Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
A Question


__ADS_3

"Sudah siapkah kita dan mampukah kita mencintai hingga melakukan pengorbanan, sebab hidup tidak indah tanpa adanya cinta, hidup akan terasa sia sia tanpa adanya pengorbanan, jika tanpa pengorbanan ujung ujungnya hanya akan ada penyesalan."


Bening


...****************...


Bening sendiri sudah mempersiapkan diri untuk moment ini, dia sudah tahu entah kapan Wirya pasti akan menemuinya dan meminta penjelasan darinya. Bukan sebuah alasan yang membuatnya sulit untuk menjawab tapi daya tarik Wirya yang membuatnya terbuai untuk selalu berada dalam pelukannya.


Sejenak Bening menutup matanya, dia terlalu menikmati moment ini. Akankah waktu bisa berbaik hati, berhenti untuk sesaat saja. Perasaan ini membuatnya gila.


Ciit...Brukk... Bayangan dimana mereka mengalami kecelakaan membuat Bening tersadar dari buaian hasratnya. Hidung mereka telah bersentuhan, serta merta Bening malingkan wajahnya, ciuman itu hanya mendarat di udara saja.


Wirya terkejut jika Bening berusaha menolaknya. Dia tahu jika wanita sangat merindukannya tapi apa yang membuat wanita itu begitu berubah dalam sepersekian detik saja.


"Hentikan ini semua aku ingin kembali pada Abi,"


Wirya benci sekali jika Bening menyebut nama pria lain di tengah hubungan mereka. Wirya memundurkan tubuhnya menyugar rambutnya kasar.


"Abi...Abi...apa yang bisa diberikannya yang tidak bisa kuberikan padamu..." kata Wirya dengan nada yang tinggi.


"Bahkan akan kuberikan dunia ini jika kau menyuruhku melakukannya,"


"Aku tahu kau bisa memberikan semuanya padaku dan aku tidak meragukannya, tapi hatiku merasa nyaman dan aman didekatnya."


"Karena rasa itu kau meninggalkanku? karena kau merasa bahwa aku tidak bisa melindungimu dan Abi bisa melindungimu? ha..ha...itu sangat lucu Bening Dewi, bahkan aku rela melindungimu meski nyawaku taruhannya."


Bening hanya diam. Mungkin rasa kecewa Wirya baik untuk pria itu dari pada dia hidup bersama dan nyawanya yang menjadi taruhan. Dia tidak meragukan rasa cinta Wirya dia hanya meragukan dirinya sendiri.


"Lupakanlah aku dan hidup yang pernah kita lalui bersama, semua kulakukan untuk kebaikan kita bersama," kata Bening dengan nada bergetar.

__ADS_1


Tangan Wirya kini berada di kanan dan kiri Bening wajahnya berada dekat dengan Bening. Tatapan matanya yang tajam dan penuh marah bagai menusuk mata hingga relung hatinya terdalam.


Bening tetap berusaha tenang dan mengendalikan emosinya, dia ingin menangis tapi ditahannya setengah mati.


Ingin Wirya masuk ke dalam mata wanita itu dan melihat semua isi hatinya. Apa yang membuat wanita ini ingin pergi darinya sedangkan dia yakin wanita ini menatapnya dengan penuh cinta.


Mudah baginya menakhlukkan seribu wanita tapi satu wanita ini membuat dirinya bertekuk lutut untuk mengemis cinta.


"Katakan kebaikan apa yang kau peroleh jika pergi dariku dan kebaikan apa yang aku peroleh jika kau meninggalkanku," kata Wirya lirih setengah serak, bisa terlihat rasa sakit di hati Wirya lewat getaran suaranya.


"Aku tidak tahu...tapi selama ini aku bisa hidup aman dan nyaman tanpamu, kau pun bisa hidup baik tanpaku,"


"Hidup baik...aku bahkan seperti mayat hidup tanpamu... kau sendiri tidak ada disaat aku menbutuhkanmu...alasan apa yang membuatmu melakukan itu, sungguh aku dibuat mati penasaran karena satu alasan yang tidak mau kau ucapkan."


