
Sebuah kabel menyala oleh api menjalar dengan cepat ke sebuah handphone lawas.
"Awas bom," teriak salah seorang anak buah Zen.
Semua orang berlari keluar rumah tapi berbeda dengan Wirya dia berlari masuk ke dalam rumah dan mencari Bayu di setiap sudut rumah.
"Bayu, ini ayah sayang kau di mana?" panggil Wirya berkali-kali. Sembari berlari cepat meneliti setiap sudut rumah, bertarung dengan waktu.
"Paman ... ," teriak Zen hendak masuk dan menolong Wirya namun anak buahnya menarik Zen keluar dari rumah.
"Biarkan aku membawanya keluar," teriak Zen sambil memberontak.
"Sangat berbahaya, Tuan,'' teriak anak buahnya, mereka menyeret Zen hingga keluar rumah secepat mungkin.
Dan seketika dhuarrr ...
Mereka yang berada di tempat itu terpental akibat tekanan dari bom itu.
Beberapa terluka sedangkan orang-orang yang berjaga di luar rumah mulai masuk ke dalam halaman melihat yang terjadi dan menolong mereka yang terluka.
Kaki semua orang terasa lemas. Zen berjongkok melihat rumah itu hancur dan terbakar. Hati Zen ikut hancur, dia menangis karena tidak bisa menolong Pamannya.
__ADS_1
Roy yang baru masuk ke dalam diberitahu jika paman Wirya masih berada di dalam rumah itu.
Roy mendatangi Zen dan memeluk saudaranya itu.
"Bagaimana kita akan mengabarkan hal ini pada bibik," ucap Zen menyeka air mata dengan lengannya.
"Aku tidak sanggup melihat kesedihan di wajahnya,'' lanjut Roy teringat akan wajah lembut Bening yang terlihat sangat mencintai Wirya.
"Haruskah kita pulang dengan kabar menyedihkan ini dan tidak membawa kembali pulang Bayu," tanya Zen.
Roy pun sama bingung tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
"Brengsek, sebenarnya siapa dalang semua ini!" geram Zen menendang tanah.
"Kau benar tapi kemungkinan itu sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Lihat bangunan itu tidak ada jalan keluar lain, hanya pintu itu satu-satunya jalan keluar yang tersedia," jawab Zen.
Api masih membakar bangunan setengah jadi itu. Mereka tidak berani masuk ke dalam untuk mencari tahu keadaan Wirya. Mereka hanya bisa menanti hingga api itu padam dengan sendiri.
Rombongan polisi datang. Mereka mulai meminta informasi.Roy dan Zen menjawab semua pertanyaan dari polisi dan meminta agar semua pemberitaan hal ini langsung ditutup. Masalah ini tidak boleh sampai tersebar ke masyarakat umum.
Di rumah Wirya, Edo yang sedang mendapat telephon dari seseorang terlihat tegang dan cemas. Matanya tidak beralih dari menatap Bening yang sedang cemas.
__ADS_1
Sara yang tahu jika Edo sedang tidak baik-baik saja langsung menghampirinya untuk tahu kabar apa yang dia terima hingga terlihat sangat khawatir. Dia menaikkan alisnya bertanya pada Edo.
Edo masih mendengarkan suara dari balik handphone itu. Mengusap wajahnya kasar, sesekali mengacak rambutnya. Sikap Edo itu membuat Bening makin khawatir saja. Dadanya sudah berkecamuk tidak karuan. Dan dia masih menahan diri menunggu penjelasan dari kakak iparnya.
"Cari tahu dulu kebenarannya sebelum aku melihatnya secara langsung aku tidak percaya jika adikku telah tiada," kata Edo emosi.
Bening mengatup mulutnya erat. Dadanya mulai terasa sesak. Bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu namun tidak bisa. Hanya buliran bening dari mata yang telah memerah saja yang bisa keluar, menggambarkan kemelut hatinya yang hancur.
Kepalanya digelengkan berkali-kali. Sara yang melihat Bening langsung datang mendekat dan memeluknya.
"Ka-kakak i-itu semu-a tidak benar 'kan?" tanya Bening gagap.
***
Kasih semangat aku dengan memberikan Like dan komennya yah...
pembaca sedikit namun antusias kalian membuatku bersemangat untuk meneruskan cerita ini.
Penasaraankan, Bagaimana akhirnya kisah ini jika Wirya meninggal dunia?
Tetap stay tune dan setia yah... komen2
__ADS_1
neng sri wibowo yang selalu komen dari awal tanks lho