
Bening dibuat kesal dengan ulah Bayu, anak itu bermain main hingga malam hari. Sudah berksli kali dia menyuruh Bayu untuk tidur namun anak itu rupanya enggan untuk menurutinya.
"Bayu ini sudah malam, ibu sudah ngantuk sekali..." kata Bening sembari mengusap air mata yang keluar akibat kantuknya itu.
"Nanti dulu bu, aku belum ngantuk. Ibu lihat permainan ini...aku sudah menang lawan tyrex yang jahat," ungkap Bayu memperlihatkan gadgetnya yang menampilkan gambar kemenangan anak itu dari permainan anak yang dimainkannya.
"Bayu ibu sudah nggak tahan lagi, ini sudah hampir jam dua belas malam dan kau belum tidur."
Bayu kembali asik bermain gadgetnya, mungkin karena anak ini tidur hingga sore hari sehingga diwaktu malam matanya masih terlihat segar berbeda dengan Bening yang merah matanya akibat rasa kantuk yang menyerangnya.
Akhirnya Bening tanpa sadar tertidur di ruang tengah, melihat ibunya sudah tidur Bayu ikut tidur pula dipangkuan ibunya.
Abi yang baru pulang dari aktifitas malamnha melihat Bayu dan Bening tertidur pulas diruang tengah. Dia tersenyum melihat keduanya, dia tidak bisa membayangkan jika kedua orang itu hidup terpisah darinya. Tidak...hatinya tidak ingin jika dua orang itu pergi dari hidupnya.
Abi membenarkan surai surai rambut yang menutupi wajah Bening. Meletakkannya di telinga wanita itu. Pergerakan Abi membuat Bening terkejut dia lantas membuka matanya dan melihat bahwa Bayu sudah tertidur di pangkuannya.
"Sudah biar aku saja yang membawanya masuk ke kamar kau pergi tidurlah di kamarmu," kata Abi pada Bening.
"Terimakasih Bi, maaf aku telah merepotkanmu,"
"Kau adalah bagian dari keluarga ini dan aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu, bahagiamu adalah senyum untukku." jawab Abi.
Bening mengernyitkan dahinya, mendengar perkataan Abi. Tiba tiba dia mengambil bantal dan memukulnya di punggung Abi.
__ADS_1
"Kau itu kenapa, akhir akhir ini kau tidak seperti dahulu, kau sekarang aneh. Bersikaplah seperti biasanya?"
"Kalau dulu aku tidak takut kehilanganmu kini aku benar benar takut kau akan pergi dariku... menikahlah denganku, aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik bagi mu dan Bayu."
"Sudah kukatakan aku tidak mau menikahimu kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, buanglah fikiran konyolmu itu, carilah wanita yang baik yang bisa kau jadikan istri."
"Aku hanya ingin dirimu..." kata Abi,
"Sudah akh...aku mau keatas, kau bawalah Bayu ke kamarnya." kata Bening yang segera bangkit dan naik ke atas.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan pembicaraan mereka dari tadi. Pria itu tersenyum, Beningnya tidak akan mungkin mengkhianatinya dan dia percaya hatinya itu. Karena hatinya dan Bening itu satu saling berkaitan.
Wirya lalu masuk ke dalam kamar Bening. Dan bersembunyi disana. Bening sendiri masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Dia lalu membuka jubah bajunya dan hanya menampilkan baju sutera pendek dengan lengan spageti memperlihatkan dua pahanya yang mulus dan dua buah gunung kembar yang terlihat menantang. Dibalik tempat persembunyiannya Wirya menelan salivanya kuat kuat melihat penampilan Bening yang terlihat menggiurkan.
Semilir angin membawa aroma parfum Wirya ke hidung Bening, bau itu kini hadir nyata. Arau karena dia yang terlalu merindukannya sehingga dia mencium bau parfum chinnamons... bau khas Wirya yang membuat kesan sensual dan sangat disukai oleh Bening.
Bening mengambil baju milik Wirya dan seperti biasa meletakkannya di sampingnya tapi dia tidak menciumnya karena dia sudah mencium aroma itu.
"Andai kau ada disini aku akan memelukmu," ucap lirih Bening yang masih terdengar di telinga Wirya. Wanita itu terlihat memejamkan mata dengan baju kusut di bawah pipinya. Sebuah senyuman tersungging dibibir wanita itu.
Setelah yakin jika wanita itu telah masuk ke alam mimpi Wirya duduk disisi Bening mengambil baju itu. Walau dia lupa akan baju itu tapi dia yakin jika itu adalah baju miliknya, dilihat dari besar pakaian yang tidak biasa dipakai oleh warga negara asli sini. Dia masih mempunyai darah orang Turkey, mempunyai porporsi tubuh yang tinggi dan besar.Sama seperti baju itu yang terlihat besar.
Wirya lalu berbaring disisi Bening, menyibak rambut yang menutupinya. Bibir Bening yang terbuka sedikit mengundang niat Wirya untuk menciumnya. Namun dia tahan karena tidak ingin mengganggu tidur wanita itu dan membuatnya terbangun.
__ADS_1
"Kau ingin aku memelukmu, aku akan melakukannya." kata Wirya lirih. Lelaki itu lalu memeluk tubuh mungil Bening. Dan wanita itu langsung bergerak, Wirya panik jika wanita itu akan bangun dan melihatnya. Namun bukannya bangun Bening malah menguselkan hidungnya di dada pria itu. Dia seperti menemukan kenyamanan disana.
Sedangkan di alam mimpinya Bening merasa berada dalam pelukan Wirya, dia menghirup aroma itu, aroma yang selalu bisa membuatnya tenang.
"Aku merindukanmu...sangat merindukanmu," gumam Bening tanpa sadar.
"Jika kau merindukan aku mengapa kau pergi dariku, aku ingin mendengar sendiri alasanmu meninggalkanku. Aku akan menunggumu datang padaku setelah kau sendiri yakin bahwa hanya aku yang kau butuhkan. Jika itu terjadi kau tidak akan meragukan aku dan pergi lagi dariku." lirih Wirya sembari memeluk Bening.
Kini setelah berhari hari Wirya akhirnya bisa tidur. Sudah beberapa hari ini dia tidak pernah menutup matanya. Bayangan Bening akan selalu datang dan menyiksa hatinya jika matanya tertutup.
Kini mereka berdua tidur dengan saling berpelukan, tidak lama karena tiga jam kemudian Wirya bangun. Dia mencium pucuk rambut Bening dan berbisik di telinganya.
"Aku mencintaimu sayang... datanglah padaku, aku menunggumu," ucap Wirya dan mengecup ringan bibir Bening. Dan pergi melewati balkon kamar Bening.
Bening sendiri mengerjapkan matanya seusai dikecup oleh Wirya. Dia merasa kehilangan kehangatan yang tadi dirasakannya. Dan lagi bau parfum Wirya masih terasa diruangan ini. Dia pasti telah gila karena merindukannya.
Mungkinkah pria itu tadi kemari dan memeluknya, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Tapi kecupan itu terasa nyata dibibirnya. Dia menggigit bibirnya, tersenyum, dia ingin melanjutkan mimpinya itu.
Bening lalu memejamkan matanya lagi, hanya melanjutkan mimpi indahnya malam ini dan tidak ingin terbangun dari mimpinya.
Wirya sendiri menembus dinginnya pagi dengan kehangatan yang tersimpan didadanya. Dia merasa sangat senang pertanyaannya tentang perasaan dan status Bening kini telah dia ketahui jawabannya.
Kini dia hanya ingin menyelidiki siapa yaanh berani ingin mencelakai istrinya itu....
__ADS_1