
"Berapa lama kau berada di luar pintu tadi," tanya Bening di tengah tengah perjalanan mereka.
"Sudah dua jam aku berdiri disitu dan tidak ada suara yang bisa membuatku berfikir bahwa kau dalam keadaan terpojok. Sepertinya kau menikmati pertemuan dengan mantan eh bukan, suami ya dia masih suamimu itu," ucap Abi dengan nada tidak suka.
Bening menghela nafas panjangnya, dia tahu ada kecemburuan dalam nada suara Abi.
"Kau marah?" tanya Bening,
"Punya hak apa aku cemburu?" tanya Abi balik.
Mereka kembali terdiam, hanya terdengar suara nafas berat Abi sesekali.
"Aku fikir ada baiknya jika waktu itu kau tidak mengajakku kembali ke negara ini, kita bisa hidup damai disana?" kata Bening tiba tiba. Abi terkejut mendengarnya.
"Aku tidak salah dengar Wi, itu seperti kau memberi harapan pada hubungan kita ini."
"Aku tidak membicarakan tentang hubungan kita tapi kemarin kemarin terasa nyaman, tidak ada masalah yang berarti. Dan setelah kita menginjakkan kaki di negara ini, masalah masalah mulai menghampiri. Entah sampai kapan aku akan bertahan?" kata Bening. Tanpa dia sadari buliran bening air matanya mulai memberontak keluar.
Tangan Abi menyentuh punggung tangan Bening. Mengusapnya perlahan.
"Aku akan selalu berada disisimu, kapanpun kau membutuhkan aku," kata Abi.
"Aku tahu itu Bi, tapi aku berharap kau menemukan wanita yang lebih baik dari pada diriku ini. Wanita yang bisa mencintaimu sepenuh hati." Doa Bening untuk Abi.
"Yang ku tahu kau yang terbaik untukku Wi,"
"Yang terbaik belum tentu baik. Tapi yang mencintaimu pasti akan melakukan yang terbaik untukmu, percaya padaku dicintai itu lebih baik dari pada mencintai,"
"Kau selalu pandai dalam bermain kata kata Wi, aku selalu kalah bila berdebat denganmu," kata Abi tersenyum getir. Getir karena sekali lagi secara tidak langsung Bening menolak cintanya.
"Apakah kau akan kembali pada suamimu itu?" tanya Abi, memastikan perjuangan cintanya harus kandas atau lanjut.
Bening hanya diam melihat kelap kelip lampu mobil di depannya. Lidahnya kaku untuk menjawab pertanyaan Abi. Mau menjawab tidak tapi hatinya merindukan pria itu, mau menjawab iya, dia takut dengan kemungkinan yang akan terjadi.
Melihat Bening yang hanya terdiam. Abi bisa menyimpulkan bahwa wanita itu masih ragu akan pilihannya. Wanita itu masih mencintai suaminya hanya saja ada sebuah tembok besar yang menjadi penghalang kisah cinta mereka.
__ADS_1
Mobil telah sampai di pekarangan rumah. Satpam rumah berlari tergopoh gopoh mendekati mobil dan membukakan pintu bagi majikannya itu.
"Aku pergi keatas dulu melihat keadaan Bayu," kata Bening segera naik ke atas melihat keadaan anaknya.
Bayu terlihat sudah tidur nyenyak, Bening membenarkan selimutnya dan pergi ke kamarnya sendiri.
Seperti biasa dia membersihkan diri dan baru pergi tidur setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur berbahan tipis. Udara Jakarta malam ini terasa panas untuknya dan dia ingin agar bajunya tidak membuatnya gerah.
Bening mengambil baju Wirya dari dalam nakasnya dan menciumnya. Dia merasa sedikit aneh, baju itu kini tercium lebih harum dari biasanya. Dan setiap malam dia merasa tidur dengan nyaman, seolah dia tidur bersama Wirya seperti dahulu, sewaktu mereka masih tinggal bersama.
Akh...itu tidak mungkin batin Bening. Wanita itu kembali tertidur dengan lelap. Pukul dua dini hari, dia terbangun dari mimpinya. Mimpi yang sama tentang kecelakaan itu.
Matanya terbuka lebar, alangkah terkejutnya dia pada pemandangan di hadapannya.
Satu detik
dua detik
tiga detik... sebuah kecupan mampir di bibirnya. Tidak lama sebuah tangan membelai wajahnya. Bening tidak ingin mengerjapkan matanya, takut ini hanya mimpi dan sosok dihadapannya itu menghilang tiba tiba.
