut?" tanya Wirya heran serta semua orang yang ada di sana.
"Aku tahu semuanya," jawab Bening singkat, jelas, dan padat membuat semua orang membuka mulutnya. Dia berlalu pergi meninggalkan banyak pertanyaan bagi semua orang.
***
Sudah satu Minggu semenjak kejadian itu. Keluarga Wirya hidup dengan tenang tanpa adanya gangguan dan ketakutan.
__ADS_1
Bayu sempat mengalami berbagai mimpi buruk namun telah diatasi dengan mendatangkan ahli psikiater untuk mengatasi trauma psikisnya karena penculikan itu. Sedangkan Bening dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Berkali-kali Wirya memancing Bening untuk bercerita, namun wanita itu selalu menghindar seolah enggan untuk membuka aib keluarganya sendiri.
Bianca datang ke rumah tepat di hari kedelapan semenjak kejadian itu. Kevin Xu menemaninya.
Wirya duduk di sebelah Bening berhadapan dengan dua orang itu.
"Maafkan ayahku Bening," ucap Bianca.
"Kita tutup saja lembaran kelam ini bibik. Aku tidak menyalahkan siapapun disini, hanya takdir saja yang berbicara," tanggap Bening datar.
Terlihat Kevin menghembuskan nafas lega. "Kau lega Bening?"
"Aku pun senang. Dan aku ikut tenang. Kini aku bisa pergi dengan bebas tanpa takut memikirkan keadaanmu lagi," ungkap Kevin.
"Carilah kebahagiaanmu sendiri Kevin dan aku akan menyerahkan lima puluh persen sahamku untukmu Kevin." Perkataan Bening membuat terkejut semua orang.
"Kau serius sayang?" tanya Wirya.
__ADS_1
Bianca menatap tidak percaya pada Bening.
"Bibik aku sebenarnya tidak ingin harta itu sama sekali hanya saja itu adalah hakku dari nenek dan kakek kandungku. Mau tidak mau aku harus menerimanya dengan baik. Aku sendiri punya suami yang sangat kaya sehingga aku tidak terlalu membutuhkannya." Bening mengelus bahu suaminya. Dan Wirya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Aku juga tidak ingin mengurus perusahaan itu kerena aku sudah sibuk mengurus rumah suamiku ini. Jadi semua hal berkaitan tentang kepemimpinan perusahaan itu aku berikan semuanya pada kau Kevin. Kau selalu melindungiku dari aku masih kecil hingga kemarin. Aku sangat berterimakasih padamu, sungguh aku berhutang nyawa dan balas budi padamu," kata Bening dengan mata yang berkaca-kaca teringat bagaimana perjuangan Kevin dalam usaha menyelamatkannya berkali-kali.
"Dan bibi aku tahu walau kau selalu bersikap acuh padaku kau selalu berusaha untuk melindungiku tanpa mau ada seorang pun yang tahu. Aku mengucapkan banyak terima kasih atas semua kasih sayang yang kau berikan itu. Aku pikir semua orang membenciku, tapi setelah Kevin menceritakan jika kau yang selalu menyuruhnya untuk melindungiku, aku baru tahu jika aku masih mempunyai keluarga yang menyayangiku. Terima kasih untuk semua kasih sayangmu yang tak terlihat itu," ucap Bening mendekati Bianca.
"Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri, semenjak kematian ibu aku tahu jika bukan aku yang akan menyelamatkanmu siapa lagi. Namun aku tidak kuasa untuk melawan semua orang di sana. Maafkan aku, Nak!" kata Bianca mengeluarkan air mata.
"Bolehkah aku menganggapmu sebagai pengganti ibuku yang telah tiada," pinta Bening.
"Aku adalah adik ibumu secara tidak langsung aku pun bertugas sebagai pengganti ibumu. Aku selalu memikirkanmu hingga tidak berkeinginan untuk menikah karena terlalu mengkhawatirkanmu,'' kata Bianca.
"Terima kasih, bibik, eh Ibu?" Kata Bening lalu memeluk Bianca lagi.
"Anakku akhirnya aku bisa memelukmu lagi," ucap Bianca.
__ADS_1
"Sekarang kita memulai lembaran baru dengan bahagia," ucap Wirya disertai anggukan semua orang.
~Tamat~