Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
Hamil


__ADS_3

Wirya memeluk tubuh Bening dan mengecup keningnya.


"Kau pasti sedang hamil. Kau hamil sayang? Kata Wirya mengangkat tubuh kecil Bening dan memutarnya.


Setelah itu dia memeluk tubuh Bening dengan erat. Menciumi kepala Bening berkali kali.


"Aku belum bisa memastikan apakah aku hamil atau tidak?" kata Bening.


"Kau pasti hamil dan aku bisa merasakannya," kata Wirya.


Bening mendongakkan kepalanya melihat wajah Wirya.


"Apakah kau bahagia?" tanya Bening. Satu ciuman Wirya mendarat di pipinya.


"Aku sangat bahagia, terimakasih sayang ini kado terindah yang kau berikan padaku," kata Wirya lalu mencium bibir mungil nan merah milik Bening.


"Aku sangat mencintaimu," kata Wirya.


"Aku juga tapi jika kau bersikap seperti ini terus akhirnya kita hanya akan berada disini saja," gerutu Bening.


"Aku lupa sayang kita harus segera bersiap siap ke rumah kakekmu."


"Kau menghancurkan riasanku," kata Bening memperhatikan lipstiknya yang berada di bibir Wirya. Dia mengusap lembut menghapusnya.


"Kau tengok dulu Bayu, apakah dia sudah bersiap juga?" kata Bening. Wirya akhirnya melepaskan pelukannya pada Bening.


"Kita akan melanjutkannya nanti malam kau bersiaplah," bisik Wirya di telinga Bening. Wanita itu lalu mencubit pinggang liat milik Wirya.


"Sakit sayang," kata Wirya mengeliat dan pergi dari kamar mereka.


Wirya masuk ke kamar Bayu anak itu sedang asik merangkai robot yang kemarin belum mereka selesaikan.


"Kau bisa ,Nak?" tanya Wirya mendekati Bayu.


"Ini susah aku kesulitan untuk memasangnya,"


"Tapi robot ciptaanmu ini unik sayang," puji Wirya.


"Berarti akan jadi robot versi terbaru, Om?" tanya Bayu lagi antusias sembari mengamati robotnya.


"Bayu bolehkah Om minta sesuatu darimu?" tanya Wirya hati hati. Dia sedih jika mendengar Bayu menyebutnya om.


"Om mau apa? Semua mainan ini pun punya anak om, Bayu tidak punya apa apa," tanya Bayu polos. Wirya memangku Bayu.

__ADS_1


"Bayu mau tidak anggap Om sebagai Ayah Bayu, kalau Bayu mau Om semua ini akan menjadi milik Bayu dan Bayu minta apa saja Om akan berikan,"


"Tapi Bayu itu anak daddy." kata Bayu.


"Daddy masih jadi ayah Bayu hanya saja jika Bayu mau memanggil Om dengan sebutan ayah, Om akan sangat senang sekali."


Mata bulat milik Bayu melihat ke arah Wirya. Seperti mencari sesuatu.


"Berarti Bayu mempunyai dua daddy satu daddy Bayu satu ayah Bayu, begitu Om?" tanya Bayu bingung.


"Ya seperti itu," jawab Wirya.


"Daddy akan marah tidak?" tanya Bayu lagi.


"Daddy pasti tidak akan marah karena Daddy Abi tetap jadi daddy dan om akan jadi ayah Bayu, itu beda kan?" kat Wirya sembari tertawa kecil dan mengusap air mata yang hampir saja keluar dari pelupuk matanya.


"Anak om marah atau tidak kalau dia kembali lagi kemari?" tanya Bayu lagi.


"Tidak dia pasti akan sangat bahagia,"


"Baiklah aku akan oanggil om de ... ngan sebutan Ayah," kata Bayu lalu kembali lagi memperhatikan mainannya.


"Coba katakan lagi Nak ayah ingin mendengar kau memanggilku ayah," kata Wirya.


Bayu melihat mata Wirya yang berharap sangat.


"Terima kasih sayang?" kata Wirya lalu memeluk Bayu dengan sangat erat. Impiannya untuk bisa dipanggil ayah akhirnya terlaksana juga. Bening yang masih berdiri di pintu ikut meneteskan air mata melihat kebersamaan mereka.


Wirya melihat Bening berdiri di pintu.