Tapi sentuhan itu begitu nyata, Bening terhenyak. Sebelum Bening berteriak mulutnya sudah dicium oleh sosok itu.
Bibir Wirya membekap mulut Bening, tubuhnya kini mengungkung wanita itu dan bergerak sensual, membuat sentuhan di kulit Bening yang terbuka.
Awalnya Bening menolaknya tapi lelaki itu begitu pandai merayu bibirnya dan membuat wanita yang lama tidak tersentuh itu hanyut oleh perasaan. Dia malah mengalungkan leher pria itu dan menyambut ciuman lelaki itu.
Wirya sendiri telah masuk pada titik dimana libidonya naik dengan tajam. Tapi alarm dirinya mengingatkan untuk menghentikan semuanya, dia ingin wanita itu yang akan datang kembali ke rumah karena merindukannya. Wirya menghentikan ciuman panas itu.
Bening sendiri sudah mulai terbuai dan menikmati setiap sentuhan pada tubuhnya. Tapi tiba tiba Wirya menghentikan kegiatan mereka. Dia ingin merasa kecewa tapi dia menahan dirinya. Hanya bibirnya saja yang dia gigit untuk meredakan hasrat yang sudah diubun ubun. Nafasnya masih terengah engah memandangi pria matang dihadapannya itu.
"Apakah kau haus?" tanya Wirya pada Bening. Bening hanya menganggukkan kepalanya dan menuangkan segelas air dari botol minuman yang sudah disiapkan wanita itu.
Wirya menyerahkan segelas air putih itu, Bening langsung mengambilnya dan meminumnya dalam sekali teguk, leher wanita itu mengalir air yang tumpah dari sela sela bibirnya. Membuat Wirya menahan hasratnya lagi karena pemandangan dihadapannya itu. Dia ingin menjilati air itu tapi dia hanya bisa menelan ludahnya karena rasa dahaga yang tiba tiba menyerangnya.
"Bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Bening sembari mengelap dagu dan lehernya yang basah dengan jempol.
__ADS_1
"Seperti biasa aku memanjat dinding untuk bisa sampai kamarmu,"
"Biasa katamu..." tanya Bening memicingkan mata.
"Ya seperti yang kau dengar, biasanya kau tidur nyenyak dalam dekapanku. Dahulu kau pun seperti itu, tanpa kau sadari, kini kau juga masih sama, nyaman bila bersamaku,"
Muka Bening memerah dia menundukkan wajahnya tapi dia terkejut dengan pemandangan dihadapannya,bajunya telah tersingkap naik hingga kain putih didalamnya terlihat jelas.
Mata Wirya mengikuti arah pandangan Bening. Tapi wanita itu buru buru menarik selimutnya hingga bagian dada.
"Kenapa? kau malu pada suamimu sendiri."
"Aku hanya tidak ingin kita berbuat macam macam," jawab Bening.
Wirya malah tambah menggoda wanita itu lagi. Wajahnya didekatkan pada wajah Bening. Tangan satunya menangkup pipi Bening.
"Jika rindu katakan rindu... mari kita mulai dari awal lagi bersama anak kita merenda mimpi bersama." kata Wirya setengah berbisik, daya tarik pria itu membuat mata Bening terpesona.
Jarak wajah mereka mulai menipis hembusan nafas mereka kini telah menyatu tinggal dua centi lagi. Bening menutup matanya,
Satu, dua, tiga, tapi tidak ada swntuhan apapun dibibirnya.
Wirya masih dalam posisi yang sama memandangnya.
"Aku tahu kau sangat merindukan diriku akuoun seperti itu, pulanglah kepadaku Bening," kata Wirya.
"Apapun yang kau takutkan itu tidak akan terjadi jika kau bersamaku. Takdir itu tuhan yang menentukan tapi apakah kau tidak akan menyesal bila kau hanya memendam cintamu, hingga kematian mengambil orang yang kau miliki.Dan kau tidak sempat bersamanya,"
"Jangan katakan itu, ku mohon jangan katakan itu," kata Bening memeluk tubuh Wirya.
"Jadi berilah hubungan kita kesempatan untuk bersama, aku takut jika perpisahan ini malah bisa membunuhku secara perlahan."
Votenya mana dong...
kalau tidak ada boleh beri hadiahnya
__ADS_1
atau like.. juga boleh..
Dan komen aku selalu menunggunya