Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
Pesta yang direncanakan


__ADS_3

Pesta anniversary pernikahan Rudy yang pertama dilangsungkan di Shangrilla hotel. Suasana terlihat sangat meriah dan elegan. Roti dengan susunan kue yang tinggi dihiasi oleh krim putih berbentuk bunga juga boneka sepasang kekasih yang menjadi ikon kue itu.


Tema malam ini adalah pesta topeng, bukan tanpa sebab tema ini dipilih. Ini adalah tema khusus pilihan Wirya dan dengan perjanjian dia yang akan membayar sewa biaya hotel itu.


"Kau menunggu siapa paman?" tanya Rudy pada pamannya itu. Anak dari kakak iparnya.


"Seseorang..." jawab Wirya sambil tersenyum cerah,


"Wah! Sepertinya orang spesial, aku jadi penasaran seperti apa dia?" kata Rudy sembari menyesap minumannya.


Pintu terbuka menampilkan sepasang pria dan wanita yang berjalan bergandengan tangan. Si pria memakai jas lengkap dan Sang wanita memakai pakaian berenda hitam, pada sisi bawah rok, kain yang menutupi kakinya sangat tipis seperti sayap jangkrik sehingga kakinya yang putih dan panjang tercetak jelas. Sepasang sepatu berwarna perak menghiasi kakinya.


Sebagian bahunya terbuka sebagian lagi tertutup memanjang menutupi tangannya.


Rambutnya yang hitam bergelombang, diikat ke samping. Sehingga sangat kontras dengan bahunya yang putih dan bersih. Wirya tersenyum melihat kehadiran Bening walau sebagian wajahnya tertutup oleh topeng berbulu merak tapi Wirya masih sangat mengenalinya.


Rudy melihat pergerakan mata Wirya yang tidak lepas dari sosok wanita bergaun hitam itu. Rupanya wanita itu yang dipuja mantan cassanova dari keluarga Malik. Tapi bukankah dia istri dari Abi, pantas saja jika Wirya menyuruhnya mengundang Abi. Rupanya pamannya sedang bermain main dengan api.


"Kau menyukai istri dari relasi bisnismu..kau keterlaluan paman?"


"Dia bukan istrinya dia istriku,..." jawab Wirya berjalan ke arah Bening. Rudy hanya bisa membuka mulutnya tidak mengerti tentang kisah percintaan pamannya.


"Ku rasa aku harus bertanya pada Lovely mengenai ini," gumam Rudy. Dia berjalan mengikuti arah pamannya melangkah, untuk menyapa tamunya yang baru tiba. Tangannya melambai pada Tiara yang sedang sibuk dengan Mentari, ( Hayoo kok mentari ada ditangan Rudy... nantikan kelanjutannya di ONWC)


Dengan menggandeng tangan mungil Mentari, Tiara mendekati Rudy.


"Ada apa kau memanggilku aku sedang bersama teman temanku, mereka mengagumi putri kecil ini," kata Tiara.


"Di mana kakakmu Rimba, Sayang..?" tanya Rudy pada Mentari. Mentari hanya menunjuk tangannya ke arah di mana Rimba sedang bermain bersama teman temannya.


"Ayo kita akan menemui tamu istimewa kita," bisik Rudy di telinga Tiara. Mata Tiara menyiratkan kebingungan. " Tamu yang membuat kita tidak membayar uang sewa gedung ini," lanjut Rudy lagi.

__ADS_1


Tangan Tiara menutup mulutnya. Wanita yabg membuat paman Wirya tergila gila. Dia juga penasaran seperti apa dia.


Rudy menuntun Tiara menuju Bening dan Abi yang sedang berdiri berbincang dengan para relasi relasinya. Wirya sendiri berdiri di meja bar melihat ke arah mereka.


"Selamat datang tuan Abi terima kasih karena mau hadir ke acara ini," Sapa Rudy pada tamunya. "Kenalkan ini istri saya Tiara dan ini putri kecil kami Mentari,"


"Seorang anak yang cantik dan lucu," kata Abi. "Dan ini Dewi istri saya," kata Abi sembari melihat ke arah Bening. Bening lalu menerima uluran tangan kedua orang itu.


Lalu Abi berbincang bincang dengan Rudy, sedangkan Tiara membawa Bening ke sisi lain ruangan bergabung dengan para wanita yang lain. Sesuai rencana yang disiapkan oleh Wirya memisahkan kedua orang itu.