Bening memalingkan wajahnya air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, buliran mutiara jatuh di kulitnya yang putih dan mulus itu.


Melihat Bening menangis membuat Wirya tidak tega untuk terus menekannya. Dia tidak bisa melihat wanita yang sangat dicintainya itu bersedih.


"Jangan menangis...aku tidak bisa melihat kau mengeluarkan air mata, itu seperti menyakiti diriku sendiri. Aku tidak akan bertanya lagi jika itu bisa membuat kau menghentikan tangismu," ucap Wirya dan menempelkan dahinya di dahi Bening.


Tapi perlakuan dan perkataan Wirya malah membuat Bening semakin sedih rasa bersalahnya semakin dalam karena menyakiti pria itu.


"Biarkan aku pulang, tapi sebelum itu aku ingin berada dalam pelukanmu hanya sesaat,"


"Kenapa hanya sesaat kau bisa memelukku semaumu," jawab Wirya sembari tersenyum di sela sela air matanya.


Lama keduanya berpelukan dan menangis bersama.


Belum Wirya puas mendapatkan pelukan dari Bening, lalu Bening melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu tapi aku kira kau juga sudah mengetahui kalau Bayu adalah anakmu,"


"Aku hanya menunggu kau sendiri yang mengatakan itu padaku, terimakasih karena telah menjaganya dengan baik selama ini dan maafkan aku karena tidak bisa menemanimu disaat kau membutuhkan aku,"


Bening hanya tersenyum sembari mengelap pipinya yang basah karena air mata.


"Dia sangat mirip denganku kan? Awalnya aku hanya merasa tidak asing dengan wajahnya tapi setelah tahu bahwa kau adalah ibunya aku yakin jika dia itu anakku."


"Kau bisa menemuinya jika kau mau..." lanjut Bening.


"Bolehkah aku membawanya ikut bersamaku kau bisa hidup bersama Abi dan Bayu akan bersamaku,"


"Tidak aku yang telah melahirkannya dan aku juga yang membesarkannya," kata Bening,


"Aku bisa saja memaksa untuk membawa Bayu ikut bersamaku tapi aku ingin kau datang sendiri padaku dengan anakmu. Aku ingin menjadi satu satunya pria yang bisa kau percaya untuk menjaga dan melindungimu. Aku akan menunggu hingga saat itu tiba." kata Wirya dengan seulas senyum tulus.


"Sebaiknya aku kembali ke bawah mungkin Abi menungguku," ucap Bening berdiri dan melangkah keluar tapi tangan Wirya menariknya dan dalam waktu singkat pria itu mencium bibirnya.


Bening hanya diam tidak membalas ciuman itu,takut dengan perasaannya sendiri. Tangannya mendorong pelan dada bidang Wirya. Mereka pun melepas ciuman itu. Jemari Wirya menyentuh bibir Bening yang belepotan akibat ciuman lama yang Wirya lakukan.


"Hari ini aku hanya ingin satu ciuman darimu saja, lain kali kau harus memberikan tugasmu sebagai istri padaku, kita belum bercerai Bening."


Bening hanya menatap tidak percaya dengan apa yang dia dengar, statusnya memang masih istri Wirya dan pria itu berhak untuk memintanya. Tapi mereka sudah berpisah bertahun tahun lamanya apakah pernikahan itu masih bisa disebut pernikahan?


Wirya lantas membenarkan rambut Bening yang sedikit berantakan. Sebuah perhatian kecil yang membuat jantung wanita itu berdetak lebih kencang. Nampaknya ada badai di dadanya yang membuat suara gemuruh di dalam sana.


Wirya membukakan pintu bagi wanita itu tapi mereka terkejut dengan sosok yang berdiri bersandar pada dinding sebelah pintu. Asap mengepul dari mulutnya.


"Apakah kau sudah menyelesaikan masalahmu jika sudah sebaiknya kita kembali ini sudah malam," kata Abi tenang.

__ADS_1


Ada nada ketidak sukaan yang keluar dari mulut Abi. Dan itu bisa ditangkap oleh dua insan manusia di hadapannya.


Bening hanya diam tapi tangan Abi menariknya dan meninggalkan Wirya sendiri.


__ADS_2