"Sayang kau melihatnya dia memanggilku ayah," kata Wirya bergetar. Bening menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekat lalu memeluk tubuh keduanya. Tangis bahagia terpancar dari keduanya. Bayu sendiri hanya memandangi orang tuanya dengan bingung. Mengapa mereka menangis, benak Bayu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rumah yang sangat menyeramkan, batin Bening. Bukan karena ini rumah berhantu tapi disini banyak sekali kenangan buruk yang masih Bening simpan rapat di benaknya.


Wirya mengapit tangan Bening dalam lengannya dan satu tangannya lagi menggendong Bayu memasuki pintu rumah keluarga Bening.


Kakek Bening duduk di kursi kebesarannya sedangkan Arnold duduk di sebelah ayahnya. Dia nampak masih dingin. Sedangkan kedua bibinya mendekat ke arah Bening.


"Bagaimana keadaanmu Bening?" tanya Bianca lembut tidak pernah bibinya berkata sebaik itu kecuali sebelum neneknya meninggal dunia.


"Keadaanku baik baik saja tante," jawab Bening membalas pelukan Bianca.

__ADS_1


"Sayangku, Bening. Sudah lama sekali tante tidak melihatmu semenjak kecelakaan yang menimpa kalian?" sapa Dewinta pada Bening.


"Ya, tante sudah lama sekali. Bahkan terlalu lama aku terpisah dari kalian." Jawab Bening melirik pada kakeknya.


"Kau beruntung Bening memiliki suami setia seperti Wirya ini. Walau kau sudah meninggalkannya selama beberapa tahun dia tetap saja setia menunggumu kembali," sindir Dewinta pada Bening. Bening memeluk lengan Wirya lagi.


"Aku yang beruntung Tante Dewinta menikahi keponakanmu yang cantik ini. Dia telah membesarkan anakku ini dengan baik dan dia juga sangat setia padaku. Mungkin jodoh tidak akan kemana mana," sambung Wirya membuat muka Dewinta merebak tidak senang. Bianca hanya menyembunyikan tawanya saja.


Setelah itu Bening mendekati kakeknya. "Kakek" sapa Bening sembari mengambil tangan kakeknya dan mencium punggung tangan keriput itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya kakek dingin.


"Aku bahagia sangat bahagia, semoga kau bisa ikut bahagia atas kebahagiaanku," Jawab Bening.


"Kau berkata apa Bening tentu saja kami sangat berbahagia atas kebahagiaanmu itu," jawab Dewinta sembari berdiri di belakang ayahnya.


"Itu anakmu Bening," kata Kakek dengan kharisma tinggi.


"Ya namanya, Bayu." kata Bening sembari mengambil dari gendongan Wirya.


"Bayu salaman dengan kakek buyut dan beri salam yang baik,"


"Bayu tidak mau, Bu," ujar Bayu menyembunyikan diri di dada Bening.


"Sudahlah jangan memaksa," ujar kakeknya.


"Kek," sapa Wirya lalu menyalimi kakek Bening.


"Beri salam pada Ommu, Bening." perintah kakek.


Dengan langkah berat Bening mendekat oada Arnold. Kini dia sudah bukan Bening kecil yang lemah seperti dulu. Kini dia adalah Bening Dewi istri dari Wirya Malik apalagi yang akan ditakutinya kini. Jika dulu dia tidak tahu siapa sosok suaminya kini dia tahu bahwa suaminya pasti akan bisa menyelesaikan masalahnya dengan hanya menjentikkan jarinya.


"Paman?" sapa Bening pada pria paruh baya yang masih terlihat tampan ini. Kata kakek dulu ibu pamannya adalah orang Hongkong jadi wajahnya terlihat oriental di banding dengan bibinya Bianca. Walau sudah berumur tapi tubuhnya terlihat masih atletis.


"Bagaimana kabarmu setelah kembali dari Amerika Bening?" tanya pamannya, hawa dingin tiba tiba menguar dalam suaranya yang berat.


"Seperti yang kau lihat kami baik baik saja, PAMAN" jawab Wirya tidak kalah kharismanya. Walau tidak terjadi pertikaian tapi hawa permusuhan terlihat jelas.


"Syukurlah jika kalian MASIH baik baik saja," kata Arnould.


"Tentu saja, semua berkat doa dari kalian," jawab Wirya.


Setelah semua basa basi yang berjalan sangat lambat Wirya mulai ke titik utama pertemuan ini. Bahasan yang sebenarnya Bening tidak tahu sama sekali.

__ADS_1


"Sebenarnya kami kemari untuk meminta hak waris dari Bening yang diberikan neneknya,"


Wirya membangunkan ular piton di sarangnya. Akankah dia selamat beserta keluarganya?


__ADS_2