Tiara dan Bening berbicara panjang lebar mengenai anak. Di saat itu pula Wirya mendekat, bagai Singa yang sedang menghampiri mangsanya pelan namun pasti.


Tiara lalu memanggil pamannya untuk mendekat.


"Kenalkan ini pamanku, paman Wirya," kata Tiara pada Bening. Bening sendiri terkejut karena Wirya sudah ada dibelakangnya, dadanya turun naik merasakan jantungnya yang berdetak lebih keras. Dia tidak berani untuk menoleh, bau tubuh pria itu saja sudah mengorak ngarik kesadarannya.


Ingin rasanya Bening mempunyai kemampuan menghilang seperti para pesulap di televisi tapi sayang dia hanya bisa terpaku di tempat ini.


Kini Bening tidak bisa lari lagi. Dengan keberanian yang dikumpulkannya dia menatap Wirya, tidak dia tidak tahan dengan mata yang menatapnya penuh kerinduan.


"Sepertinya anda salah orang tuan," kata Beming berusaha untuk menghindari Wirya tapi satu tangan Wirya memegang pinggang Bening posesif.


"Aku tidak mungkin salah mengenali istriku," kata Wirya di telinga Bening membuat kuduk wanita itu meremang. Dirinya ingin mendorong tubuh Wirya dan pergi dari tempat itu secepatnya tapi tubuhnya berkata lain.Dia menyukai dan merindukan pelukan pria di hadapannya.


Kedua tanganya berada di dada Wirya, menahan berusaha tubuhnya agar tidak menempel langsung dengan tubuh pria itu.


"Ini tempat umum, tuan Wirya yang terhormat. tidak baik jika anda berbuat seperti ini."


"Haruskah aku membawamu ke kamar agar kita bisa bergerak bebas untuk mengungkapkan kerinduan di hati."


"Aku rasa itu tidak perlu, sebaiknya aku akan pergi saja." kata Bening berusaha keluar dari pelukan Wirya.

__ADS_1


"Ikutlah denganku aku ingin berbicara padamu,"


"Kurasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Bukankah sudah kukatakan pada kakakmu jika aku ingin pergi dari kehidupanmu."


"Aku akan menggendongmu atau kau akan pergi denganku tanpa menimbulkan keributan," tegas Wirya membuat pemberontakan Bening berhenti. Di saat itu Wirya melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Bening membawanya keluar dari ruangan itu ke kamar atas hotel yang sudah disiapkannya. Sesampainya di kamar president suits Wirya mendorong tubuh Bening masuk ke dalam.


"Apa yang kau inginkan..." kata Bening kesal. Wirya hanya menutup pintu menguncinya dan mengambil kartu akses kamar, meletakkan kartu itu di jasnya.


Bening masih bersikap wanita yang elegan dan anggun. Dia duduk di salah satu sofa menumpu kakinya pada kaki satunya. Tangannya dilipat diatas pahanya yang terlihat transparant.


"Kau mau minum..." tanya Wirya.


"Tidak aku tidak menyukai alkohol,"


"Oh, ya... kau sekarang terlihat berbeda lebih matang dalam hal apapun." Wirya lalu berjalan ke meja bar dan menuang segelas wine.


"Kau juga terlihat berbeda dengan Wirya yang dahulu..." jawab Bening. Mendengar ucapan Bening, Wirya menghentikan menuangkan minumannya sejenak dan tersenyum. Pria itu membalikkan badan menuju ke arah Bening. Dia menyerahkan satu gelas wine pada Bening.


"Peganglah siapa tahu kau haus dan ingin meminumnya nanti." kata Wirya.


"Aku ingin kembali ke pesta itu?"


"Kita bahkan belum membicarakan masalah kita dan kau ingin pergi saja?"


"Apa yang harus dibicarakan lagi,hubungan kita sudah lama tidak ada..."


"Kenapa...katakan alasannya agar aku bisa meninggalkanmu dengan alasan yang tepat."


"Aku sudah mencintai pria lain, dan aku juga sudah mempunyai anak darinya,"


"Ha...ha...Kau bisa membohongi dunia tapi tidak denganku Bening Dewi," kata Wirya dihadapan wajah Bening, sangat dekat jarak wajah mereka sehingga nafas pria itu menerpa wajah Bening. Bau mint yang keluar sejenak membuat Bening terlena dan memejamkan matanya. " Aku merindukan ini," batin Bening yang bergejolak.

__ADS_1


__ADS_2